| |
C © updated 28082004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/atur |
|
| |
Nama:
Pdt. Rudolf Andreas Tendean
Panggilan:
Rudi
Lahir:
Menado, 17 Oktober 1950
Ayah:
T.A. Tendean
Ibu:
Aleta Lumansik
Menikah:
7 November 1975
Istri:
Silvana Rosita Maksurila
Anak:
Zet Immanuel (Plaju, 19 November 1981)
Jeane Eva (12 Januari 1983)
Paskah (19 April 1987)
Pendidikan:
SD-SMA, Makasar
Sarjana Teologia, STT Intim (Indonesia Timur), Makasar
Penahbisan:
Ditahbiskan menjadi pendeta, 22 Juni 1975, GPIB Immanuel, Gambir,
Jakarta
Penempatan Pelayanan:
1 Juli 1975 – 1 April 1981, Jember
1 April 1981 – 1 Agustus 1984, Plaju, Sungai Gerong
1 Agustus 1984 – 1 Juli 1988, Surabaya, GPIB Getsemani
I Juli 1988 – 1 Juli 1992, Makasar, GPIB Mangngamasea
1 Juli 1992 - 1 Juli 1995, Immanuel, Semarang
1 Juli 1995 – 1 Oktober 2000, Silih Asih, Bandung.
1 Oktober 2000 – 1 Juli 2003, Bethel, Bandung
1 Juli 2003 – sekarang, GPIB Koinonia, Jakarta
Jabatan:
2000 – 2003, Ketua Mupel Jawa Barat, Bandung
2000 – 2003, Ketua I PGIW (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Wilayah)
Jawa Barat, Bandung
3 Juli 2004, Ketua Mupel (Musyawarah Pelayanan) Jemaat GPIB Jakarta Timur
|
|
| |
|
|
|
|
== 1
2
3 4 ==
Pendeta Rudolf Adolf Tendean (2)
Berniat Sekolahkan Anak di Al-Zaytun
Pengalaman yang tak terlupakan di Ma’had Al-Zaytun memberi kesan indah
dalam hati Pendeta Rudy. Ia tidak akan berhenti memberitakan kabar baik
bahwa Ma’had Al-Zaytun sedang memupuk persaudaraan, toleransi dan
perdamaian. Ia tidak akan berhenti meski kelak ia sudah pindah tugas
dari GPIB Koinonia. Bahkan ia pun berniat menyekolahkan (kuliah) anak di
Al-Zaytun.
Niat ini muncul setelah pendeta ini memimpin rombongan jemaat GPIB
Koinonia, Jakarta, berkunjung ke Ma’had Al-Zaytun, 31 Juli 2004. Dalam
percakapannya dengan Syaykh AS Panji Gumilang mengenai kemungkinan bisa
tidaknya santri nonmuslim sekolah di Ma’had Al-Zaytun, bisakah
persyaratan menghapal Juz Amma ’dikredit” dulu. Syaykh mengatakan, tidak
usah menghapalkan Juz Amma, karena itu milik umat muslim.
“Saya minta kepada Bapak Pendeta, Bibel apa yang harus dihapalkan, harus
diketahui oleh pemuda-pemudi Protestan, seumur tertentu tatkala masuk ke
Al-Zaytun. Maka persyaratannya nanti, bagi calon santri Ma’had Al-Zaytun
yang beragama Protestan, syaratnya harus mempunyai penguasaan Bibel
surat apa sampai ayat berapa,” kata Syaykh tatkala mengungkap
percakapannya dengan Pendeta Rudy di hadapan eksponen, dosen, guru,
karyawan dan para santri Ma’had Al-Zaytun dalam acara pelepasan
rombongan jemaat GPIB Koinonia.
Lalu pada kesempatan itu, Syaykh meminta tanggapan eksponen dan sivitas
Ma’had Al-Zaytun, baik guru maupun perwakilan pelajar, tentang
jawabannya kepada pendeta itu, kalau salah salahkan, kalau betul
acungkan jempol, betul. “ Diacungi jempol atau tidak,” tanya Syaykh al-Ma’had.
Semua mengacungkan jempol dan menjawab betul.
“Ini Pak Pendeta. Ngacung jempol semua. Jadi, kaum liberal semua ini.
Liberal itu cirinya adalah open minded dan toleran, especially in
religion and politic. Ternyata anak-anak kita, guru-guru kita liberal
semua. Cuma pertanyaannya, apa ada, kapan, kami menunggu,” kata Syaykh
seraya menoleh ke arah Pendeta Rudy dan rombongan yang menyambut dengan
tepuk tangan.
Kemudian Syayk melanjutkan, “Bila saatnya nanti bulan Mei, karena
pembukaan pendaftaran siswa itu bulan Mei, maka, kita harus membuat satu
monumen bersejarah kehidupan beragama di Indonesia ini. Ternyata ada
pesantren yang santrinya, ada yang Nasrani, ada yang Muslim, satu saat
ada yang Budha, satu saat ada yang Hindu, satu saat ada yang Kong Hu Chu,
kumpul bersama. Di sana ada gereja kecil, di sana ada kuil kecil, di
sana masjid kecil. Terjadi di dalamnya yang kemudian memahami
pelajaran-pelajaran agamanya, dan diajarkan seperti Sisdiknas.”
Sisdiknas menghendaki bahwa bagi pelajar beragama tertentu diajar oleh
guru beragama tertentu pula. “Maka kami nanti, meminta guru pada Pak
Pendeta. Sudah tidak usah ke Departemen Agama, cukup Pak Pendeta, kami
ini perlu guru Protestan, cobalah kirim,” kata Syaykh yang selalu
disambut tepuk tangan semua hadirin.
“Alangkah indahnya kalau itu terjadi,” kata Syaykh seraya menatap
kembali ke arah Pendeta Rudy. Dan, katanya, kalau sudah kita kalaukan
biasanya akan terjadi. “Sebab kalaunya pendeta itu adalah doa, dan
kalaunya pemangku pendidikan itu pun doa. Doanya pendeta, doanya
pemangku pendidikan, doanya guru, doanya pelajar, doanya umat manusia,
selalu didengar oleh Sang Pencipta,” kata Syaykh penuh keyakinan.
Sekolahkan Anak
Pernyataan yang indah dari Syaykh ini, tampaknya juga merupakan
kerinduan dari Pendeta Rudy. Dia yakin bahwa pernyataan Syaykh itu
serius dan tulus bukan hanya basa-basi untuk sekadar menyenangkan hati
tamu. Maka, dia akan berupaya menyosialisasikan gagasan dan ajakan ini.
“Ini akan menjadi salah satu wujud nyata persaudaraan dan toleransi
antarumat beragama di Indonesia,” kata Pendeta Rudy ketika Wartawan
Tokoh Indonesia meminta tanggapannya atas hal tersebut.
Sebagai Ketua Mupel (Musyawarah Pelayanan) Jemaat GPIB wilayah Jakarta
Timur, ia berharap, bila nanti ada pertemuan khusus wilayah Jakarta
Timur, akan mengundang Syaykh AS Panji Gumilang untuk berbicara dalam
forum itu. Bahkan tidak cukup sampai di situ, jika Tuhan menginjinkan
dia akan mengusulkan agar Syaykh AS Panji Gumilang berkesempatan
berbicara pada sidang akbar GPIB yang menurut rencana akan digelar tahun
2005 nanti.
Setidaknya, dia akan mencari jalan untuk memperkenalkan lebih jauh visi
dan misi saudara-saudara di Ma’had Al-Zaytun. “Sebuah visi dan misi yang
sesungguhnya juga dimiliki oleh umat Kristiani untuk saling mengasihi
dalam ikatan persaudaraan meski berbeda agama,” katanya. Bagi Pendeta
Rudy, siapa pun orangnya, dari agama mana pun dia, jika membawa damai
pastilah berkenan di hadapan Allah. Sebaliknya, biar pun seseorang itu
saudara satu agama tetapi membawa permusuhan, pastilah hal itu tidak
berkenan di hadapan Allah.
Menurutnya, untuk mewujudnyatakan damai dan toleransi tidak cukup dengan
pernyataan atau ajakan. Maka, pendeta ini menyatakan niat untuk
menyekolahkan (kuliah) anak di Universitas Al-Zaytun yang tahun depan
sudah akan mulai dibuka untuk menampung santri yang mulai lulus SLTA (Madrasah
Aliyah). Konon, sebanyak 80% santri Al-Aliyah telah menyatakan akan
melanjutkan studi di mah’had ini.
Ma’had Al-Zaytun memang menetapkan pendidikan formal dengan jenjang yang
tak terputus untuk mencapai arah dan tujuan one pipe education system,
yang diwujudkan dalam pelaksanaan pendidikan dari kelas satu hingga
kelas dua puluh. Jenjang pendidikan itu dimulai pada: Pertama, tingkat
dasar (elementary) yakni tahun pertama hingga tahun keenam, umur 6-12
tahun; Kedua, tingkat menengah (Secondary and Senior High School) yakni
tahun ketujuh hingga tahun ke-12, umur 13- 18 tahun; Ketiga, tingkat S1
yakni tahun ke-13 hingga tahun ke- 15, umur 19- 21 tahun; Keempat,
tingkat S2 yakni tahun ke-16 hingga tahun ke- 17, umur 21- 23 tahun; dan
Kelima, tingkat S3 yakni tahun ke-18 hingga tahun ke-19, umur 24- 26
tahun.
Jenjang pendidikan tersebut antara lain: 1) Al-Ibtidal, 2) Al-’Idadi, 3)
Al- Tsanawi, 4) Al-Wustho, 5) Al-’Aliyah dan 6) Al-Jami’ah. Bagi tingkat
Tsanawi yang tidak berkeupayaan (dikarenakan keterbatasan kemampuan dan
lain sebagainya) mencapai tingkat Al-Wustho, diarahkan kepada
Vocational, keterampilan atau kejuruan. Sementara untuk jenjang Al-Jami’ah
penyelenggaraannya berdasar prestasi selektif.
Untuk sementara ini, yang dapat ditempuh oleh ma’had barulah pelaksanaan
tingkat menengah dan persiapan S1 berupa Program Pendidikan Pertanian
Terpadu (P3T), Program Pendidikan Teknik Terpadu (P2T2) dan Program
Pendidikan Bahasa-bahasa Terpadu (P2BT). Sedangkan untuk tingkat dasar (asas)
sedang dalam persiapan dan pembangunan yang akan diselenggarakan di
berbagai daerah. Sementara P3T, P2T2 dan P2BT adalah merupakan embrio
Universitas Al-Zaytun.
Kembali ke niat Pendeta Rudy sebagai pionir menyekolahkan anak ke
Perguruan Tinggi Al-Zaytun, ia akan membicarakan lebih dulu kepada
anaknya, yang salah satu di antaranya akan tamat SMA pada tahun ajaran
ini. “Sebagai orang tua kita tidak bisa memaksakan kehendak kepada anak.
Anak harus diberi kebebasan memilih. Hanya saja sebagai orang tua, tidak
salah memberi penjelasan,” kata Pendeta Rudy. Ia pun akan memberi
penjelasan tentang alternatif kuliah di Al-Zaytun. ►e-ti/atur/crs
=>
Ke Al-Zaytun
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|