| |
C © updated 27102006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Dr Syamsul Arifin, MSi
Lahir:
Agama:
Islam
Pekerjaan:
Kepala Pusat Studi Islam dan Filsafat Unmuh Malang
|
|
| |
|
|
|
|
| SYAMSUL HOME |
|
|
 |
OPINI: Syamsul Arifin
Islam Radikal Memang Ada Islam radikal atau Islam garis
keras tidak pernah berhenti dibicarakan. Kali ini genre Islam tersebut
kembali memantik kontroversi menyusul pernyataan Menteri Pertahanan
Juwono Sudarsono tentang adanya partai Islam yang disusupi kelompok
Islam garis keras.
Pernyataan Juwono itu mengundang reaksi, terutama dari tokoh parpol
Islam. Sebut misalnya, Bursah Zarnubi, ketua umum Partai Bintang
Reformasi, yang menganggap Islam radikal tidak ada. Dia mengatakan,
"Islam itu satu, tidak ada yang kiri, tidak ada yang kanan. Islam ya
Islam." (Jawa Pos, 9/10/2006)
Meski Juwono memberikan klarifikasi, tidak berarti perbincangan tentang
Islam radikal surut. Ketika membuka Maha Sabha IX Parisada Hindu Dharma
Indonesia di Sasana Langen Budaya Taman Mini Indonesia Indah, Wakil
Presiden Jusuf Kalla mengajak masyarakat memerangi radikalisme di
Indonesia (Jawa Pos, 16/10/2006).
Perbincangan seputar Islam radikal, Islam fundamentalis, Islam garis
keras, atau nomenklatur lain yang mengandung pengertian sejenis tidak
pernah sepi dari kontroversi sebagaimana reaksi terhadap pernyataan
Juwono. Kontroversi memang wajar muncul karena nomenklatur Islam radikal
atau yang sejenisnya mengisyaratkan makna lain yang cenderung
bertentangan dengan makna Islam sendiri.
Dalam kesadaran kolektif masyarakat muslim, Islam telanjur dipahami
sebagai agama perdamaian, ramah, dan anti kekerasan. Sementara itu,
Islam radikal mengandung makna sebaliknya, yakni kekerasan. Tentu
masyarakat muslim menolak bahwa agama yang dipeluknya dicitrakan dengan
kekerasan.
Reaksi yang sama dikemukakan tokoh-tokoh parpol Islam. Sebab, jika ada
tengara bahwa parpol Islam disusupi gerakan Islam radikal, parpol
tersebut pasti identik dengan kekerasan.
Apakah salah jika mengatakan Islam radikal ada? Keberadaan Islam radikal
di Indonesia tidak bisa diingkari. Fenomena Islam radikal sebenarnya
telah lama muncul di Indonesia. Pada zaman Orde Baru, gerakan Islam
radikal menjadi kekuatan perlawanan yang sangat merepotkan pemerintah.
Berbagai upaya ditempuh pemerintah untuk melumpuhkan sel-sel gerakan
Islam radikal. Di samping menempuh upaya persuasif, pemerintah tidak
segan-segan menggunakan kekerasan.
Meski pemerintah secara sistematis berusaha melumpuhkannya, tidak
berarti Islam radikal betul-betul musnah. Islam radikal bisa dikatakan
bernyawa seribu. Satu nyawa dimatikan, nyawa-nyawa lain masih ada. Nyawa
Islam radikal yang paling utama adalah ideologi dan jaringan antarsel
yang kadang-kadang sulit ditembus, bahkan oleh anggotanya sendiri.
***
Perubahan iklim politik di Indonesia menyusul runtuhnya rezim Orde Baru
pada 1998 ternyata menjadi momentum bangkitnya gerakan keagamaan baru
(GKB) di luar kelompok arus utama (mainstream) semacam Muhammadiyah dan
NU.
Gerakan keagamaan baru itu mengusung ideologi Islam sebagai agama publik
(public religion). Ideologi semacam itu sebenarnya telah melekat pada
Muhammadiyah dan NU. Tetapi, pada GKB, Islam publik memperoleh penekanan
pada sisi bentuk (form). Jika Muhammadiyah dan NU mengabaikan bentuk
formal dalam menerjemahkan nilai-nilai Islam universal, GKB justru
berusaha melakukan objektivikasi Islam secara formal.
Secara instrumental, perjuangan GKB terwadahi ke dalam dua jenis
organisasi. Pertama, organisasi politik (Islam). Kedua, ormas keagamaan.
Pada bentuk yang terakhir itulah, nuansa radikal GKB tampak begitu
menguat. Radikalisme GKB yang berbentuk ormas terlihat pada caranya
dalam memahami doktrin agama dan strategi untuk mewujudkan cita-cita
ideologinya.
Dalam memahami doktrin agama, di satu pihak kelompok Islam radikal
cenderung skriptual atau harfiah, sedangkan di pihak lain menolak
penafsiran rasional dan kontekstual. Bagi mereka, Islam adalah yang
tersurat pada makna harfiahnya.
Di luar itu, bukan Islam. Kabarnya, Amrozi menolak eksekusi dengan cara
ditembak karena dianggap bertentangan dengan syariat Islam. Padahal,
pada zaman nabi, belum ada senjata api.
Pemahaman yang demikian berlanjut pula pada penolakan terhadap segala
sesuatu yang tidak memiliki preseden dalam sejarah Islam. Demokrasi dan
negara bangsa beserta tata aturan di dalamnya ditolak karena tidak ada
presedennya dalam Islam.
Dalam konteks itu, bisa dimaklumi adanya agenda yang disebut Hizbut
Tahrir Indonesia (HTI) dengan Menyelamatkan Indonesia dengan Syariah.
Agenda itu, rupanya, menuai respons konstruktif di beberapa wilayah.
Setidaknya sudah ada 20 wilayah di Indonesia yang menerapkan Perda
Syariah.
Banyak kalangan yang mengajukan hipotesis, Perda Syariah mungkin hanya
sebagai epilog atau pembuka jalan bagi terwujudnya agenda yang lebih
besar. Hipotesis itu bisa saja ditolak. Tetapi, tidak tertutup
kemungkinan memperoleh pembenaran.
HTI, misalnya, secara terang-terangan terus mewacanakan daulah khilafah
sebagai alternatif dari negara bangsa yang dinilai sebagai produk
sekuler. Hanya dengan daulah khilafah, menurut HTI, syariah Islam bisa
diterapkan secara efektif.
***
Dari paparan di atas, bisa disimpulkan, Islam radikal memang ada.
Kehadiran Islam radikal merupakan kelanjutan dari watak Islam yang
multitafsir. Lahirnya Islam radikal, selain karena faktor luar, juga
dipengaruhi cara pemahaman terhadap Islam. Dari cara pemahaman yang
berbeda pula, Islam tampil penuh warna-warni.
Bagaimana mungkin kita mengatakan Islam itu satu, kalau kenyataannya ada
Muhammadiyah, NU, Persis, PKS, PKB, PBB, PBR, dan sebagainya. Itulah
realitas sosiologis Islam yang tidak terbantahkan meski bersumber dari
realitas teologis yang sama.
Lalu, bagaimana masa depan gerakan kelompok Islam radikal. Dari
investasi yang dilakukan, katakanlah seperti rekrutmen serta
keberhasilan yang diraih saat ini, Islam radikal akan mengalami
penguatan pada sisi basis sosialnya.
Yang menarik, basis sosial Islam radikal diperkuat pula oleh kaum muda
yang berlatang belakang Muhammadiyah dan NU. Mereka melakukan konversi
dan migrasi setelah merasa tidak menemukan apa yang mereka cari di
Muhammadiyah dan NU. (Indopos, Jumat, 27 Okt 2006)
►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|