| |
C © updated 05062008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr |
|
| |
BIODATA
Nama:
Mangihut Mangaradja Hezekiel Manullang
Nama Panggilan:
Tuan Manullang
Lahir:
Tarutung, 20 Desember 1887
Meninggal:
Jakarta, 20 April 1979 (dimakamkan di Tarutung)
Ayah:
Singal Daniel Manullang
Ibu:
Chaterine Aratua boru Sihite
Isteri:
Boru Sihite
Anak:
5 orang putra, 4 orang putrid
Pendidikan:
- Sekolah Raja di Narumonda, Porsea, Tapanuli Utara
- Senior Cambridge School, Singapura, 1907- 1910
Karir:
- Pendiri dan penerbit surat kabar Binsar Sinondang Batak (BSB),
1906
- Guru Sekolah Methodist, 1910
- Pendiri organisasi social politik Hatopan Kristen Batak (HKB)
- Pendiri dan Pemimpin Redaksi surat kabar Soara Batak (1919-1930)
- Memprakarsai Persatuan Tapanuli (1921) dan Persatuan Sumatera (1922)
- Dipenjara di Cipinang 1922-1924 akibat tulisannya menentang penjajah
Belanda
- Menerbitkan koran Persamaan, 1924 yang kemudian diubah namanya menjadi
Pertjatoeran di Sibolga
- Melaksanakan Kongres Persatuan Tapanuli, 17 Februari 1924
- Bersama rekan-rekannya mendirikan Huria Christen Batak (HChB) sebagai
gereja yang berdiri sendiri, 1 Mei 1927 - HChB berubah menjadi HKI (Huria
Kristen Indonesia), 1950
- Kepala Penerangan Tapanuli, sampai Proklamasi Kemerdekaan
- Menjadi pendeta setelah lebih dulu mengikuti pendidikan kependetaan,
pada usia 52 tahun
- Pensiun penuh dengan pangkat Bupati pada usia 70 tahun
Penghargaan:
Pemerintah RI pada tanggal 2 Oktober 1967 menganugerahi
penghargaan sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan
|
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
RESENSI:
01
02 ==
Resensi Buku Tuan Manullang (01)
Lebih Lengkap, Lebih Berisi
Buku yang diluncurkan bertepatan dengan Satu Abad Kebangkitan Nasional,
28 Mei 2008 ini mengulas lengkap sosok Pahlawan Perintis Kemerdekaan
Indonesia, Mangaradja Hezekiel Manullang (1887-1979). Buku ini ditulis
cukup tebal karena merangkum berbagai sumber informasi baik dari buku
asing dan lokal, artikel-artikel di berbagai media hingga wawancara
dengan para kerabat MH Manullang.
Yang membuat buku ini berbeda dengan buku yang pernah mengulas MH
Manullang, adalah penulisannya lebih condong pada perpektif gereja serta
digunakannya sumber catatan-harian sang tokoh sendiri dan sumber-sumber
lain yang belum pernah digunakan oleh para penulis lain. Selain itu,
buku ini juga mendapat apresiasi lewat kata pengantar dari Prof.
Dorodjatun Kuntjoro-Jakti (Fakultas Ekonomi Universita Indonesia), Drs.
Maddin Sihombing, M.Si, Bupati Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, dan
sebagainya.
Buku ini dibagi dalam 10 Bab. Bab 1-2 mengulas kondisi tanah Batak
sebelum dan sesudah invasi kaum Padri, masuknya agama Kristen dan kisah
hidup ayahanda MH Manullang, Ompu Singal Manullang. Bab 3-4 menceritakan
masa-masa pendidikan MH Manullang hingga ke Singapura, menjadi guru di
Pulau Jawa dan bergaul dengan para pendiri Syarikat Islam. Bab 5-6
menjadi pusat kisah perjuangannya melawan penjajah Belanda. Ia
mendirikan organisasi politik ‘Hatopan Kristen Batak’, menerbitkan surat
kabar Soeara Batak yang mengecam penindasan penjajah Belanda terhadap
rakyat Indonesia.
Bab 7 menceritakan perjalanan hidup MH Manullang setelah dipenjara
karena gugatannya terhadap insiden Pansoer Batu di Soeara Batak. Bab 8-9
menceritakan pelayanannya sebagai pendeta dan perjuangannya untuk
mewujudkan gereja yang mandiri, lepas dari kontrol dan dominasi orang
Eropa pada zaman itu. Ia bersama rekan-rekannya, 1 Mei 1927, mendirikan
Huria Christen Batak (HChB) sebagai gereja yang berdiri sendiri. HChB
tahun 1950 berubah menjadi HKI (Huria Kristen Indonesia) yang berkantor
pusat di Pematang Siantar. Sedangkan Bab 10 lebih bersifat ulasan
tambahan untuk memperkuat pengenalan pembaca akan pribadi MH Manullang.
Hasil kerja keras sang penulis buku ini, Dr. PTD. Sihombing, M.Sc., S.Pd
sudah sepatutnya kita hargai. Tidaklah mudah menulis kisah seorang tokoh
yang sumber-sumbernya tergolong langka dan sulit didapat. Meski sarat
kelebihan, buku ini masih kurang bersahabat bagi para pembacanya.
Alangkah baiknya, kalau di akhir setiap bab disertakan ringkasan,
intisari atau summary dari uraian dalam bab tersebut.
Dengan begitu, pembaca bisa langsung mendapat informasi penting tanpa
harus membaca satu bab secara utuh. Selain itu, pada bagian-bagian
tertentu dari buku ini masih terdapat alur cerita yang terkesan
melompat-lompat sehingga membuat pembaca bingung. Mungkin pada edisi
revisi nanti, kisah MH Manullang ini dibuat lebih mengalir dan menyatu
sebagai satu kesatuan cerita. Kekurangan yang terakhir dan sayang sekali
tidak disertakan dalam buku ini adalah Curiculum Vitae (CV) atau Riwayat
Hidup Singkat dari MH Manullang.
Dengan melihat CV atau Riwayat Hidup, pembaca bisa tahu ‘sekaliber’
apakah tokoh yang diulas dalam buku ini. Pembaca tidak perlu membaca
buku ini secara utuh untuk mengetahui bahwa MH Manullang adalah tokoh
perjuangan dari suku Batak yang tidak kalah dengan pahlawan-pahlawan
nasional lainnya. Terlepas dari beberapa kekurangannya ini, buku ini
layak dibaca dan terpajang dalam rak buku di perpustakaan Anda.
Judul:
Tuan Manullang
Subjudul:
Pendeta Mangaradja Hezekiel Manullang
Pahlawan Perintis Kemerdekaan Bangsa Indonesia & Pelopor Semangat
Kemandirian Gereja di Tanah Batak
Penulis:
Dr. PTD. Sihombing, M.Sc., S.Pd
Penerbit:
Albert-Orem Ministry bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Humbang
Hasundutan
Cetakan:
Edisi Pertama, Mei 2008
Halaman:
XXXIX + 398 halaman
►ti/mangatur l
paniroy
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|