|
|
 |
== 1
2
3
4 5
6
7
8
9
10
11 12
==
Jusuf Kalla (4)
Pengalaman Seorang Menteri
Anekdot Kepemimpinan Negeri
Buku berjudul: Enam Bulan Jadi Menteri (M. Jusuf Kalla dalam Kabinet Gus
Dur), ini disusun secara ringan dan bersahaja oleh S Sinansari ecip. Namun
isinya bermakna, sekaligus menggelitik, lucu dan lebih lagi mengundang
keprihatinan. Begitu buruknya birokrasi dan kepemimpinan nasional di
negeri ini. Inilah buku yang isinya diwarnai 'anekdot kepemimpinan negeri'.
Secara umum buku ini
berisi pengalaman M Jusuf Kalla ketika menjabat Menteri Perindustrian dan
Perdagangan, merangkap Kabulog, selama enam bulan dalam Kabinet Gus Dur.
Sebagaimana disebut penyusunnya, isinya cukup menarik, tidak hanya sebagai
dokumentasi, tetapi juga sebagai bentuk pertanggungjawaban seorang pejabat
tinggi kepada masyarakat.
Buku ini memang menjadi menarik, karena Sang Menteri dipecat secara tidak
wajar oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Alasannya tidak jelas.
Pada mulanya, Sang Menteri disebut tidak bisa bekerjasama dengan tim
ekonomi lainnya. Kemudian, dalam rapat tertutup dengan DPR, malah dituduh
korupsi, kolusi dan nepotisme. Isi pembicaraan tertutup itu bocor ke pers.
Akibatnya, tentu saja bertambah ramai.
Tidak ada penjelasan yang terang dari Presiden tentang hal ini. Kecuali,
secara politis teka-teki ini mengundang keingintahuan DPR yang akhirnya
menguak Buloggate. Kasus Rp 35 milyar dana Yanatera Bulog yang melahirkan
Memorandum I dan II dan berakhir dengan jatuhnya pemerintahan Gus Dur.
Namun teka-teki pemecatan (terutama alasan KKN) Jusuf Kalla dan Meneg BUMN
Laksamana Sukardi tidak juga tuntas.
Buku ini, boleh menjadi salah satu jawaban sekaligus pertanggungjawaban.
Kendati juga belum tuntas benderang. Tapi setidaknya secara tersirat
menjadi lebih terang.
Lebih menarik, karena buku ini disajikan bersahaja. Realitas pengalaman
Sang Menteri yang ternyata diwarnai kelucuan dan keprihatinan birokrasi
dan kepemimpinan nasional ketika itu. Berisi berbagai anekdot menarik
tentang kepemimpinan dan birokrasi.
Anekdot Satu
Suatu ketika, Menperindag M Jusuf Kalla mengunjungi pabrik semen Padang.
Di mobil, Kakanwil bilang kepadanya, Dirut tidak ada karena ada urusan
lain.
Sesampai di pabrik, seseorang menjemput dengan ramah dan hormat. "Dia
protokol perusahaan," kata Kakanwil. Dalam hati, Jusuf Kalla membatin,
sebagai menteri ia terlalu disepelekan.
Lalu, penjemput tadi maju ke podium, berpidato. "Siapa yang berpidato itu?"
tanyanya kepada Kakanwil.
Kakanwil bertanya kepada seseorang. "Pak, itu dirutnya!" ujarnya sambil
tersipu malu.
Anekdot Dua
Sidang kabinet dilakukan setiap Rabu. Laporan menteri sudah dibuat standar,
sudah baku, dari sejak masa Pak Harto, misalnya tentang harga-harga dan
inflasi. Sidang berlangsung dua-tiga jam.
Sidang dibuka Gus Dur kemudian pimpinan dilanjutkan Mega. Laporan umum
dimulai Pak Kwik, sepuluh menit. Gus Dur masih serius. Menyusul laporan
Menkeu, penuh angka terinci tentang uang, inflasi dan lain-lain. Gus Dur
mulai tidak tertarik. Kepalanya sudah tidak tegak lagi dan terkesan ingin
istirahat.
Lalu giliran Menperindag melapor. Selalu sial. Gus Dur sedang asyik
istirahat di tempat. Mega mendengarkan dengan sesekali mencatat. Giliran
menteri-menteri lain berbicara. Kemudian Mega memberi kode tertentu agar
istirahat Gus Dur diakhiri. Gus Dur lalu bangun.
Melihat presiden sudah sadar kembali, menteri-menteri lain mengangkat
tangan minta bicara, misalnya Khofifah, Erna Witoelar dan Ryaas Rasyid.
Ada pula menteri yang tidak bicara sama sekali.
Kemudian yang muncul di depan wartawan adalah catatan-catatan Marsilam
Simanjuntak. Berupa rentetan catatan pembicaraan.
Anekdot Tiga
Kebijakan pajak di Batam sudah diputuskan Menkeu Bambang Sudibyo. Kemudian
Bambang bertugas ke luar negeri. Lalu Menperindag ditunjuk selaku Menkeu
ad interim.
Dalam sidang kabinet, Gus Dur marah: "Saudara tahu kan kebijakan saya,
jangan dikenakan pajak di Batam. Itu akan mengurangi investasi. Saudara
tidak mengerti kemauan saya." Macam-macamlah kata-kata yang keluar ketika
itu.
Begitu Gus Dur berhenti bicara, Menkeu ad interim minta bicara lagi. "Boleh
saya bicara, Presiden? Saya bingung, Bapak selalu minta kita taat pada
Letter of Intent IMF. Pengenaan pajak di Batam ini ada di LoI, ada di butir
18."
Ia menyebut butir 18 untuk lebih jelas dan meyakinkan. Padahal sebenarnya
ia asal sebut saja. Karena ia yakin tidak ada menteri yang hafal nomornya.
Presiden diam, tidak menanggapi. Menteri-menteri lain pun diam seraya
melihat ke arah Menperindag yang merangkap Menkeu ad interim itu. Dalam
hati ia berharap, agar presiden tidak menjadi diktator. Eh, beberapa hari
kemudian Sang Menteri dicopot dari jabatannya.
Anekdot Empat
Suatu ketika, Sang Menteri dan 35 orang rombongan misi dagang lagi
berkunjung ke Afrika Selatan. Hari itu, tepatnya tanggal 30 Maret 2000,
saat masih tidur di Hotel Hilton Johanesburg, Sang Menteri dipanggil
pulang segera oleh presiden.
Ia pun pulang, sementara rombongan meneruskan misinya. Begitu tiba di
Jakarta esok harinya, ia langsung telepon Alwi Shihab. "Ada apa ini?
Kenapa saya dipanggil?
Alwi mengajaknya bertemu di Hotel Borobudur. Di situ, Alwi mengatakatan
Gus Dur mempersoalkan kepergiaannya ke luar negeri. Karena itu, ia akan
diganti.
Petang harinya, bersama Alwi, ia bertemu Gus Dur. Begitu ketemu, Gus Dur
bertanya: "Sudah tahu mengapa saya panggil?
"Saya tidak tahu Gus."
"Begini. Saudara ke luar negeri padahal sementara banyak pekerjaan LoI
yang belum Saudara kerjakan. Kenapa?"
"Pak Presiden, saya ke luar negeri atas izin Bapak, lisan dan tertulis
dari Sekneg.Ada enam tugas saya sebagai menteri perdagangan dari LoI. Lima
telah selesai. Satu lagi belum, karena tergantung DPR." jelas Sang Menteri.
"Yang lainnya?"
"Sudah saya serahkan kepada IMF."
Lalu, Gus Dur diam. Tidak ada pengakuan salah atau minta maaf. Begitu saja.
Kemudian, Sang Menteri melirik Alwi, memberi kode, agar mereka ke luar.
Sesampai di luar, ia bertanya: "Wi, saya dipecat atau apa?
"Kalau begitu, tidak ada apa-apa," jawab Alwi.
Anekdot Lima
Jabatan Kabulog yang dirangkap Memperindag diserahterimakan kepada Rizal
Ramli. Hari itu, 3 April 2000, ia sedang dalam mobil menuju tempat serah
terima. Menlu Alwi Shihab menelepon, bertanya: "Berapa uang Bulog yang
dikasih lewat Suwondo?"
"Tidak ada!" jawabnya.
"Tolong cek. Ada itu," kejar Alwi.
Ia pun teringat pada peristiwa tiga bulan sebelumnya, Sapuan minta uang
kepadanya. Ia pun langsung menghubungi Sapuan: "Anda keluarkan uang tidak?"
"Ya, Pak!" jawab Sapuan.
"Berapa banyak?"
"Tiga puluh lima milyar."
"Uang siapa?"
"Yanatera."
"Untuk siapa?"
"Untuk presiden melalui Suwondo."
Lalu, ia menenelon Alwi. "Alwi, memang ada pengeluaran dari Yanatera."
"Berapa?" tanya Alwi.
"Tiga puluh lima."
"Kalau begitu tidak sampai semua."
Begitulah petikan 'anekdot' dalam buku ini. Cukup pantas memberi gambaran
perihal kepemimpinan nasional dan birokrasinya. ►crs-mti-03 =>
Lanjut
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Artikel lainnya: = Tokoh Utama Perdamaian
Malino =
Petinggi Negara yang Sederhana =
Kata Kuncinya Agroindustri =
Resensi Buku 'Enam Bulan Jadi
Menteri'
|
|
 |
| Penulis |
 |
Penulis Resensi: Robin Ch Simanullang, Wartawan Tokoh Indonesia.
Judul Buku: Enam Bulan Jadi Menteri (M Jusuf Kalla dalam Kabinet Gus Dur)
Penerbit: Aksara Karunia, bekerjasama dengan Harian Umum Sinar Harapan,
September 2002
Ketebalan: 175 halaman
Penulis Buku: S Sinansari ecip, doktor ilmu komunikasi, dosen Universitas
Hasanuddin, yang juga mengajar di Universitas Paramadina dan Universitas
Indonesia. Dia juga dikenal sebagai sastrawan dan wartawan. Telah menulis
sekitar 20 buku, satu di antaranya tentang Jusuf Kalla juga berjudul 'Mari
ke Timur'.
 |
| PROFIL |
 |
M. Jusuf Kalla
Pengusaha
suk-ses dan kader Golkar ini justru berkibar dalam era reformasi. Dia
memang seorang tokoh yang dinilai ‘ber-sih’ dan dapat diterima semua
golongan. Tak heran bila putera kelahiran Watampo-ne, Sulawesi Selatan ini
mendapat kesem-patan menjabat menteri. Ia pun menjadi tokoh utama
perdamaian Malino.
 |
| Artikel
Lainnya |
 |
|
|