| |
C © updated 16052004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/al-zaytun |
|
| |
Nama:
Yohanes Surya
Lahir:
Jakarta 6 November 1963
Isteri:
Christina
Anak:
Chrisanthy Rebecca Surya (14)
Marie Felicia Surya (5)
Marcia Ann Surya (6 bulan)
Pendidikan:
Sarjana Fisika UI tahun 1986
Jurusan Fisika College of William and Mary, Virginia, AS hingga mendapat
PhD (1994) dengan summa cum laude
Karir:
Pemimpin pusat pelatihan Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI),
Karawaci sejak ikut Olimpiade Fisika Internasional (1993)
Pemimpin pusat penelitian nanoteknologi dan bioteknologi The Mochtar Riady
Center for Nanotechnology and Bioengineering, Karawaci, Tangerang
|
|
| |
|
|
|
|
Yohanes Surya
Persiapkan Indonesia Raih Nobel 2020
Fisikawan pendidik dan peneliti ini telah berjasa membuka jalan bagi
bangsa Indonesia untuk memasuki fase renaisans. Dia telah merintis jejak
bagi murid-murid cemerlang sekolah menengah Indonesia masuk pada komunitas
fisika pemula antarbangsa melalui Olimpiade Fisika Internasional dan
kompetisi riset fisikawan muda beraras dunia: The First Step to Nobel
Prize in Physics. Ia pun bercita-cita mempersiapkan peneliti Indonesia
meraih Nobel tahun 2020.
Sehubungan dengan cita-cita itu, dia didaulat memimpin pusat penelitian
nanoteknologi dan bioteknologi, dua bidang ilmu di gerai perbatasan, The
Mochtar Riady Center for Nanotechnology and Bioengineering, yang Desember
2004 nanti resmi dibuka di Karawaci, Tangerang.
Peran pembuka jalan itu menutup peluang pria kelahiran Jakarta 6 November
1963 ini berkiprah dalam fisika nuklir, yang ia tekuni di Jurusan Fisika
College of William and Mary, Virginia, AS hingga mendapat PhD (1994)
dengan summa cum laude.
Tahun depan ia bermaksud menjala pelajar berlatar Badui, Kubu, dan Sakai
untuk pelatihan fisika di Jakarta yang akan disertakan dalam olimpiade
fisika tingkat nasional. Tak keliru kalau ia memantarkan diri dengan
Yohanes Pembaptis.
"Bila Yohanes Pembatis mempersiapkan jalan bagi Yesus, maka Yohanes Surya
membuka jalan bagi Indonesia meraih Nobel," katanya.
Menyuntik optimisme adalah bagian dari retorikanya saban mengajar di pusat
pelatihan Tim Olimpiade Fisika Indonesia, Karawaci. Memimpin TOFI sejak
ikut Olimpiade Fisika Internasional (1993), Yohanes Surya berhasil
menyemai 55 pelajar SMU berbagai kota Indonesia (setiap tahun Indonesia
mengutus lima peserta) bertanding fisika yang diadakan di Amerika, Asia,
Australia, dan Eropa dengan hasil mengagumkan.
Sejak pertama ikut, langsung mendapat perunggu, Indonesia tak pernah
berhenti membawa pulang penghargaan dari sana. Yohanes baru lega ketika
tahun 1999 di Padova, Italia, peserta Indonesia mulai mendulang medali
emas dari kompetisi yang menyertakan hampir 100 negara itu.
Sukses itu tak berhenti di sini. Pengalaman mengikuti olimpiade dengan
prestasi membanggakan itu memudahkan Yohanes menghubungi perguruan tinggi
papan atas AS melamar tempat belajar sekaligus beasiswa bagi alumni TOFI.
Tak kurang Universitas Princeton memilih satu orang, Institut Teknologi
Massachusetts (MIT) menerima tiga orang, Universitas Stanford mengundang
satu orang, dan Institut Teknologi California (Caltech) memanggil satu
orang. Belum lagi universitas bagus Amerika lain.
Dua di antaranya sedang dibimbing fisikawan penerima Nobel. Oki Gunawan,
anggota TOFI 1993, kini dibimbing Daniel Chee Tsui di Princeton. "Kalau
sudah dibimbing pemenang Nobel, riset mereka nanti tak mungkin kelas
kacangan," kata dekan Fakultas Sains dan Matematika Universitas Pelita
Harapan ini. "Itu yang membuat saya makin optimistis, Indonesia tak lama
lagi meraih Nobel."
Di dalam negeri, fisikawan yang lulus sarjana di UI tahun 1986 itu dengan
senang hati memenuhi undangan pemerintah daerah hampir semua provinsi
untuk menatar dan melatih guru fisika SLTP dan SMU. Perjalanannya ke
daerah membuka jaringan yang memungkinkannya mengindrai murid pandai untuk
ia rekrut entah buat TOFI entah buat lomba lain. Tahun ini, Septinus
George Saa dari SMU Negeri 3 Waena, Jayapura, Papua, berhasil menjuarai
The First Step to Nobel Prize.
Jaringan dengan daerah itu kemudian membuka jalan baru bagi Yohanes
mencari anak jenius yang tersebar di seantero negeri. Di Yogyakarta ia
menemui Indranu, putra sepasang dosen UGM, yang dalam usia sembilan sudah
akrab dengan persamaan relativitas umum Einstein. Sempat mengalami
kesulitan sebelum bertemu dengan Yohanes, Indranu kini mahasiswa teknik
tahun pertama di UGM tapi, kata Yohanes, "Dia sudah bikin 15 makalah
relativitas umum, kuantum gravitasi, dan superstring yang ia pelajari
sendiri dan dinilai berkelas doktor oleh guru besar fisika Swedia."
Seakan merupakan kehendak sejarah bahwa ia pembuka jalan di jagat fisika,
terbuka lagi kesempatan baginya menjadi fisikawan rombongan pertama yang
membawa ekonofisika, cabang ilmu yang mengawinkan fisika dan ekonomi, di
Indonesia. Bidang ini akan jadi pilihan kajian bagi mahasiswa Fakultas
Sains dan Matematika Universitas Pelita Harapan, yang didirikan tahun 2003
di mana ia duduk sebagai dekan.
Semangatnya menyelenggarakan pelatihan khusus fisika di Karawaci yang
makan waktu satu sampai dua tahun itu bukannya tak mengundang kritik. Guru
besar fisika ITB, Tjia May On, saat Olimpiade Fisika Internasional di
Nusadua, Bali, mengingatkan sukses Indonesia dalam lomba ini tak dapat
dijadikan ukuran keberhasilan pengajaran fisika di sini. Masalahnya,
peserta olimpiade Indonesia mendapat perlakuan khusus dengan latihan ketat,
sementara Amerika-yang tak sesukses Tiongkok atau Indonesia dalam
peristiwa itu-mengandalkan muridnya dari sekolah biasa saja.
Sabtu, 20 Maret lalu Yohanes Surya dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap
dalam Fisika UPH. Dialah fisikawan Indonesia yang masuk jajaran ilmuwan "selebritis"
di sini. Selain dikenal khalayak lantaran kadang muncul di televisi, juga
karena tulisan populernya yang tak terhitung di koran-koran. Penjelasan
singkatnya tentang peristiwa fisika dalam format kartun disiarkan beberapa
koran dan telah diterbitkan sebagai buku.
Sehari-hari bekerja dengan fisika, Yohanes Surya memperistri Christina
yang tidak mendalami bidang ini. Dia sarjana bahasa Inggris. Bertemu
pertama kali di gereja 15 tahun silam, pasangan ini dikaruniai tiga putri:
Chrisanthy Rebecca Surya (14), Marie Felicia Surya (5), dan Marcia Ann
Surya (6 bulan).
Berikut percakapan dengan guru yang luwes bergaul ini.
TENTANG apa pidato pengukuhan Anda?
Ada contoh dari bidang keuangan. Sistem saham yang ruwet didasari oleh
suatu konsep yang dikembangkan tahun 1990an. Namanya pengaturan diri
sendiri. Konsep ini kemudian jadi bahasan utama saya dalam orasi kemarin,
yang ternyata banyak saya jumpai dalam pengalaman sebagai fisikawan
pendidik.
Apa itu pengaturan diri sendiri?
Gagasannya dari tumpukan pasir. Misalkan kita menumpuk pasir. Begitu
mencapai ketinggian dan kemiringan tertentu, pasir yang kemudian kita
tambahkan dari atas tumpukan itu akan berusaha mengatur diri sendiri
sehingga kemiringannya selalu sama dengan kemiringan tadi.
Rupanya ada semacam pengaturan di alam: setelah mencapai keadaan kritis,
suatu sistem akan mengatur diri sendiri. Yang menarik, proses pengaturan
itu mengikuti hukum pangkat. Kalau divisualkan, hukum pangkat itu begini:
beberapa elemen punya nilai tinggi, tapi bagian terbanyak dari elemen di
dalam sistem itu mendadak bernilai kecil. Di alam hukum pangkat ini
menguasai banyak bidang.
Mahasiswa saya bikin tesis mengenai demografi dan menemukan penyebaran
penduduk Indonesia itu mengikuti hukum pangkat. Artinya apa?
Ada pengaturan diri sendiri dalam penyebaran penduduk. Orang akan
mengorganisasi diri menuju tempat yang memberi keuntungan. Tempat seperti
itu penuh dan hanya beberapa jumlahnya di tiap provinsi. Sebagian besar
tempat lain yang sulit mendulang keuntungan langsung sepi.
Berlaku di seluruh daerah?
Ya. Tesis ini menjelaskan mengapa transmigrasi gagal. Begitu kita
memindahkan sejumlah orang ke suatu tempat, mereka akan mengorganisasi
diri. Bila tempat itu tidak menguntungkan, mereka akan kembali. Jadi,
program transmigrasi tak terlalu bagus di sini.
Kecuali kalau dibuat daerah itu menarik dan mendatangkan uang?
Ya, itu mungkin bisa. Hasil pemilu kemarin mengikuti hukum pangkat juga.
Kami sudah bikin analisis bagaimana korelasi antara partai dan jumlah
pemilih. Yang paling tinggi: Golkar dan PDI-P. Perolehan partai lain
langsung drop dan mengikuti hukum pangkat. Mengapa? Karena orang akan
mengatur diri sendiri memilih mana yang menurut pikirannya sesuai dengan
kemauannya.
Kalau diberi kebebasan, dia akan mengikuti hukum pangkat. Kalau ada
rekayasa?
Ha-ha-ha. Itu enggak bisa. Makanya saya bilang, pemilu ini demokratis
karena mengikuti hukum pangkat. Orang mengatur dirinya sendiri. Partai
mana yang menang? Yang paling banyak kampanye dan paling memengaruhi orang.
Mengapa memilih topik ini?
Karena sekarang saya bekerja dalam ekonofisika. Saya mau analisis sosial
itu lebih ke arah sistem kompleks.
Bagaimana menjelaskan pelatihan khusus yang Anda adakan untuk mengikuti
olimpiade fisika dikaitkan dengan konsep mengatur diri sendiri? Amerika
mencomot peserta dari sekolah saja.
Saya sebenarnya hanya memengaruhi siswa supaya dapat mengorganisasi diri
dalam arti, mengatur diri sendiri untuk belajar dengan baik. Di Amerika
kesadaran belajar sendiri sudah begitu besar. Walau enggak disuruh, orang
belajar sendiri.
Di pelatihan itu saya sebetulnya cuma memfasilitasi. Anak belajar sendiri.
Kami kasih buku supaya mereka mengatur diri sendiri dan mencapai hasil
maksimal. He-he-he. Menurut saya, pelatihan itu enggak salah. Sekolah itu
sama saja dengan pelatihan sebab di sekolah orang dilatih juga.
Kapan mengikuti pola Amerika?
Ke depan arah kita akan ke situ. Sekarang saya menulis buku latihan. Enam
dari 16 buku yang saya rencanakan sudah jadi. Sepuluh sedang saya rapikan.
Isinya soal dan penyelesaian bahan yang diujikan di olimpiade, serta soal
mekanika dan elektromagnetik.
Kami akan sebarkan buku yang rencananya selesai tahun 2005 itu ke seluruh
Indonesia. Semua orang bisa dapat, bisa belajar sendiri. Pada saat itu
kompetisinya benaran. Target saya tahun 2006, Indonesia juara dunia. Nanti
kita lihat hukum pangkat akan berlaku sebab setelah juara dunia, saya mau
murid mengatur dirinya sendiri.
Jadi, enggak ada lagi pelatihan?
Tetap ada. Cuma beberapa bulan.
Orangtua anak jenius yang anaknya pernah Anda latih tak setuju Anda
terlalu memaksa anak bekerja keras. Sudah pintar kenapa usaha harus luar
biasa?
Sebab bakat enggak cukup. Harus kerja keras. Saya tidur tiga sampai empat
jam sehari. Saya kerja keras: menulis, bikin video untuk memudahkan
pengajaran fisika, mempersiapkan kuliah, dan merancang soal untuk
pelatihan. Tidur pukul satu. Pukul empat pagi sudah bangun.
Saya melihat ternyata untuk meraih Nobel, enggak perlu pintar. Memang
banyak yang pintar seperti Feynman, Gell-Man, atau Schwinger. Itu kan
jenius. Top-toplah.
Tapi, ada juga yang tak terlalu pintar seperti Masatoshi Koshiba yang
dapat Nobel tahun 2002. Dia itu semula tak diterima di universitas karena
nilainya jelek. Profesor yang menguji kasih rekomendasi untuk dibawa
Koshiba kepada profesor lain. Bunyinya "Saya tak kasih rekomendasi, tapi
kalau Anda mau terima, silakan". Ternyata dia dapat Nobel. Karena kerja
keras. Cerita seperti ini tak hanya dari satu pemenang Nobel.
Yang menarik juga adalah peran orangtua. Kebanyakan orangtua peraih Nobel
itu memberi perhatian kepada anaknya supaya bisa berkembang. Orangtua
Feynman mengarahkannya jadi fisikawan sejak SD. Terus Hooft. Orangtuanya
memberi dia sejak kecil permainan yang mengasah logika.
Daniel Chee Tsui; orangtuanya buta huruf dan tinggal di desa. Mereka
berkorban jual rumah supaya bisa menyekolahkan anak ke luar negeri.
Tapi, Feynman banyak main?
Ya, main waktu senggang. Selagi mahasiswa dan saat meneliti dia bekerja
mati-matian. Belajar sampai pagi. Berpikir tanpa berhenti. Gell-Mann
begitu juga. Menghitung dan menghitung terus, berpikir dan berpikir terus,
sampai menemukan sesuatu.
Saya sering cerita bagaimana orang berpikir terus sampai menemukan sesuatu.
Kalau seorang berpikir terus, menurut fisikawan Helmholtz, dia akan
mengalami tiga fase. Pertama, fase inkubasi. Kedua, fase saturasi. Ketiga,
fase pencerahan. Jadi, setelah jenuh sekali, dia tercerahkan. Pada masa
pencerahan itu bisa keluar ide luar biasa yang bisa terucapkan tanpa sadar.
Gell-Mann menyebut sembarang saja tanpa sadar mengenai isospin pecahan
pada sebuah ceramah di Princeton, padahal itulah yang selama ini dia cari.
Berkat temuan itu dia dapat Nobel.
Saya sadar kalau enggak kerja keras, enggak ada apa-apanya. Kalau saya mau
berarti, harus lebih dari pemenang Nobel itu, dong. Memang bakat bisa
mendorong.
ANDA selalu menyebut tahun 2020, Indonesia meraih Nobel. Kenapa begitu
antusias?
Karena dengan Nobel, Indonesia bisa lebih maju. Coba lihat Pakistan.
Negara itu miskin. Sekarang orang bilang sains di Pakistan itu bagus
karena ada Abdus Salam yang dapat Nobel. Jadi, Nobel semacam simbol yang
akan menarik orang.
Orang Pakistan sekarang tertarik pada fisika karena Salam?
Betul, ada hubungannya. Karena dengan itu, Salam dapat menarik fisikawan
Pakistan yang dia bimbing untuk bekerja dengan koleganya pemenang Nobel
atau fisikawan di berbagai tempat sekelas Nobel.
Maksud Anda membentuk jaringan?
Persis. Seperti kita sekarang. Dengan bertahun-tahun dapat medali di
olimpiade, kita punya tiga mahasiswa S1 di MIT, selain di Stanford,
Caltech, dan Princeton. Hebat-hebat. Nilai mereka tinggi. Saya tanya, "Kok
bisa?" Mereka bilang pelajaran tingkat 1 dan 2 terlalu gampang, jadi ada
yang langsung ambil kuliah semester 9.
Evelyn, angkatan 2002 TOFI, di Stanford sekarang dibimbing Douglas
Osheroff yang dapat Nobel 1996. Dia dipilih karena nilainya terlalu tinggi.
Jadi, murid yang saya lihat bakal dapat Nobel kini diasuh peraih Nobel.
Karena sudah jadi murid peraih Nobel, dia akan kecipratan cara berpikirnya.
Nah, inilah yang kita harapkan dapat Nobel di masa mendatang.
Asuhan Anda pada maju, sementara Anda jadi pelatih. Tampaknya mengorbankan
diri?
Saya mediator, fasilitator, dan merasa diciptakan untuk itu. Kalau Yohanes
Pembaptis menyiapkan jalan bagi Yesus; Yohanes Surya membuka jalan untuk
Nobel. Ha-ha-ha. Saya sudah bahagia dengan posisi ini. Mungkin ini peran
saya. Saya pikir ini panggilan pribadi
Pernah merasa kesepian karena mengurus ini sendiri?
Sebenarnya saya menikmati. Saya tidak sendirian banget. Banyak orang
mendukung. Setiap tahun banyak hal aneh terjadi. Selalu ada yang bantu
menyediakan dana, sejak saya pimpin TOFI tahun 1993 sampai sekarang. Mulai
orangtua murid, Radius Prawiro, Mochtar Riady, sampai Departemen
Pendidikan Nasional yang kini menyerap olimpiade sebagai program nasional.
Sambil itu, saya membuka bidang yang frontier.
Bidang apa itu?
Nanoteknologi, suatu teknologi di mana kita memanipulasi atom atau molekul
untuk menghasilkan produk baru tapi terdepan. Mochtar Riady mengajak saya
membangun pusat riset nanoteknologi dan bioteknologi di Karawaci.
Yang termasuk nanoteknologi di pusat ini adalah terapi genetika dan
manipulasi atom. Ke depan, dengan manipulasi atom ini, orang memperkirakan
dapat mengubah batubara jadi emas sebab dengan mengubah kedudukan
atom-atom pada molekul batubara, ia bisa jadi emas.
Di bidang bioteknologi, nanoteknologi itu mengubah gen-gen. Kita bisa
dapat tanaman yang jauh lebih bagus. Pengobatan kanker sekarang melalui
nanorobot. Di Amerika sudah diusahakan bagaimana robot membawa obat kanker
ke sasaran yang tepat
Kedua bidang ini, nanoteknologi dan rekayasa genetika, sangat frontier.
Mochtar Riady bilang mau mendirikan pusat nanoteknologi. "You mau pimpin
enggak," katanya. Kita mau Indonesia bisa bermain di atas juga. Saya
bilang oke.
Siapa yang akan bergabung?
Saya kumpulin tokoh terkenal di bidang ini dari AS, Jerman, Jepang, dan
pemenang Nobel, Calude Cohen Tannoudji. Saya kontak dengan beberapa teman.
Felix Mesak, orang Indonesia peneliti di Pusat Terapi Kanker Ottawa, yang
menemukan obat kanker. Dia sangat terkenal, penilai untuk jurnal
nanoteknologi yang amat prestisius. Kemudian Sinta Limantara dari Satya
Wacana yang ahli dalam pemanfaatan klorofil dan dapat Hadiah Humboldt dari
Jerman. Juga Kebamoto dari UI.
Bagaimana dengan laboratorium?
Akan dibangun di Karawaci. Laboratorium yang sangat canggih. Mahal, tapi
(Pak) Mochtar sudah siap sebab dia ingin di masa tuanya ingin
menyumbangkan sesuatu buat ilmu pengetahuan. Ini akan jadi tempat buat
orang Indonesia menemukan hal-hal hebat, satu jalan untuk dapat Nobel
entah fisika, kimia, biologi karena ketiga bidang ini jadi dasarnya.
Anak Anda ketularan fisika?
Chrisanthy kelihatannya ketarik sama fisika. Dia siswi SMP, tapi banyak
baca buku fisika universitas.
Anda paksa dia?
Bukan. Mungkin karena banyak ketemu dengan anak-anak olimpiade. Itu
mungkin yang saya sebut tadi self organizing, mengatur diri sendiri.
He-he-he. Jadi, dia kepengaruh. Mungkin pikirannya orang lain bisa, kok
saya enggak bisa. Dia mau belajar, mau tunjukin ke saya.
Anda membimbing dia?
Secara khusus enggak. Kalau ada pertanyaan, saya layani. Kelihatan dia mau
belajar. Yang kedua masih 5 tahun. Mungkin karena self organizing juga,
lihat kakaknya, dia mau belajar juga. Ha-ha-ha. Saya mulai dengan
matematika SD, pelajaran kelas tiga. ►Kompas, Minggu, 16 Mei
2004, Pewawancara: Salomo Simanungkalit
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|