| |
C © updated 08112004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
|
|
| |
► e-ti/rpr
nzine.co.nz |
|
| |
Nama:
Tahi Bonar Simatupang
Lahir:
Sidikalang, Sumatera Utara, 28 Januari 1920
Meninggal:
Jakarta, 1 Januari 1990
Agama :
Kristen
Isteri:
Sumarti Simatupang Budiardjo
Pendidikan:
-HIS, Pematangsiantar (1934)
-MULO, Tarutung (1937)
-AMS, Jakarta (1940)
-Koninklije Militaire Academie (KMA), Bandung (1942)
-Universitas Tulsa, AS (Doctor Honoris Causa, 1969)
Karir :
-Wakil Kepala Staf Angkatan Perang RI (1948-1949)
-Kepala Staf Angkatan Perang RI (1950-1954)
-Penasihat Militer di Departemen Pertahanan (1954-1959)
-Ketua Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (DGI) (1959-1984)
-Ketua Dewan Gereja-Gereja se-Asia
-Ketua Dewan Gereja-Gereja se-Dunia
-Ketua Yayasan Institut Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (IPPM)
-Ketua Yayasan UKI (Universitas Kristen Indonesia)
-Ketua Majelis Pertimbangan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (MP-PGI)
(1984-sekarang)
Karya :
Karya tulis penting:
Antara Lain: -Soal-soal Politik Militer di Indonesia, 1956
-Pengantar Ilmu Perang di Indonesia, 1969
-Laporan dari Banaran, Sinar Harapan, 1980
-Peranan Angkatan Perang dalam Negara Pancasila yang Membangun, -Yayasan
Idayu, 1980
-Pelopor dalam Perang Pelopor dalam Damai, Sinar Harapan, 1981
-Iman Kristen dan Pancasila, BPK Gunung Mulia, 1984
-Harapan, Keprihatinan dan Tekad: Angkatan 45 Merampungkan Tugas -Sejarahnya,
Inti Idayu Press, 1985
Penghargaan:
Bintang Mahaputera Adipradana (9 November 1995)
Alamat Rumah :
Jalan Diponegoro 55, Jakarta Pusat
|
|
| |
|
|
|
|
==
01
02
03 ==
Tahi Bonar Simatupang (1920-1990)
Sang Jenderal yang Berutang
Mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Perang RI (1948-1949) dan Kepala Staf Angkatan Perang RI (1950-1954),
ini pensiun dini dari dinas militer karena prinsip yang berbeda dengan
Presiden Soekarno. Lalu orang yang selalu merasa berutang ini pun
mengisi hari-harinya menjadi aktivis gereja. Sampai kemudian menjadi
Ketua Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (1959-1984), Ketua Dewan Gereja-Gereja se-Asia
dan Ketua Dewan Gereja-Gereja se-Dunia
Yogya, 19 Desember 1948, dinihari. ''Saya tengah rebahan di dipan dan
belum melepas pakaian, ketika menjelang matahari terbit itu terdengar
suara pesawat berdesingan di udara,'' tutur Simatupang, yang di
belakangan hari menjadi sesepuh Dewan Gereja Indonesia. ''Saya menoleh
ke atas dari jendela, saya lihat pesawat terbang dengan tanda-tanda
Belanda. Ngayogyakarta Hadiningrat, ibu kota Republik pujaan kita, telah
diserang.''
Renungan Simatupang tentang serangan mendadak Belanda atas Yogya di pagi
hari itu kemudian ia tuturkan kembali dalam bukunya, Laporan dari
Banaran: ''Apakah pagi ini lonceng matinya Republik sedang dibunyikan?
Atau apakah Republik kita akan lulus dalam ujian ini?'' Pada saat yang
sama, pertanyaan- pertanyaan itu ia jawab sendiri: ''Itu bergantung pada
diri kita sendiri, kita yang menyebut diri kaum Republiken. Hari ujian
bagi kita telah tiba. Apakah kita loyang? Apakah kita emas?''
Pagi itu juga, tanpa mandi atau sekadar cuci muka, Simatupang -- yang
beberapa hari sebelumnya sibuk sebagai penasihat militer delegasi RI
dalam perundingan-perundingan yang menghasilkan Perjanjian Renville dan
lantas aktif pula dalam perundingan lanjutannya di Kaliurang, 24
kilometer di utara Yogya -- dengan sigap menghubungi kawan-kawan
seperjuangannya untuk menentukan langkah. Keadaan memang gawat. Yogya
jatuh. Presiden, wakil presiden, dan para pemimpin lainnya telah ditawan
Belanda. Seperti prajurit-prajurit yang lain, Simatupang kemudian
bergerilya.
Selama beberapa minggu perang rakyat, sebelum keadaan teratur, Pak Sim
-- panggilan akrab Simatupang -- sering diolok-olok sebagai ''diplomat
kesasar''. Habis, selama itu ia hampir tidak lepas dari setelan celana
abu-abu dan kemeja buatan luar negeri. Bukannya apa-apa, ''Tapi pakaian
itulah yang menempel di tubuh saya ketika berangkat bergerilya,''
katanya. Pakaian itu memang ''seragam'' Pak Sim yang khusus ia kenakan
selama mengikuti perundingan dengan pihak Belanda, di bawah pengawasan
Komisi Tiga Negara.
Di masa Kemerdekaan ia sempat menjadi Kepala Staf Angkatan Perang RI.
Sebelum pensiun, 1959, pangkat terakhirnya letnan jenderal. ''Saya
pensiun oleh karena tidak dapat lagi bekerja sama dengan Presiden
Soekarno,'' tutur Pak Sim dalam bukunya, Iman Kristen dan Pancasila (BPK
Gunung Mulai, 1984).
Pensiun ternyata bukan berarti istirahat baginya. Pak Sim aktif dalam
lembaga pedidikan (sempat menjadi Ketua Yayasan dan Pembinaan Manajemen,
misalnya) dan dalam organisasi keagamaan. Ia menjalani kehidupan
reflektif di DGI (Dewan Gereja-Gereja di Indonesia) -- sekarang PGI (Persekutuan
Gereja-Gereja Indonesia). ''. di DGI ., mungkin saya akan bisa
memberikan sumbangan yang kecil dalam pengembangan landasan-landasan
etik teologi bagi tanggung jawab Kristen di suatu masa .,'' kata Pak Sim.
Oleh Th. Sumartana, intelektual muda dari kalangan Kristen, Pak Sim
disebut, ''Teoretikus oikumenis pertama yang lahir dari lingkungan
gereja-gereja di Indonesia setelah Kemerdekaan.
Pak Sim lahir sebagai anak kedua dari tujuh bersaudara, di tengah
keluarga dengan tradisi Gereja Lutheran yang saleh dan tetap kuat
memegang adat Batak. Ayahnya, Simon Mangaraja Soaduan Simatupang,
terakhir bekerja sebagai pegawai PTT. Pak Sim betah berlama-lama membaca,
atau menulis sesuatu, dan selalu tidak lepas dari kaca mata. Ia ayah
empat orang anak, satu di antaranya telah meninggal. Istrinya, Sumarti
Budiardjo, kebetulan adik kawan seperjuangannya, Ali Budiardjo. Pak Sim
dan Bu Sumarti sudah mulai akrab sewaktu berlangsung Konperensi Meja
Bundar.
Pak Sim masih setia melakukan lari pagi, dan selalu minum air putih
sesudahnya. ► mlp
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|