| |
C © updated 29062005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
|
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Profesor Ken Soetanto
Lahir:
|
|
| |
|
|
|
|
Profesor Ken Soetanto
Peraih Empat Doktor di Jepang
Raih 31 Paten, Rearchnya didanai Rp 144 Miliar Setahun
Prestasi membanggakan ditorehkan Profesor Ken Soetanto. Pria kelahiran
Surabaya ini berhasil menggondol gelar profesor dan empat doktor dari
sejumlah universitas di Jepang. Lebih hebatnya, puncak penghargaan
akademis itu dicapainya pada usia 37 tahun.
SEPINTAS, penampilan fisiknya nyaris tak berbeda jika dibandingkan
dengan kebanyakan orang Jepang. Kulitnya kuning. Rambut lurusnya,
disisir rapi. Kemejanya yang diseterika licin dipadu jas menunjukkan dia
menyukai formalitas. Tapi, begitu berbicara, akan terkesan bahwa Prof
Soetanto -demikian dia dipanggil- bukan orang Jepang. Bicaranya
ceplas-ceplos dengan logat suroboyoan-nya yang khas.
Penemu konsep pendidikan tinggi "Soetanto Effect" di Negeri Sakura itu
beberapa hari ini berkunjung ke Indonesia. Soetanto mendampingi sejumlah
koleganya, Dr Kotaro Hirasawa (dekan Graduate School Information
Production & System Waseda University) dan Yukio Kato (general manager
of Waseda University), menandatangani memorandum of understanding (MoU)
antara Waseda University dan President University, Jababeka Education
Park, Cikarang, Jawa Barat, Sabtu lalu.
Waseda University adalah perguruan tinggi swasta terbesar di Jepang.
Reputasinya setara dengan universitas negeri semisal Tokyo University,
Kyoto University, atau Nagoya University. Mahasiswa yang berguru di
Waseda University 51.499 orang. Di anatar jumlah itu, 1.234 orang
berasal dari luar Jepang.
Waseda University telah menganugerahkan 81 gelar kehormatan bagi
pemimpin negara, mulai mantan PM India Jawaharlal Nehru (1957) hingga
mantan PM Singapura Lee Kuan Yew (2003). Dari Indonesia, Ketua DPD
Ginandjar Kartasasmita juga pernah belajar di sini.
President University adalah institusi perguruan tinggi berbasis
kurikulum bertaraf internasional yang berlokasi di tengah-tengah sekitar
1.040 perusahaan di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang. Selain putra
berbaik dari Indonesia, para mahasiswa President University berasal dari
China dan Vietnam.
Kehadiran Soetanto tak begitu menyita perhatian publik. Maklum, wakil
dekan Waseda University tersebut hanya "sebentar" memberikan ceramah
populernya di hadapan ratusan mahasiswa dan civitas academica President
University. Dia tak sempat berbagi keilmuan dengan sesama akademisi
seperti UI, UGM, ITB, dan Unair. Sebuah kesempatan yang agak disesalkan
bagi orang dengan kemampuan akademik sekaliber Soetanto.
Prestasi akademik Soetanto bisa dibilang di atas rata-rata. Misalnya,
pada 1988-1993, dia tercatat sebagai direktur Clinical Education and
Science Research Institute (CERSI) merangkap associate professor di
Drexel University dan School Medicine at Thomas Jefferson University,
Philadelphia, AS.
Dia juga pernah tercatat sebagai profesor di Biomedical Engineering,
Program University of Yokohama (TUY). Selain itu, pria kelahiran 1951
tersebut saat ini masih terdaftar sebagai prosefor di almameternya,
School of International Liberal Studies (SILS) Waseda University, serta
profesor tamu di Venice International University, Italia.
Otak arek Suroboyo itu memang brilian. Dia berhasil menggabungkan empat
disiplin ilmu berbeda. Hal tersebut terungkap dari empat gelar doktor
yang diperolehnya. Yakni, bidang applied electronic engineering di Tokyo
Institute of Technology, medical science dari Tohoku University, dan
pharmacy science di Science University of Tokyo. Yang terakhir adalah
doktor bidang ilmu pendidikan di almamater sekaligus tempatnya mengajar,
Waseda University.
"Saya sungguh menikmati pekerjaan sebagai akademisi," kata Soetanto di
sela kesibukannya menyaksikan MoU Waseda University dan President
University.
Di luar status kehormatan akademik tersebut, dia masuk birokrasi di
Negeri Sakura. Pria yang pernah berkawan dengan mantan Presiden RI B.J.
Habibie itu tercatat sebagai komite pengawas (supervisor committee) di
METI (Ministry of Economy, Trade, and Industry atau semacam Menko
Perekonomian di RI).
Selain itu, dia ikut membidani konsep masa depan Jepang dengan terlibat
di Japanese Government 21st Century Vision. "Pada jabatan tersebut, saya
berpartisipasi langsung menyusun GBHN (kebijakan makro)-nya Jepang,"
ungkap Soetanto yang masih fasih berbahasa Indonesia dan Jawa itu. Buah
pemikiran Soetanto terkenal lewat konsep pendidikan "Soetanto Effect"
dan 31 paten internasional yang tercatat resmi di pemerintah Jepang.
Inovasi yang dipatenkan itu mayoritas berlatar bidang keilmuannya, mulai
elektronika engineering, teknologi informasi, penemuan pengobatan kanker,
dan teknik imaging serta bidang farmasi.
Mau tahu berapa dana yang diraih Soetanto untuk membiayai riset-risetnya?
Jumlahnya sangat mencengangkan untuk ukuran akademikus bergelar profesor
atau mereka yang pernah menduduki jabatan tertinggi di perguruan tinggi
(rektor). Kementerian Pendidikan Jepang mendanai Soetanto sampai USD 15
juta (Rp 144 miliar) per tahun.
Di antara segudang prestasi itu, bisa jadi yang paling membanggakan,
khususnya bagi warga Surabaya, adalah latar belakang sekolah dasar dan
menengahnya yang ternyata dihabiskan di kota buaya. Soetanto muda
mengenyam pendidikan SD swasta di Kapasari, SMP Baliwerti, dan SMA
Budiluhur yang dulu menjadi jujugan sekolah warga keturunan Tionghoa.
Toh, Soetanto mengaku belum puas. Obsesi terpendamnya adalah bagaimana
karya akademisnya bisa dinikmati orang lain. "Saya berbahagia bila bisa
menyenangkan orang lain," katanya mengungkap visi hidupnya.
Soetanto sempat memberikan buah pemikirannya di hadapan ratusan
mahasiswa President University. Isi ceramah akademisnya menarik
perhatian mahasiswa. Bahkan, beberapa jajaran direksi PT Jababeka,
termasuk Dirut PT Jababeka Setyono Djuandi Darmono. Maklum, Soetanto
membeberkan pengalamannya bisa ’menaklukkan’ dunia perguruan tinggi
Jepang kendati hingga sekarang masih berkewarganegaraan Indonesia.
Selebihnya, Soetanto banyak mengkritisi sistem pendidikan di Indonesia
yang perlu dirombak lagi agar lulusannya lebih berkualitas. "Sistem
pendidikan di sini (Indonesia) sudah tertinggal jauh. Bahkan di bawah
Malaysia dan Vietnam," jelas Soetanto dengan gaya bicara berapi-api.
Ironisnya, penghargaan terhadap staf pengajar atau guru di Indonesia
juga sangat kurang. Soetanto lantas mencontohkan kecilnya gaji guru yang
memaksa mereka harus bekerja sambilan. "Karena faktor tersebut, jangan
heran bila banyak ilmuwan Indonesia mencari penghasilan di luar negeri,"
pungkas Soetanto. (bersambung)
Rabu, 29 Juni 2005,
Profesor Ken Soetanto, Arek Suroboyo Peraih Empat Doktor di Jepang
(2-Habis)
Sempat Tampik Tawaran Soeharto untuk Pulang
Kisah sukses Prof Ken Soetanto tak terlepas dari sentimen politik,
terutama kebijakan pemerintah Orde Baru yang meminggirkan hak-hak sipil
warga keturunan Tionghoa. Tekanan inilah yang memicu dia memilih "lari"
ke Jepang.
AGUS MUTTAQIN, Jakarta
PASAR Atom Surabaya punya ikatan sejarah yang melekat pada kehidupan Ken
Soetanto muda. Sebab, pria kelahiran 1951 itu sejak belia sudah diajari
ayahnya berdagang di sana. Sambil menimba ilmu di sekolah menengah di
kawasan Baliwerti, Soetanto merasakan betul pahit getirnya mencari uang.
Di pasar yang terkenal dengan produk kain dan garmen itu, Soetanto
mengelola toko elektronik bersama sang kakak. Toko sederhana itu
menyediakan berbagai perkakas elektronik, mulai radio, tape recorder,
hingga televisi. Soetanto juga melayani servis purnajual lengkap dengan
onderdilnya.
Berkat ketekunannya, Soetanto menjadi manajer toko sejak 1968 hingga
1974. Pada 1969, SMA Chung-chung di kawasan Baliwerti, Bubutan, ditutup
pemerintah seiring kebijakan anti-Tionghoa kala itu. Akibatnya, Soetanto
hanya bisa bersekolah hingga kelas 1 SMA. Tetapi, penutupan sekolah itu
memberi hikmah tersendiri. Soetanto jadi makin berkonsentrasi mengurusi
toko elektronik. Apalagi, Soetanto juga punya hobi mengutak-utik
peralatan elektronik.
Suatu hari, keahlian Soetanto di bidang elektronik mencuri perhatian
seorang pelanggannya yang kebetulan berkewarganegaraan Jepang. Orang itu
kagum melihat cara Soetanto ’menganalisis’ sekaligus memperbaiki
kerusakan radionya.
"Orang Jepang itu lantas menawari Soetanto belajar elektronik ke Jepang.
Orang itu tidak menyediakan dana, tetapi hanya kalau mau belajar ke
Jepang, bakal difasilitasi," kata Longtjing Tandi, kerabat dekat Prof
Soetanto, yang kini menetap di kawasan Pinangsia, Jakarta Pusat, kemarin.
Soetanto langsung tertarik. Rasa penasaran mengalahkan segalanya,
termasuk siap berjauhan dengan orang tua di Surabaya. Keinginannya
belajar elektronik tersebut diceritakan ke semua orang. Menariknya, hal
itu menjadi bahan lelucon di kalangan kerabatnya.
"Waktu itu ada saudara yang bilang, bagaimana kamu mau belajar ke Jepang,
wong letak (negara) Jepang saja tidak tahu. Apalagi, kamu (Soetanto)
warga keturunan. Piye toh," kenang Longtjing.
Toh, semua itu tak membuat Soetanto patah arang. Ini dibuktikan dengan
langkahnya yang bersemangat mencari tahu bagaimana belajar ke Jepang
dari berbagai informasi. Soetanto juga siap memecah celengan untuk
ongkos membeli tiket dan biaya hidup beberapa bulan bila sampai di
Jepang. Dan, pada 1974, atau saat berusia 23 tahun, Soetanto pun
akhirnya jadi juga terbang ke Jepang.
Salah satu ketertarikannya belajar di Negeri Sakura karena inovasi
televisi merek Jepang yang semakin tahun menjadi maju. Produk televisi
merek Jepang, antara lain, Toshiba dan Sanyo, kala itu menjadi tren
karena teknologi transistor memungkinkan bentuk televisi menjadi lebih
kecil dan trendi. Ini sekaligus menggantikan teknologi televisi
sebelumnya yang menggunakan tabung.
"Saya memang penasaran dengan teknologi transistor. Ini inovasi luar
biasa. Sebab, sebelumnya banyak televisi Eropa merek Grundig dan Philips
yang tampilannya jauh lebih gede karena menggunakan tabung," kata
Soetanto.
Dia benar-benar bermodal nekat. Betapa tidak. Soetanto terbang ke Jepang
hanya dibekali uang hasil tabungannya setelah enam tahun menjadi manajer
di toko elektronik. Celakanya, Soetanto sama sekali tidak bisa berbahasa
Jepang.
Menurut Longtjing, Soetanto sesampai di Tokyo sejenak menetap di rumah
warga Jepang kenalannya sewaktu di Surabaya. Selanjutnya, dia mencari
informasi rumah kos di dekat kampus. Soetanto awalnya menginginkan
kuliah satu tahun di Electronics Institute dan langsung pulang ke
Surabaya.
Tetapi, dia menyadari bakal kesulitan belajar di perguruan tinggi tanpa
menguasai bahasa Jepang. "Saya selanjutnya berangkat ke Osaka. Saya
belajar singkat tentang bahasa Jepang," jelas Soetanto.
Pria berkacamata itu sempat kesulitan belajar bahasa Jepang karena ada
pengajarnya yang menegur, kalau belajar bahasa Jepang di Osaka, harus
menggunakan logat Osaka. Dan, lambat laun Soetanto pun akhirnya bisa
menguasai bahasa Jepang.
Impian Soetanto baru terpenuhi setelah tiga tahun "hidup menggelandang"
di Tokyo. Nama Soetanto keluar sebagai dua di antara 30 pelamar beasiswa
mahasiswa asing yang ditawarkan pemerintah Jepang.
Selanjutnya, Soetanto kuliah di TUAT (Tokyo University of Agriculture
and Technology) dengan mengambil jurusan teknik elektronik. Selepas
mengambil gelar sarjana, Soetanto melanjutkan ke program master dan
doktor. Yang menarik, Soetanto mengambil dua program doktor. Yakni,
doktor bidang teknik di Tokyo Institute of Technology (1985) dan bidang
kedokteran di Tohoko University (1988).
Begitu meraih gelar dua doktor, Soetanto pulang ke Surabaya untuk yang
pertama. Kesempatan itu benar-benar dimanfaatkannya untuk menyunting
gadis impiannya yang kebetulan teman sebangkunya semasa di SMA
Ching-chung. Soetanto dan istrinya terpaksa untuk sementara berjauhan
karena kembali masuk ke bangku perkuliahan program doktoral. Istri,
orang tuanya, dan mertuanya pun memaklumi tekad bajanya dalam menimba
ilmu.
Selang beberapa tahun kemudian, dia menamatkan lagi program doktor
bidang farmasi di Science University of Tokyo. Nah, ada kejadian
menggelikan ketika beberapa kerabatnya dari Indonesia, termasuk
Longtjing, diundang menghadiri wisuda program doktor Soetanto yang
keempat.
Sesampai di ruang wisuda, ternyata Longtjing tidak tahu-menahu bidang
pekerjaan yang ditekuni kerabatnya itu. Ditanya pekerjaannya, Soetanto
hanya bilang sebagai pengangguran. "Dia bilang kerja pengangguran.
Kalaupun kerja, itu serabutan," ungkap Longtjing.
Dia tidak percaya dan bertanya kepada keempat profesornya yang kebetulan
mengikuti wisuda. Profesor yang mempromotori Soetanto serempak
menyatakan bahwa dia adalah aset perguruan tinggi termahal karena
kecerdasannya yang luar biasa. "Itu (mahasiswa) nomor satu. Selama lima
puluh tahun mengajar di sini (Science University of Tokyo), saya belum
pernah punya mahasiswa secerdas dia (Soetanto)," ujar profesor seperti
yang dikutip Longtjing. Pendek kata, semua menilai positif kemampuan
akademik Soetanto.
Toh, jawaban tersebut tak menghilangkan rasa penasaran Longtjing. Dia
justru semakin penasaran mengapa seorang mahasiswa cerdas justru bekerja
serabutan.
Soetanto lantas menjelaskan kegalauan Longtjing. Dia menyatakan, iklim
pendidikan tinggi di Jepang tidak mendukung seseorang yang cerdas
dijamin mendapat posisi penting. "Ini Jepang. Di sini, senioritas masih
berlaku. Jadi, kalaupun saya punya empat gelar doktor pada usia 37 tahun,
itu belum tentu bisa diterima. Saya perlu antre dulu untuk bisa bekerja
seperti mereka," jelas Soetanto.
Penjelasan tersebut akhirnya dimengerti Longtjing. Dan, Longtjing
mengusulkan agar dia bisa mengambil program doktor lagi ke AS. Usul
Longtjing itu direspons Soetanto. Dan, dia akhirnya memilih terbang ke
AS untuk menjadi akademisi di Drexel Unversity dan Thomas Jefferson
University, Philadelphia. Di dua universitas tersebut, Soetanto tercatat
sebagai associate professor. Otaknya juga diakui akademisi AS terbukti
mampu meraih bantuan riset senilai USD 1 juta dari NIH (National
Institutes of Health, USA).
Tampaknya, Soetanto tidak bisa bertahan lama berada di komunitas
perguruan tinggi di AS. Maklum, selama berada di AS, dia mengaku rindu
dengan suasana penuh romantisme dan "etik" Jepang yang hanya ditemukan
di Negeri Sakura.
Bak gayung bersambut, profesornya di Jepang, Motoyosi Okujima, kebetulan
meminta agar dia balik ke Jepang untuk membesarkan Toin University of
Tokyo (TUY). Dan, tawaran tersebut akhirnya memaksa Soetanto kembali ke
Jepang pada 1993.
Di TUY, Soetanto mendapat posisi sebagai profesor dan ketua Program
Biomedical Engineering Departement of Control and Systems Engineering.
Dia juga mendapat jabatan lain sebagai direktur Center for Advanced
Research of Biomedical Engineering di TUY yang dibiayai Kementerian
Pendidikan Jepang. Jabatan lain yang dijabat hingga sekarang adalah
wakil dekan di International Affairs of Waseda University.
Popularitas Soetanto di kalangan akademisi di Jepang pernah terdengar di
telinga mantan Presiden RI B.J. Habibie. Habibie yang kala itu menjabat
Menristek pada era 1980-an pernah bertemu hingga empat kali untuk
meminta Soetanto pulang kampung memperkuat jajaran akademisi di
Indonesia.
"Tetapi, Soetanto masih ingin tinggal di Jepang. Saya nggak tahu
alasannya menolak pulang ke Indonesia," jelas Longtjing.
Dalam wawancara dengan koran ini, Soetanto mengaku belum tertarik pulang
ke tanah air karena perhatian pemerintah terhadap akademisi dinilainya
kurang. Padahal, kala itu Habibie menawari Soetanto untuk bergabung di
BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dan LIPI (Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia).
Kendati menolak tawaran pulang, kecintaan Soetanto terhadap tanah
kelahirannya tak sedikit pun berubah. Hingga detik ini, Soetanto
mempertahankan kewarganegaraan Indonesia. Untuk melepas kerinduan dengan
sanak familinya yang tinggal di Jalan Darmahusada, Surabaya, Soetanto
biasanya pulang sekali setahun.
Yang menarik, karena masih ada darah Tinghoa, Dubes China di Jepang juga
pernah menawari Soetanto berpindah kewarganegaraan ke China. Tawaran itu
pun ditolak. "Saya masih WNI. Paspor saya masih Indonesia," tegasnya
singkat.
Perjumpaan Habibie dengan Soetanto bisa dibilang tidak sengaja. Suatu
ketika, Habibie sedang mengunjungi koleganya beberapa doktor universitas
di Tokyo. Soetanto memfasilitasi pertemuan itu dengan menjadi penerjemah
(bahasa Jepang) antara Habibie dan para doktor. Suatu ketika, Habibie
menyentil siapa penerjemah itu kok fasih berbahasa Indonesia dan Jepang.
Pertanyaan Habibie itu dijawab koleganya bahwa dia doktor
berkewarganegaraan Indonesia. "Dia mahasiswa program doktoral dengan
prestasi jempolan," kata kolega Habibie.
Habibie tenyata pernah menyampaikan keinginannya ’memulangkan’ Soetanto
ke hadapan Pak Harto. Karena itu, saat ada kunjungan dinas ke Jepang,
Soeharto pernah menemui Soetanto. "Saat itu beliau (Soeharto) juga
meminta Soetanto pulang, tetapi tetap ditolaknya," kata Longtjing.
Longtjing mengetahui apa pun aktivitas Soetanto karena selama berada di
Tokyo selalu berkomunikasi lewat telepon.
Interaksi Soetanto dengan pejabat Indonesia tidak hanya itu. Mantan
Wapres Adam Malik pun pernah meminta bantuan Soetanto ketika menjalani
perawatan kesehatan rutin di Tokyo. Saat itu, yang memfasilitasi
perkenalan Adam Malik dan Soetanto adalah Dubes RI di Jepang Wiyogo
Atmodarminto.
Wiyogo yang mantan gubernur DKI benar-benar ketiban sampur karena
dimintai bantuan staf Wapres agar mengurus perawatan Adam Malik di
sebuah rumah sakit di Jepang. Maklum, tingkat kedisiplinan di Jepang
yang begitu tinggi tak memungkinkan memprioritaskan perawatan pejabat
sekelas Wapres sekalipun. Artinya, Adam Malik harus tetap antre untuk
menjalani perawatan.
Untungnya, Wiyogo mengingat nama Soetanto yang kebetulan menjadi doktor
bidang kedokteran dari Tohoku University. Soetanto akhirnya turun tangan.
Dan, Adam Malik pun tidak perlu antre untuk menjalani perawatan, bahkan
mendapat perawatan eksklusif dari kolega Soetanto. (AGUS MUTTAQIN,
Jakarta )
►atur
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|