|
|
 |
Nama:
Yustine Apriyanto
Lahir:
26 September 1959
Suami:
Teguh Aprianto
Anak:
Angela Priska Hanindra (17)
Alexander Hans (12)
Karir:
Konsultan kecantikan di Sari Ayu Martha
Model
Perias Pengantin Adat Batak
|
|
Yustine Aprianto
Menjadikan Pengantin Bangga Budayanya
Mengantar pengantin menjalani hari bahagianya dengan kenangan indah dan
menjadikan mereka bangga akan budayanya. Itu sebagian kecil ambisi perias
pengantin Yustine Apriyanto (42). Selain itu, Yustine yang memulai
bisnisnya tahun 1995 tersebut dengan jeli menekuni rias pengantin Batak
yang jarang diminati para rekan seprofesinya.
Budaya Batak itu indah dan istimewa seperti budaya daerah lainnya, namun
para pengantin Batak tidak terlalu memikirkan busana, pelaminan, dan
pernak-pernik lainnya. Yang diutamakan hanyalah makanan saja. Ketika akad
nikah, pengantin cukup duduk di atas tujuh lapis tikar. Mengapa mereka
tidak menampilkan budayanya ketika menikah?" ujar Yustine, perempuan asli
Yogyakarta.
Padahal, sebelumnya Yustine telah lebih dulu menekuni rias pengantin Jawa,
Sunda, dan Betawi. Mengapa memilih Batak? Awalnya, adalah keharusan
mencari pemasukan guna kewajiban membayar para pegawai yang tetap harus
dilaksanakan kendati musim pernikahan sedang sepi.
Dalam perhitungan adat Jawa dan Sunda misalnya, bulan Muharam atau Sura
tidak dipilih untuk melaksanakan pernikahan. Lain dengan bulan Haji yang
sangat ramai pesta pernikahan. Lantas, Yustine melirik adat Batak yang
tidak terlalu ketat dalam memilih bulan agar pemasukan dapat jalan terus.
"Memang tetap ada bulan libur yaitu ketika Ramadhan. Semua libur. Kalaupun
nekat mengadakan pesta, siapa yang mau datang? Orang sibuk beribadah,
berbuka bersama, shalat tarawih, mengaji, dan berkumpul bersama keluarga,"
cetus Yustine, ibu seorang putri remaja Angela Priska Hanindra (17) dan
seorang putra Alexander Hans (12).
Sementara bila dia memilih perkawinan adat Minang, di situ sudah ada
banyak perias dan ahli dekorasi pelaminan yang telah punya nama. Namun,
walaupun memilih adat yang jarang diminati, jalan yang ditempuhnya
tidaklah mulus. Banyak yang meragukan kemampuannya merias pengantin Batak
lengkap dengan pelaminan khas daerah itu.
Apalagi, dia seorang perempuan Jawa tulen, ditambah lagi minimnya
referensi. Untuk itu, Yustine belajar melalui buku, foto, juga mendatangi
anjungan Sumatera Utara di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta
Timur.
Beruntung, suaminya, Teguh Aprianto, yang mantan kontraktor mendukung
impiannya. Ide-ide Yustine ditanggapi dan diterjemahkan suaminya yang
kemudian menyampaikannya ke pegawainya yang asli dari Kudus dan pandai
dalam hal ukir-mengukir.
Kini, Yustine memiliki pelaminan adat Batak Selatan dan Utara lengkap
dengan hiasan kepala kerbau yang terbuat dari styrofoam yang dicat di
atasnya. Untuk pelaminan Batak Utara, warna yang dipakai terbatas merah,
putih, dan hitam dengan motif ukir-ukiran. Sementara, pelaminan Batak
Selatan lebih berwarna-warni dengan diperbolehkannya warna hijau dan
kuning selain merah, hitam, dan putih. Motif pelaminan ini umumnya berupa
bentuk persegi dan wajik.
Menurut Yustine, sebetulnya dalam adat Batak, kepala kerbau itu asli dari
kerbau yang dipotong untuk pesta. Setelah disembelih, kepala kerbau yang
masih meneteskan darah dipajang di atas. Akan tetapi, jika hal tersebut
diterapkan di tempat resepsi, mungkin tamu-tamu akan merasa ngeri. Itu
sebabnya Yustine menggunakan styrofoam untuk membuat kepala kerbau.
Agar pengetahuannya lengkap, Yustine pun kerap kali berkunjung ke Tanah
Batak, mencari berbagai perhiasan yang lazim dipakai pengantin daerah
tersebut. Juga kain songket dan perlengkapan busana lainnya. Kain songket
Batak, kata Yustine, sulit diperoleh. Lebih sering dijumpai kain songket
palembang.
"Pada keluarga kaya, seluruh aksesori pengantin termasuk hiasan kepala
terbuat dari emas sungguhan," ujar Yustine seraya memamerkan bulang,
hiasan kepala untuk mempelai perempuan dan ampu, hiasan kepala mempelai
laki-laki berbentuk topi berwarna hitam.
***
Awal karier Yustine yang datang ke Jakarta pertama kali tahun 1985 adalah
sebagai konsultan kecantikan di Sari Ayu Martha Tilaar yang tugasnya
antara lain mengajar ke perbagai kota. Di situ, Yustine yang telah menjadi
ibu seorang putri merangkap menjadi model untuk keperluan promosi produk.
Sebagai ibu muda yang baru berkeluarga dan belum punya apa-apa, Yustine
terpacu mempelajari banyak hal, termasuk ketika bertugas keliling
Indonesia.
Setelah sembilan tahun bergabung dengan Martha Tilaar, Yustine
memutuskan keluar.
Alasannya, dia ingin memiliki usaha sendiri biarpun kecil dan mempunyai
karyawan. Juga agar lebih leluasa mempelajari berbagai budaya di
Indonesia. Karena kepandaiannya adalah merias pengantin, profesi itulah
yang dipilihnya. Apalagi, untuk profesi itu pada mulanya tidak menuntut
modal besar.
"Saya tidak punya apa-apa. Keuntungan dari merias pengantin saya belikan
pakaian pengantin yang saya jahit sendiri," ujar Yustine mengenang. Kiat
itu terus dijalankan sehingga akhirnya koleksi busananya terhitung lengkap.
Mulai dari busana pengantin, penerima tamu, pagar ayu dan pagar bagus,
among tamu, juga untuk seragam keluarga si pengantin.
Dari situ, Yustine terus mendiversifikasi usahanya dengan menangani
dekorasi pelaminan, tempat resepsi, dan kamar pengantin. Juga mengerjakan
undangan, suvenir, dan foto. Dalam mengerjakan dekorasi pelaminan
contohnya, Yustine tak tanggung-tanggung dengan memajang gebyok antik
untuk pelaminan Jawa.
"Cuma katering dan kebersihan yang tidak saya tangani," tutur perempuan
tinggi langsing berambut pendek itu seraya tersenyum. Lucunya, di tempat
Yustine harga busana pengantin baik dibeli maupun disewa sama saja. Jadi,
para pengantin akhirnya lebih suka membeli busana tersebut.
Kini, ambisi perempuan kelahiran 26 September 1959 itu adalah menampilkan
pelaminan Manado dan memiliki gedung sendiri. "Saya ingin membuat
pelaminan Manado berupa rumah panggung dari kayu, lengkap dengan
lorong-lorong dari bambu dan hiasan nyiur seperti suasana pedesaan dan
daerah pantai di sana," cetus Yustine lagi.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), dari Kompas)
|
|