| |
C © updated 26072005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/pks |
|
| |
Nama:
Tifatul Sembiring
Lahir:
Bukittinggi, 28 September 1961
Istri:
Sri Rahayu
Anak:
1. Sabriana Sembiring
2. Fathan Sembiring
3. Ibrahim Sembiring
4. Yusuf Sembiring
5. Fatimah Sembiring
6. Muhammad Sembiring
7. Abdurrahman Sembiring
Pengalaman Organisasi:
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS),periode 2005-2010
Pejabat Sementara Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Oktober
2004-April 2005
Ketua DPP PKS Wilayah Dakwah I Sumatera
Humas Partai Keadilan
Pendiri PartaiKeadlan (PK)
Aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII)
Aktivis Yayasan Pendidikan Nurul Fikri, 1990
Aktivis Korps Mubaligh Khairu Ummah
Pekerjaan:
Direktur Asaduddin Press, Jakarta
PT PLN Pusat Pengaturan Beban Jwa, Bali, Madura 1982-1989
Pendidikan:
Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Informatika dan Komputer (STI&K) Jakarta
International Politic Center for Asian Studies Strategic Islamabad,
Pakistan
Alamat Rumah:
Kompleks Pondok Mandala II Blok N-1, Cimanggis, Depok, Jawa Barat
Alamat Kantor:
Kantor Pusat DPP Partai Keadilan Sejahtera
Gedung Dakwah Keadilan
Jl. Mampang Prapatan Raya No. 98 D-E-F
Jakarta Selatan, Indonesia
Telp +62-21-7995425
Fax +62-21-7995433
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
BERITA:
01
02 03 = Tifatul Sembiring
Grand Design Indonesia Versi PKS
Indopos 25-26 Juli 2005: Seperti apa masa depan Indonesia? Paling Lambat
2014 Sudah Terjadi Perubahan, dan Tak Ada Niat Dirikan Negara Islam.
Partai Keadilan Sosial (PKS) segera membuatnya. Gagasan menyiapkan grand
design Indonesia ke depan itu menjadi salah satu agenda utama Musyawarah
Nasional (Munas) I PKS minggu ini di Jakarta.
Inilah petikan wawancara khusus wartawan Jawa Pos - INDO.POS, Tomy C
Gutomo, dengan Presiden partai itu Tifatul Sembiring:
PKS akan membuat grand design Indonesia. Seperti apa itu?
Kami punya suatu gambaran ke depan tentang Indonesia. Di mata PKS,
hal-hal ideal bagi Indonesia adalah sebuah negara yang lebih memiliki
national character, bermartabat, berkeadilan, serta masyarakatnya lebih
sejahtera secara ekonomi. Yang terpenting, kami ingin masyarakat punya
suatu kebanggaan terhadap kebangsaan Indonesia.
Mengapa PKS perlu membuat grand design Indonesia?
Sebenarnya PKS sejak lama merancangnya. Semua bermula dari kondisi
kekinian, yakni perekonomian terpuruk dan terjadi kesenjangan. Di sisi
lain, ada rasa inferior. Tidak ada yang dibanggakan lagi dari bangsa ini.
Malaysia punya grand design 2020 untuk menjadi negara maju. Grand design
PKS punya target waktu?
Dalam munas nanti, kami menyusun langkah-langkah pencapaiannya sampai
2009. (Materinya) akan dibagi dalam sidang komisi, mulai bidang ekonomi,
sosial, politik, hingga budaya.Tapi, memang tidak mungkin tercapai pada
2009. Insya Allah, dalam dua pemilu, kami akan mengarahkan pencapaiannya.
Setidaknya, perubahan akan terjadi dalam 2014.
Pada zaman Orde Baru, Pak Harto pernah melontarkan grand design. Dalam
Pembangunan Lima Tahun (Pelita) VI, kita sudah tinggal landas.
Kenyataannya, rakyat banyak yang tertinggal di landasan. PKS tidak
khawatir mengulangi hal yang sama?
Ini semua harus diperjuangkan bersama-sama. Kita harus yakin bisa
mewujudkannya dalam bentuk konkret. Soal kegagalan tinggal landas di
Pelita VI, banyak faktor yang harus dikaji. Konsepnya sendiri sudah
bagus dan dirancang cukup lama oleh pakar-pakar.
Bagaimana konsep demokrasi PKS?
Saya rasa ini sudah menjadi kesepakatan masyarakat Indonesia untuk
mengambil pola demokrasi seperti sekarang ini. Kekuasaan berada di
tangan rakyat. Koridor seperti itu sudah disetujui rakyat Indonesia.
Pemilihan presiden langsung tetap dipertahankan?
Pemilihan presiden langsung dan pilkada langsung baru pertama digelar.
Saya rasa kita perlu mencoba terus dulu model ini. Terlalu dini untuk
berpikir mengganti sistem pemilihan langsung ini.
Dalam konsep PKS, perlu perubahan jenjang wilayah atau tetap seperti
sekarang, nasional-provinsi-kabupaten/kota?
Kami tidak berpikir untuk mengubah struktur wilayah. Sampai saat ini,
jenjang wilayah seperti itu masih cukup baik.
Soal legislatif, kondisi sekarang sudah cukup baik? Apakah anggota DPR,
terutama DPRD tidak terlalu banyak?
Anggota DPR yang berjumlah 550 orang cukup rasional mewakili 220 juta
rakyat. Begitu juga di DPRD-DPRD, jumlahnya dikomparasikan dengan jumlah
penduduk. Bentuk seperti itu masih layak dipertahankan. Soal kinerja
anggotanya, itu tergantung orangnya sendiri, partai politiknya, serta
masyarakat yang memilihnya.
Keberadaan DPRD provinsi masih diperlukan?
Tetap ada urusan-urusan yang penyelesaiannya harus di tingkat provinsi.
Memang, keberadaan DPRD provinsi masih debatable. Tapi, kalau 423
kabupaten/kota tanpa koordinasi provinsi, saya sulit membayangkannya.
Fungsi DPRD provinsi harus dikembangkan untuk sinergisitas
antarkabupaten/kota.
Tak Ada Niat Dirikan Negara Islam
Basis Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berasal dari aktivis islam
terdidik. Bagaimana cara PKS mengakomodasi kelompok-kelompok minoritas
non muslim dalam grand design Indonesia ke depan yang akan dibahas dalam
munasnya minggu ini? Berikut lanjutan wawancara dengan Presiden PKS
Tifatul Sembiring.
Ada angan-angan membentuk negara Islam?
PKS adalah partai anak muda yang taat konstitusi, koridor demokrasi, dan
negara Republik Indonesia. Itulah yang masih kami pakai sekarang. Tidak
ada niat mendirikan negara Islam di Indonesia. Tapi, kami ingin
mendirikan tatanan madani atau civil society. Konsepnya adalah Piagam
Madinah. Nabi Muhammad pernah mendirikan tatanan masyarakat yang terdiri
atas berbagai kelompok dan golongan. Yakni, Yahudi, Muslim, dan Nasrani
di Madinah. Mereka bisa hidup damai bersama dan mendapatkan keadilan
serta masing-masing bisa tenang beribadah.
Bagaimana dengan negara Pancasila?
Rumusan Pancasila ini tidak konkrit. Pilihan itu bukan dua, Islam atau
Pancasila. Itu pilihan zaman Orde Baru. Kita ingin membangun negara
civil society atau masyarakat madani yang sama kedudukannya di depan
hukum, meski ada perbedaan keyakinan dan tidak boleh anarkis.
Bagaimana pemikiran PKS soal kaum minoritas?
Kalau suatu saat diberi wewenang oleh masyarakat untuk memimpin negara
Indonesia, PKS tetap akan menyejahterakan semua golongan. Tidak hanya
umat Islam. Nabi Muhammad pernah menyatakan, barang siapa yang menzalimi
seseorang yang beragama lain yang tunduk di bawah kekuasaan, dia akan
menjadi musuhku di hari kiamat. Seluruh warga negara mendapat hak yang
sama. Kalau, misalnya, umat non-Islam terpilih menjadi presiden pun, itu
tidak masalah. Silakan saja, asalkan dipilih masyarakat. Tapi, jumlah
penduduk kita kan mayoritas Islam. Dengan sistem pemilihan langsung,
sangat mungkin orang muslim yang terpilih.
Bagaimana konsep ekonomi PKS? Mengapa jarang diungkapkan?
Sebenarnya kami selalu menyampaikannya. Konsep ekonomi yang kami bangun
adalah ekonomi kerakyatan. Kami ingin memajukan ekonomi dengan konsep
mengembangkan jiwa entrepreneurship pada diri bangsa, sehingga menjadi
petarung atau pejuang di bidang ekonomi masing-masing. Dalam tatanan
hubungan antarnegara, volume ekspor tetap harus diperbesar daripada
impor.
Lebih detailnya seperti apa?
Ini sebenarnya masalah kemampuan kita membangkitkan semangat dan
memotivasi masyarakat untuk menjadi entrepreneur. Saya mencontohkan
bangsa Pakistan. Kalau datang ke Jepang, kita akan menemui rumah makan
Pakistan. Di Eropa, kita juga akan menemui rumah makan Pakistan. Mereka
juga menjadi pedagang di Makkah, Madinah, dan lainnya. Pemerintah
Pakistan -yang 80 persen penduduknya buta huruf- sanggup menjadikan
bangsanya berjiwa entrepreneurship yang tinggi. Sementara itu, bangsa
Indonesia yang berpenduduk 220 juta orang yang merupakan pasar yang
besar tidak bisa mengelola potensi tersebut. Intinya, jangan bergantung
pada negara asing dan pinjaman luar negeri.
Ada negara tertentu yang menjadi acuan dalam pembangunan ekonomi,
misalnya Malaysia?
Tidak. Kita harus mengambilnya dari berbagai negara. Mungkin bisa dari
Pakistan, Malaysia, atau China. Mengambil sisi-sisi positifnya. Bisa
juga kita mengambil spirit yang dimiliki Vietnam. Bapak Negara Vietnam
Ho Chi Minh pernah membuat slogan: musuh terbesar kita, Amerika, sudah
bisa kita kalahkan. Sekarang, musuh kita adalah kemiskinan. Kita harus
bisa mengalahkan kemiskinan itu. Indonesia mungkin butuh slogan-slogan
seperti itu.
Soal penetapan kurs, apakah akan tetap dengan model kurs mengambang
seperti sekarang?
Model penetapan kurs mempunyai plus minus. Yang utama, kita perlu
mengontrol devisa dulu. Devisa negara ini amburadul. Di dunia sekarang,
cadangan devisa yang dijamin dengan emas hanya ada di Amerika dan
Inggris. Di Indonesia ini tidak jelas. Cadangan devisa kita memakai
prakiraan perbedaan volume ekspor dan impor. Kita bahkan menyimpan dolar
Amerika untuk dijadikan devisa.
Mestinya seperti apa?
Kalau negara mencetak uang Rp 100 juta, seharusnya negara mempunyai
cadangan devisa senilai Rp 100 juta pula. Misalnya, dalam bentuk emas
senilai Rp 100 juta. Kalau terjadi inflasi, emas dilepas dan uang
ditarik. Di Indonesia, tidak ada cadangan emas. Yang ada mas-Jogja, mas-Solo,
mas-Jember, dan mas-mas sapaan itu. Haha… (dia tertawa). Saya sepakat
memakai emas. Akan lebih stabil. Jangan seperti sekarang, hanya mencetak
uang, tapi tidak ada cadangannya.
Saat ini terjadi kesenjangan, khususnya di NTB, NTT, dan Papua.
Bagaimana PKS meresponsnya?
Kesenjangan sudah merata. Tidak hanya terjadi di NTT, NTB, dan Papua,
namun juga di Aceh, Riau, serta daerah-daerah di Jawa. Di Riau, angka
penderita busung lapar mencapai 11 ribu orang. Di Banten juga banyak. Di
NTT, saya lihat pemerintah daerah sibuk dengan hal-hal yang tidak
substansial. Kesenjangan di daerah lain juga terjadi karena kurangnya
perhatian pemerintah dan solidaritas sesama.
Bisa menerima kalau Bali menjadi daerah otonomi khusus? Juga Papua?
Kalau Bali menjadi otonomi khusus, dasarnya apa? Saya tidak melihat
alasan yang kuat. Berbeda dari Aceh. Otonomi khusus diberikan sebagai
bagian dari penyelesaian konflik. Di Bali, tidak ada konflik yang gawat
seperti di Aceh. Begitu pula di Papua. Kondisinya tidak bisa disamakan
dengan Aceh. Meski di sana juga terjadi konflik, mayoritas penduduk di
Papua sebenarnya dari Jawa. Tidak perlu otonomi khusus di Bali dan
Papua. (tomy c gutomo)
►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|