| |
C © updated 16042006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kps |
|
| |
Nama:
Trisutji Djuliati Kamal
Lahir:
Jakarta, 28 November 1936
Profesi:
Komponis dan Pianis
Suami:
Ir A Badawi Kamal
Anak:
Mahendra (47)
- Mahendrani atau Rani (45)
- Paramagita atau Gita (44)
Ayah:
Dokter Djulham Surjowidjojo
Ibu:
BRA Nedima Kusmarkiah
Saudara:
Tripudjo Djuliarso
Pendidikan:
- SD (1947)
- SMP Methodist School, Medan (1950)
- SMA Concorante, Medan (1954)
-Conservatorium Musik Amsterdam, Negeri Belanda (1955)
- Ecole Normale ttt, Paris, Prancis
- Conservatorio de Musica St Caecilia, Roma, Italia (1963)
Karir:
- Mengajar di Sekolah Musik Murni di Medan (1968)
- Resital di Jakarta, Medan, Surabaya, Bandung, Solo (1968- 1976)
- Anggota Asian Composer's League (1974-1980)
- Ketua Ikatan Komponis Indonesia (sekarang)
- Pendiri Lembaga Musik Indonesia Hasil karya antara lain Komposisi
-Musik Pementasan Opera Loro Jonggrang di Roma (1956)
- Pementasan Jubilatedeo untuk Paduan Suara di Roma (1956)
- Membuat naskah musik film Apa Yang Kau Cari Palupi
- Lewat Tengah Malam (1969) Pementasan Balet Gunung Agung (1979)
- Komposisi untuk Piano Tunggal, PT Gramedia, 1983
Karya:
- 200 komposisi, di antaranya: Sungai, Kepergian, Opera Roro
Jonggrang, 10 musik ilustrasi film, lebih 130 piano solo, 2 solo flute,
1 flute dengan piano, 3 solo biola alto, 1 biola alto dengan piano, 1
solo cello, 25 vokal dengan piano perkusi dan vokal Bali, 6 ensemble, 4
trio dan kuartet, 4 paduan suara a cappella, 3 paduan suara dengan
simfoni orkestra, 5 karya simfoni, 1 piano konserto dengan orkestra, 1
piano konserto dengan bumbung Bali, harpa, viola dan cello, 5 musik
sendratari
Alamat Rumah:
Jalan MPR V No. 15, Cilandak, Jakarta Selatan
|
|
| |
|
|
|
|
| TRISUTJI HOME |
|
|
 |
Trisutji Djuliati Kamal
Komponis dan Pianis
Komponis dan pianis kenamaan kelahiran Jakarta, 28 November 1936, ini
telah lebih 50 tahun berkarya dalam dunia seni musik. Trisutji Djuliati
Kamal, lulusan Conservatorio de Musica St Caecilia, Roma, Italia, itu
telah menulis sekitar 200 karya musikal. Di antaranya 130 komposisi untuk piano
telah direkam dalam sepuluh compact disc (CD) berjudul "Complete Piano
Works Series" (1951-2006), yang seluruh dimainkan pianis Ananda
Sukarlan.
Dua dari CD itu diluncurkan 5 April 2006 di The Bimasena Club, Hotel
Dharmawangsa, Jakarta. Album lainnya akan dirilis secara bertahap.
Terakhir tahun 2007, ditandai dengan pementasan sendratari Gunung Agung
yang akan melibatkan musisi Erwin Gutawa dan penata artistik Jay
Subyakto.
Trisutji seperti tak kenal lelah dalam berkarya. Sepertinya makin tua
semakin banyak ide, walaupun tenaganya makin berkurang. Namun,ia
bertekad akan terus mencipta sampai tak bisa lagi. Ia ingin orang bisa
menikmati musiknya.
Di antara 200 komposisi karya musikalnya adalah: Sungai, Kepergian,
Opera Roro Jonggrang, 10 musik ilustrasi film, lebih 130 piano solo, 2
solo flute, 1 flute dengan piano, 3 solo biola alto, 1 biola alto dengan
piano, 1 solo cello, 25 vokal dengan piano perkusi dan vokal Bali, 6
ensemble, 4 trio dan kuartet, 4 paduan suara a cappella, 3 paduan suara
dengan simfoni orkestra, 5 karya simfoni, 1 piano konserto dengan
orkestra, 1 piano konserto dengan bumbung Bali, harpa, viola dan cello,
5 musik sendratari
Dia terpikir membuat dokumentasi auditif setelah Ananda Sukarlan dan
teman-teman lain bertanya kenapa tidak membuat CD karya-karyanya agar
lestari dan publik lebih mengenal dan menikmatinya. Seperti yang sudah
dilakukan komponis Amir Pasaribu, Mochtar Embut, dan lain-lain.
Selama ini nasib 200 karyanya itu berantakan. Bahkan dia sendiri banyak
yang lupa ditaruh di mana. Lalu, dia pun terpaksa kumpulin pelan-pelan
untuk bisa direkam. Untunglah dia punya catatan yang disimpan sendiri.
Namun catatan itu hanya dia yang bisa tahu. Ada yang berupa sketsa,
hanya berupa ide satu atau dua bar. Bahkan dia sendiri mengaku kadang
tidak ingat kalau pernah menulis karya itu.
Untunglah Ananda 'memaksanya' untuk menyelesaikan. Kalau tak dipaksa
tidak akan selesai. Karyanya banyak yang tercecer. Contohnya, Nocturno
yang saya buat tahun 2002. Premier-nya baru 5 April 2006 oleh Ananda.
Kadang ada juga komposisi yang dia tidak suka, lalu tersendat. Ada juga
yang memang belum matang. Dia malas meneruskan, lalu bikin karya lain lain.
Namun suatu hari ketemu lagi dan diterusin lagi.
Titi, panggilan akrabnya, mulai menekuni piano ketika baru berusia
tujuh tahun. Ayahnya, RM Djulham Surjowidjojo, seorang dokter yang mahir
main biola, yang memberi dorongan padanya. Kala itu ayahnya bekerja di
Binjai, Sumatera Utara. Di sana Titi sempat dibimbing oleh guru-guru
piano asal Jerman, Dora Krimke dan L Remmert.
Saat kembali ke Jakarta, 1955, Titi belajar pada Joan Giesen, seorang
musisi dari Belanda. Ia juga sempat berguru pada musisi kenamaan Henk
Badings. Kemudian, selama 12 tahun Titi hijrah ke Eropa, belajar pada
Conservatorium Amsterdam, Ecole Normale de Musique, Paris. Kemudian,
belajar di Conservatorio de Musica St Caecilia, Roma, Italia (1963).
Komposisi pertamanya, Sungai, lahir ketika umur 15 tahun. Kala itu,
Trisutji suka memandangi Sungai Bingai di Binjai. Lalu, ia menggambarkan
filosofi sungai. Mulai titik air, lalu terkumpul menjadi aliran yang
mengalir melalui gunung, lembah, terus membesar dan sampai ke laut. Hal
itu ia ibaratkan sebagai kehidupan manusia.
Kemudian, ia juga menulis Kepergian, yang sering dimainkan sebagai lagu
wajib di YPM. Lagunya sederhana sekali. Idenya juga sederhana, yaitu
kepergian kapal yang meninggalkan pelabuhan pelan-palan dan menjauh.
Tahun 1956, ia menulis Opera Roro Jonggrang. Kala itu, gurunya orang
Rusia, mendorong untuk mencipta itu. Sang Guru memberi ide: Di Indonesia
banyak legenda menarik, kenapa kamu tak bikin.
Pada waktu menulis opera itu, ia sedang belajar dodecaphone, serial
musik dari Arnold Schoenberg. Dia temukan sistem not 12 nada. Tapi ia
tidak menulis opera itu dengan sistem seri. Hanya ada pengaruhnya saja.
Jadi pengaruh Opera Roro Jonggrang itu campuran. Dodecaphone, pentatonik
dan opera lirik. Dalam proses menulis itu, ia temukan gaya sendiri.
Opera itu dipentaskan di Castel St Angelo, tenornya Adi Santosa, orang
Indonesia, seorang diplomat yang hobi nyanyi. Penyanyi soprannya orang
Filipina, yang tak bisa bahasa Indonesia.
Dalam komposisi Ramadhan, Trisutji memainkan dengan cara memetik
dawai piano. Ia memukul dawai, untuk mengejar efek mistik, religius.
"Saya pingin kasih sentuhan atau efek damai. Ada ekspresi yang tak
terwakili jika itu saya mainkan dengan tuts," katanya seperti ditulis
Kompas, 16 April 2006.
Selain itu, Trisutji juga pernah membuat lagu gereja Jubilate Deo. Kala
itu tugas sekolah. Gurunya organis di gereja Episcopal Church di Turino.
Gurunya bilang, "Coba bikin lagu untuk gereja." Itu termasuk tugas, tapi
akhirnya sering dimainkan di gereja. Awalnya, ia merasa susah juga
karena lagu rohani yang ia kenal adalah model Jerman. Namun karena ia
pernah sekolah di Methodist English School di Medan, di mana mereka tiap
hari kami bernyanyi. Jadinya, ia bisa me-rewind sedikit ingatan lama dan
bisalah akhirnya bikin lagu. Namanya Jubilate Deo. Setelah itu berhasil,
ia pun kemudian mendapat tugas membuat opera.
Darah seniman turun dari ayahnya, Dokter Djulham Surjowidjojo, yang
adalah pemain biola dan pelukis. Trisutji anak pertama dari dua
bersaudara. Adiknya, Tripudjo Djuliarso, mendalami instrumen biola tapi
kemudian menjadi pengusaha.
Trisutji tumbuh di lingkungan keluarga Jawa di lingkungan kultural
Melayu di Binjai, Sumatera Utara. Eyangnya dari pihak ibu, berteman
akrab dengan Sultan Langkat. Sang ayah dari keluarga besar Arumbinang
dari Purworejo (Jawa Tengah). Ibu dari ayah Trisutji masih keturunan
Mangkunegaran, Solo. Sedangkan sang ibu, BRA Nedima Kusmarkiah, adalah
cucu dari Sinuwun Paku Buwono X, Solo. Sang ibu adalah anak dari
Pangeran Hadiwidjojo.
Kendati keluarganya tinggal i tengah lingkungan Melayu, namun kultur
Jawa tetap hidup dalam keluarga itu atas didikan Sang Ibu. Sang Ibu
menghidupkan tradisi Jawa, bahkan seperti kerajaan mini di dalam
kerajaan. Trisutji diharuskan pakai kain. Kalau hari minggu atau hari
libur, ia harus pakai kain kebaya. Ke Eropa saja ia masih pakai kain.
Waktu anak-anak, ibunya mengajari mereka berbahasa Jawa dan menulis
dengan huruf Jawa. Setiap hari Sabtu, mereka diharuskan menulis surat
dalam bahasa Jawa kepada Eyang di Solo.
Ia dan adiknya juga diajari tembang dolanan. Mereka pun main
Cublak-cublak Suweng dengan anak-anak pembantu yang dibawa dari Jawa.
Sementara interaksi dengan budaya Melayu juga berlangsung pada saat
bersamaan. Hampir setiap hari mereka ke Istana Langkat. Ibunya dianggap
seperti anak sendiri oleh Sultan Langkat. Hampir Setiap hari mereka
breakfast dengan keluarga Sultan. Maka ia pun sering dengar Serampang
Duabelas dan musik Melayu. Kalau ada tamu, mereka pakai musik Melayu
yang dimainkan dengan biola dan akordeon.
Titi menikah dengan arsitek Ir A Badawi Kamal, anggota keluarga Kamal,
pemilik Kamal Furniture, Jakarta, yang memberinya tiga anak:
Mahendra (47), Mahendrani atau Rani (45), dan Paramagita atau Gita (44).
Dua di antaranya ada yang mengikuti jejak ibunya di bidang musik, yaitu
Rani dan Gita. ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|