| |
C © updated 04042004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/repro |
|
| |
BIODATA
Nama:
Ir. H. Salahuddin Wahid
Lahir:
Jombang, 11 September 1942
Agama:
Islam
Jabatan:
:: Pengasuh Pesantren Tebuireng
Alamat:
Jalan Tendean No. 2C, Jakarta Selatan.
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
BERITA:
01
02
03 =
Salahuddin Wahid
Puasa dan Kejujuran
Hadis Riwayat An Nasai, Baihaqi, Ibnu Huzaimah, dan Thabrani, dari Abi
Ubaidah RA: "Saya mendengar Rasulullah bersabda, ’Puasa adalah perisai
selama yang bersangkutan tidak merusak.’ Lalu ada yang bertanya, ’Dengan
apa merusaknya?’ Jawab Rasulullah SAW, ’Dengan berbohong atau bergunjing.’"
Jadi, kejujuran adalah salah satu tujuan dan kunci keberhasilan puasa
kita. Kita pun menjalani puasa Ramadhan dengan penuh kejujuran. Tidak
ada orang yang memulai harinya dengan makan sahur, lalu di luar rumah
dia secara sembunyi-sembunyi makan atau minum. Tentu kejujuran itu
dijaganya tidak hanya dalam makan dan minum, tetapi juga dalam hubungan
fisik suami istri.
Mengapa kita bisa menjaga kejujuran dalam masalah dan minum serta
hubungan suami istri itu yang sifatnya personal, tetapi tidak (kurang?)
bisa menjaga kejujuran dalam masalah lain yang juga menyangkut (merugikan)
kepentingan orang lain? Padahal, setelah Indonesia merdeka, kita telah
mengalami lebih dari 60 kali berpuasa Ramadhan. Pertanyaan tersebut
patut diajukan kalau kita melihat praktik penyelenggaraan negara dan
kenyataan dalam kehidupan masyarakat kita yang tidak menunjukkan
indikator kejujuran yang jelas dan nyata.
Ada yang salah?
Maka, kita perlu bertanya apakah ada yang salah dalam cara kita berpuasa?
Di mana salahnya dan bagaimana memperbaikinya? Tentu amat sulit untuk
menjawab pertanyaan itu. Salah satu caranya ialah belajar dengan
sungguh-sungguh untuk menerapkan perilaku jujur di dalam kehidupan kita
sehari-hari.
Kejujuran adalah dasar dari kehidupan keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Kejujuran adalah persyaratan utama pertumbuhan dan perkembangan
masyarakat yang berlandaskan prinsip saling percaya, kasih sayang, dan
tolong-menolong. Kejujuran adalah inti dari akhlak yang merupakan salah
satu tujuan dari diutusnya Rasulullah oleh Allah SWT (Innama buitstu
li’utammima makaarimal akhlaq).
Seorang ulama menyatakan bahwa hakikat kejujuran ialah mengatakan
sesuatu dengan jujur di tempat (situasi) yang tidak ada sesuatu pun yang
menjadi penyelamat kecuali kedustaan.
Kejujuran tidak akan datang begitu saja, tetapi harus diperjuangkan
dengan sabar dan sungguh-sungguh. Seorang ulama menegaskan bahwa ada
beberapa faktor yang dapat membantu kita dalam mencoba meraih kejujuran.
Pertama, akal yang wajib memandang buruk kedustaan, apalagi jika
kedustaan itu sama sekali tidak mendatangkan kemanfaatan dan tidak
mencegah bahaya.
Kedua, agama dan syariat yang memerintahkan untuk mengikuti kebenaran
dan kejujuran serta memperingatkan bahaya kedustaan.
Ketiga, kedewasaan diri kita yang menjadi salah satu faktor pencegah
kedustaan dan kekuatan pendorong menuju kebenaran.
Keempat, memperoleh kepercayaan dan penghargaan masyarakat. Ada sebuah
kata mutiara: "Jadikanlah kebenaran (al Haq) sebagai tempat kembalimu (rujukanmu),
kejujuran sebagai tempat keberangkatanmu, sebab kebenaran adalah
penolong paling kuat dan kejujuran adalah pendamping paling utama."
Bukan puasa korupsi
Di sebuah koran saya baca pendapat B Aritonang (BPK) supaya kita puasa
korupsi. Menurut saya, pendapat itu kurang tepat. Yang tepat ialah
menghentikan korupsi dengan memakai puasa Ramadhan sebagai titik
tolaknya. Kalau kita tidak juga mampu menjadikan puasa, yang sudah lebih
dari 60 kali dijalani bangsa Indonesia, sebagai faktor pendorong untuk
menanamkan kesungguhan meraih kejujuran, menurut saya kita tidak mampu
menangkap makna dan esensi ibadah puasa. Kita hanya akan memperoleh
lapar dan haus saja dari puasa kita, seperti sabda Rasulullah SAW di
dalam sebuah hadis.
Kita juga perlu merenungkan teladan yang diberikan oleh Pak Waras yang
mengembalikan uang Rp 429 juta kepada PT Lapindo Minarak karena itu
bukan haknya. Dia hanya berhak menerima Rp 56 juta dan ternyata menerima
Rp 485 juta. Sebagai penghargaan terhadap kejujurannya itu, Pak Waras
menerima hadiah sebuah rumah lengkap dengan isinya. Sungguh suatu
kontras dengan sikap sejumlah pamong desa yang konon memotong 20 persen
dari dana uang muka (20 persen) uang ganti rugi yang diterima para
korban, seperti yang diberitakan sejumlah media.
Kita hanya bisa mengatakan bahwa kita telah menang dalam menjalani
ibadah puasa Ramadhan kalau kita mampu mengubah perilaku di dalam
kehidupan keseharian kita selama sebelas bulan ke depan. Dari yang tidak
jujur menjadi jujur, dari yang pemarah menjadi penyabar, dari yang
serakah menjadi suka berbagi, dari yang sombong menjadi rendah hati.
Jadi, menilai kita menang atau tidak bukannya pada akhir Ramadhan 1428 H
ini, tetapi menjelang Ramadhan 1429. Semoga kita mampu memanfaatkan
Ramadhan 1428 H sebaik-baiknya.
► ti (Opini Kompas, 18 September 2007)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|