| WAWANCARA MTI 24 |
|
|
 |
Probosutedjo
Air Mata Pak Harto
WAWANCARA 02: MTI: Apa pandangan Pak Harto mengenai
keadaan terbaru bangsa saat-saat terakhir ini?
PROBO: Dia mengatakan mengapa barang-barang serba susah, keadaan
menjadi begini, lapangan kerja tidak tersedia. Barang-barang sudah tidak
terbeli oleh rakyat. Sebetulnya mahal sih tidak tetapi tidak terbeli
karena rakyat tidak punya duit, pekerjaan tidak ada.
Koran tadi pagi menulis kemiskinan di Indonesia sudah mencapai 54
persen. Itu sesungguhnya bukan-lah jumlah orang miskin yang sebenarnya.
Sebab persentase itu diperoleh hanya diukur berdasarkan kemampuan orang
membayar di rumah sakit.
Jadi kemiskinan itu luar biasa sekali. Sebelum jaman Pak Harto besarnya
36 persen, pada masa Pak Harto berhasil berkurang jauh sekali. Nah
sesudah Pak Harto lengser kemiskinan naik lagi menjadi 36 persen, dan
sekarang semakin naik menjadi 54 persen. Itulah keadaannya.
Membaca berita-berita seperti itu, Pak Harto pasti akan sedih. Kok makin
sulit saja keadaan bangsa ini, pikirnya.
Sewaktu Pak Harto menonton televisi melihat ada rakyat mati busung lapar
dan banyak orang antri minyak tanah, Pak Harto sampai menangis. Itu
betul, saya melihat sendiri seperti itu. Dia betul-betul sedih, kok
semua jadi begini.
Jadi bukan Pak Harto yang bicara tapi memang betul-betul saya yang
melihat seperti itu. Ia betul-betul sedih. Pak Harto menangis melihat
keadaan Indonesia yang makin miskin.
MTI: Sudah sangat seekspresif itukah Pak Harto, tidak hanya bersedih
lagi melainkan sudah sampai menangis meneteskan air mata?
PROBO: Ya, tidak hanya bersedih tapi sudah sampai menangis melihat
kejadian-kejadian ini.
Begitu juga mengenai Pilkada. Dulu sebenarnya itu sudah direncanakan
juga. Tapi sudah dengan perhitungan kalau dilaksanakan pasti muncul
keributan. Karena di Indonesia demokrasi belum bisa diterapkan secara
liberal, seperti yang terdapat di Amerika dan negara-negara Eropa lain.
Di sana memang dilaksanakan pemilihan-pemilihan kepala daerah. Tetapi
itu pun tidak sampai mendetail hingga pemilihan di kabupaten dan
sebagainya.
Sekarang pemilihan sudah sampai ke hal yang sekecil-kecilnya. Padahal
rakyat masih banyak yang buta huruf, miskin. Orang miskin gampang
dibayar, siapa yang kasih duit itulah yang dicoblos. Kejadian seperti
inilah yang terjadi di Indonesia. Kita ini mengapa kok tidak mau
memelajari hakikat sesuatu keputusan, yang mestinya dipertimbangkan
dulu.
Tadi barusan saya mendapat cerita menarik dari seorang teman yang punya
pabrik pakan ayam. Suatu ketika Menteri Pertanian yang sekarang
memberitahukan kepada Charoen Pokh Pahn, investor asing Thailand pemilik
pabrik pakan ayam terbesar di Indonesia, menterinya mau datang
berkunjung. Charoen kemudian memberitahukan kepada asosiasi pakan ternak
dan asosiasi peternak ayam. Karena menteri yang mau datang, Charoen
memesan makanan dari perusahaan katering hotel Hilton. Katering lalu
mempersiapkan makanan menteri dan rombongan.
Rombongan Mentan tiba dengan membawa makanan dalam kotak. Dia tidak mau
memakan makanan yang disediakan Charoen. Akhirnya pengusaha-pengusaha
ternak ayam dan pabrik pakan itu makan nasi kotak yang dibawa menteri.
Makanan katering yang begitu banyak tidak dimakan.
Kalau dipikir-pikir, walau hanya untuk nasi kotak toh keluar juga uang
departemen. Apa salahnya kalau makan di situ asalkan jangan terpengaruh,
jangan sampai kena suap, ataupun jangan sampai memberi fasilitas kepada
pengusaha peternak ayam itu.
Di situlah cara berpikir yang kurang panjang. Seakan-akan bersih tidak
mau menerima pemberian padahal untuk makan di situ saja. Kan supir-supir
dan pegawai-pegawai pertanian jarang makan yang enak. Itu makanan dari
Hotel Hilton, kan enak semua, tapi mengapa tidak mau. Kalau kembali ke
makanan sederhana begitu ngapain kita membangun.
MTI: Khusus mengenai berita tentang Pilkada, mengapa Pak Harto sampai
menitikkan air mata saat menyaksikannya di televisi?
PROBO: Karena rakyat kita ini terbukti belum matang, beliau prihatin
sekali rakyat belum matang. Setelah seorang kepala daerah terpilih
nyatanya yang lain tidak puas juga.
Inilah yang menunjukkan kualitas bangsa ini masih rendah, masih perlu
dididik. Demikian pula pemimpin-pemimpinnya perlu di-reeducated lagi.
Karena memang kita ini masih ketinggalan.
Di luar negeri bagaimanapun pendidikan diutama-kan. Jepang bisa maju
karena pendidikan. Di sana pendidikan didukung pemerintah sepenuhnya.
Mestinya perlu 50 persen dari anggaran belanja untuk pendidikan.
Tadi pagi saya mendengar Mendiknas ngomong, memperingatkan kepada
mahasiswa jangan salah memilih perguruan tinggi. Kok dia memperingatkan
begitu? Bukankah yang berkewajiban membenahi perguruan tinggi itu
Menteri Pendidikan. Dia memperingatkan supaya jangan salah pilih,
diiklankan tiap hari, itu gimana, lucu dia itu.
Pemerintah kita ini belum memerhatikan pendidikan. Saya ingat, sewaktu
menjadi guru di Pematang Siantar sama di Serbelawan, itu orang Batak
kalau menyekolahkan anaknya dengan segala macam usaha. Banyak orangtua
murid yang sering datang sama saya, anjangsana begitu, sering
ngomong-ngomong. “Pak, ini anak saya supaya maju bagaimana caranya saya
sudah korbankan segala sesuatunya untuk membiayai anak saya supaya
menjadi pintar. Kalau perlu sawah pun saya jual untuk membiayai
sekolahnya.”
Jadi segala-galanya dilakukan orangtua untuk biaya pendidikan anaknya.
Pemerintah kita belum memikirkan begitu. Mestinya pemerintah memikirkan
bagaimana supaya bangsa ini menjadi pintar. Makanya menteri pendidikan
kita kalau orang Batak bangsa ini maju ya. Artinya, mengerti bahwa
pendi-dikan itu adalah merupakan induk investasi yang paling besar dan
segala sesuatunya.
Indonesia kurang maju pembangunannya karena pendidikan diabaikan, kurang
dapat perhatian. Sekarang anggaran pendidikan katanya Rp 40 triliun, ini
untuk sekian juta siswa, apa cukup, artinya sama dengan 4 miliar dolar
AS. Jadi memang tidak ada artinya untuk pendidikan.
Saya ingat waktu sekolah sampai ke SMP buku-buku dikasih cuma-cuma. Naik
kelas buku baru diserahkan lagi tanpa beli. Sekarang tidak demikian.
Pemerintah tidak menyusun kurikulum supaya setiap siswa tidak perlu
memikirkan buku-bukunya.
Yang paling merusak nasionalisme lagi sekolah-sekolah asing sekarang
merajalela. Dulu itu tidak boleh sebab nasionalismenya tidak ada. Bukan
cuma perguruan tinggi asing, tingkat SD pun sudah ada. ►mti/crs/ht/sh/sp,ms
=============================================
Probo Sering Kritik Pak Harto
MTI: Sewaktu Pak Harto, berkuasa Pak Probo sering sekali melontarkan
kritik-kritik pedas,
termasuk peringatan agar tak bersedia lagi dicalonkan menjadi Presiden.
Itu pura-purakah atau sungguh-sungguh?
PROBO: Banyak orang yang mengatakan itu pura-pura. Tapi benar-benar
waktu itu bukanlah pura-pura. Karena saya selalu streng. Saya sebutkan
bahwa saya menyadari Indonesia ini didirikan oleh pejuang-pejuang
kemerdekaan yang ingin meningkatkan kesejahteraan rakyat, khususnya
pejuang-pejuang itu sendiri.
Kalau sampai nanti para pejuang tidak bisa menikmati hasil pembangunan
mereka akan sakit hati. Kalau sakit hati artinya mereka nanti akan
mengadakan perlawanan terhadap pemerintah. Kalau sampai terjadi
perlawanan akhirnya akan rusak sendiri. Itulah akhirnya maka saya berani
mengkritik itu.
Saya sering dimarahi dan sering beberapa hari, kalau saya datang ke sana
tidak ditegur didiamkan begitu saja. Jadi misalnya kursinya seperti
segitiga begitu, saya duduk sebelah sana, Pak Harto di sini lalu ada Bu
Harto, dia bisa tidak mau melihat kepada saya karena marahnya saya
kritik. Jadi saya juga diam saja. Tidak ditegur biar saja saya lalu
menonton televisi saja. Begitu terus lalu setelah Pak Harto pergi saya
masih saja menonton televisi datanglah Bu Harto. Dan nantinya Bu Harto
cuma ketawa saja begitu.
Jadi saya sering kali ditegurnya, “Kamu itu mengeritik menteri seenaknya
saja. Menteri itu kan orang kepercayaan saya. Kamu mengeritik menteri
berarti mengeritik saya.” “Ya, nggak begitu Mas,” saya bilang.
“Maksudnya saya menteri itu jangan sampai berbuat salah, begitu.”
Waktu itu sering-sering saya didiamkan saja. Menteri-menteri jamannya
Pak Harto sama saya juga agak segan tidak berani berbuat macam-macam
sehingga kalau saya mau ketemu menteri, menteri itu pasti langsung mau
menerima. Karena tahu saya tidak pernah minta fasilitas tapi akan
menyampaikan informasi-informasi yang penting. ►mti
***Majalah Tokoh Indonesia |