| |
C © updated 31052006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama:
H. Muhammad Soeharto
Lahir:
Kemusuk, Argomulyo, Godean, 1 Juni 1921
Jabatan Terakhir:
Presiden Republik Indonesia (1966-1998)
Alamat:
Jalan Cendana No.8, Menteng
Jakarta Pusat
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
Litbang Kompas
Politik Soeharto terhadap Militer
Sudah menjadi pengetahuan umum, militer di Indonesia yang menjelma dalam
Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI)-kini Tentara Nasional
Indonesia (TNI) plus Polisi Republik Indonesia (Polri)-adalah satu
komponen negara yang memiliki nilai politis dan strategis tersendiri.
Meskipun senantiasa menampilkan citra solid dan independen, namun bukan
rahasia lagi dalam tubuh lembaga militer tersebut hubungan di antara
berbagai kelompok kepentingan di dalamnya tidak selalu berjalan harmonis.
Fenomena perpecahan kelompok di dalam tubuh TNI dan Polri tidak hanya
terjadi sekarang saja. Sebelumnya pun intrik internal senantiasa terjadi.
Pergulatan internal ABRI terjadi pula pada masa Soeharto. Satu babak
masa kritis bersejarah dalam rentang waktu tahun 1975 hingga 1983
tersebut terekam dalam karya monografi David Jenkins yang kemudian
dibukukan.
Sekelumit tentang bukunya, Jenkins melakukan penelitian resmi terhadap
ABRI dan hubungannya dengan Soeharto selama 14 bulan, yaitu antara tahun
1981-1982; tetapi jauh sebelum itu ia sudah memiliki pengalaman pribadi
dengan birokrasi Indonesia ketika bertugas menjadi koresponden Far
Eastern Economic Review pada tahun 1976-1980.
Sejumlah orang penting, baik dari kalangan sipil maupun militer-yang
aktif ataupun yang sudah pensiun-menjadi narasumber dari penelitian
tentang sepak terjang politik ABRI di Indonesia ini. Beberapa di antara
mereka adalah Ruslan Abdulgani, Sabam Siagian, dan Mohammad Natsir (sipil);
Jenderal AH Nasution, Letnan Jenderal HR Darsono, Jenderal (Pol) Hugeng
Imam Santoso, Letnan Jenderal Ibnu Sutowo, Jenderal Sumitro, Letnan
Jenderal TB Simatupang (purnawirawan ABRI); dan Jenderal LB Murdani,
Jenderal M Jusuf, Letnan Jenderal Alamsjah Ratu Perwiranegara, Jenderal
Supardjo Rustam, dan Jenderal Yoga Sugama yang masih aktif berdinas di
kemiliteran ketika itu.
Dalam bukunya Jenkins menyimpulkan, sampai dengan tahun 1980 secara
garis besar ABRI sedikitnya terbagi dalam dua kelompok besar. Pertama,
yaitu para pejabat teras ABRI yang memiliki kedekatan khusus dengan
presiden dan mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam pemerintahan.
Dalam pengejawantahannya, kelompok ini mengintervensi kehidupan
masyarakat dengan menduduki posisi penting dalam tatanan
sosial-politik-ekonomi masyarakat dalam bentuk kekaryaan, seperti
menjadi menteri, duta besar, anggota dewan perwakilan rakyat, komisaris
atau direktur badan usaha milik negara (BUMN), bankir, rektor
universitas, gubernur, bahkan sampai tingkat yang lebih rendah lagi
menjadi bupati. Kelompok ini juga mendukung hubungan mesra ABRI dengan
Golongan Karya (Golkar).
Kelompok kedua adalah para pejabat dan perwira yang menginginkan agar
ABRI dapat berdiri di atas semua golongan, tidak berpihak, dan menjadi
pengayom bagi seluruh lapisan masyarakat. Tidak menjadi pengecualian,
ABRI tidak ditolelir menitikberatkan dukungannya terhadap Golkar, partai
politik terbesar di Indonesia yang menjadi tumpuan pijakan kekuasaan
Soeharto.
Perbedaan pendapat di antara para anggota ABRI ini berlangsung cukup
lama dan semakin meruncing, ketika Jenderal M Yusuf menjabat sebagai
Panglima ABRI. Sejak akhir tahun 1978 hingga awal tahun 1980, Jusuf
mengkampanyekan manunggalnya ABRI dengan rakyat. Artinya, ABRI menjadi
bagian dari rakyat dan tidak memihak satu golongan tertentu saja.
Situasi demikian sebenarnya menjadi ancaman, tidak saja bagi para
pejabat teras ABRI yang menikmati kursi empuk, tetapi juga terlebih lagi
bagi Soeharto dan kelanggengan kekuasaannya yang selama ini turut
dijamin oleh ABRI melalui dukungannya yang begitu besar terhadap Golkar.
Menyadari hal tersebut, Soeharto tidak serta merta menghentikan upaya
sekelompok perwira yang ingin membawa ABRI menjadi satu kekuatan negara
yang netral, namun memotongnya secara halus. Maret 1980, Soeharto dalam
pidatonya di Pekanbaru, Riau, mengimbau agar ABRI memilih "teman sejati"
yang sungguh-sungguh membela Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD)
1945. Secara implisit Soeharto telah mengultimatum ABRI agar tetap
mendukung Golkar. Sebagai politisi, ia sangat piawai menggunakan
simbol-simbol politik dan mempolitisir ABRI guna tetap menjaga
kekuasaannya. ABRI pun tidak berkutik terhadap taktik Soeharto.
Mengiringi keputusan Soeharto, sejumlah pejabat teras ABRI yang termasuk
kelompok yang menginginkan kenetralan ABRI dicopot, seperti Widodo
digantikan Poniman sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).
Namun, buku yang diterbitkan pertama kali tahun 1984 dalam bahasa
Inggris tersebut tidak sempat menjangkau masyarakat Indonesia secara
luas karena Agustus 1986 Kejaksaan Agung melarang peredarannya. Bisa
jadi keputusan pelarangan itu tidak sekadar karena karya Jenkins
menyoroti bagaimana posisi dan hubungan Soeharto dengan kalangan militer
semata, namun tidak tertutup kemungkinan juga karena "dosa" Jenkins
terhadap Soeharto dan kroninya yang tercipta empat bulan sebelumnya.
David Jenkins dalam kapasitasnya sebagai wartawan The Sidney Morning
Herald, salah satu koran Australia, pada 10 April 1986 menulis dua
artikel dalam harian tersebut yang dinilai mendiskreditkan Soeharto,
presiden Republik Indonesia. Tulisan tersebut berisi antara lain kecaman
terhadap berbagai kebijakan presiden. Diindikasikan pula Soeharto
melakukan praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), menerima
upeti-upeti dari konglomerat sebagai pampasan atas fasilitas yang
diberikan, dan memiliki kekayaan yang tidak sedikit jumlahnya.
Dalam pandangan Jenkins, Soeharto mempunyai kemiripan dengan Ferdinand
Marcos, mantan presiden Filipina yang digulingkan people power karena
korupsi. Di dalamnya menyinggung pula keberadaan first lady Tien
Soeharto yang disejajarkan dengan Imelda Marcos.
Meskipun menuai kecaman karena dinilai menghina Kepala Negara Republik
Indonesia, namun Jenkins tidak berniat untuk menarik kembali dan tidak
menyatakan penyesalannya atas tulisan itu. Akibat terbitnya pemberitaan
tersebut, Pemerintah Indonesia sempat memboikot para wartawan Australia
yang bertugas di dalam negeri dan mengecam Pemerintah Australia, karena
kelalaiannya dalam mengontrol pemberitaan pers. Padahal, menurut Bill
Hayden, Menteri Luar Negeri Australia ketika itu, pers di Australia
memang mempunyai kebebasan mutlak dan tidak dicampuri sama sekali oleh
pemerintah. Apa yang ditulis pers bukan berarti sama dengan sikap
pemerintah. (Litbang Kompas, Sabtu, 8 Juni 2002) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
` |