| |
C © updated
20122006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/thc |
|
| |
Nama:
Indria Samego
Lahir:
Cirebon, 13 Juni 1950
Agama:
Islam
Pendidikan:
1. Sarjana Ilmu Poitik (Drs) Fisipol UGM, 1975
2. MA Studi Pembangunan, The Flinders University of South Australia,
1989
3. Ph.D. Asian Studies, The Flinders University of South Australia, 1992
Pengalaman Kerja:
1. Peneliti pada Puslitbang Politik dan Kewilayahan (PPW) LIPI,
sejak 1976 sampai sekarang
2. Ketua Dewan Direktur Center for Infornlation and Development Studies
(CIDES), 1999 sampai sekarang
3. Asisten Wakil Presiden Bidang Politik dan Keamanan, Oktober 1998
sampai Januari 2000
4. Dosen Pasca Sarjana di Universitas Satyagama, 1995 Sampai sekarang
5. Direktur Pasca Sarjana Universitas Jayaba, 2000-
6. Anggota Pengurus Harian (Pusat) Asosiasi Ilmu Ilmu Pengetahuan
Indonesia (AIPI), 1993 sampai sekarang
7. Dosen Tamu SESKO TNI, 1998 sampai sekarang
8. Staf Ahli Fraksi TNI/Polri DPR-RI, 2000 sampai $sekarang
9. Penasehat Ahli Kapolri, 2000 sampai sekarang
Karya Tulis (Pribadj dan Kelompok)
1. BiJa ABRl Menghendaki, Pustaka Mizan, Bandung, 1998
2. Bila ABRI Berhisnis, Pustaka Mizab, Bandung, 1998 J
3. Menata Negara, Pustaka Mizan , Bandung, 1999
4. TNI di Era Reformasi, Penerbit Airlangga, Jakarta, 2000.
5. Pengantar Buku Demifologisasi Politik Indoneisia, CIDES, 1998.
6. Pengantar Buku Korupsi Pplitik: Pemilu dan Legitimasi Politik pasca
Orde Baru,Cidesindo, 1999.
7. Persepsi Politik Kelas Menengah, lndonesia, CJDES 998.
8. Pemberdayaan Lemaga Perwakilan Rakyaa
Alamat:
Jl. Merak 11/78, Inkoppol, Jakasampurna, Bekasi Barat, P.O. Box
17145 telp. (021) 886.1211
|
|
| |
|
|
|
|
| PUBLIKASI |
|
|
 |
Indria Samego TNI Mungkin Kembali ke Politik Praktis
Berbicara dalam “Paparan Akhir Tahun Ekonomi Politik CIDES 2006” di
Jakarta, Rabu (20/12), Anggota Dewan Direktur CIDES Indria Samego
mengatakan, memasuki tahun ketiga kepemimpinan SBJ-JK Indonesia masih
akan diwarnai oleh dinamika persoalan hubungan sipil dan militer.
“Lebih tegasnya adalah, spekulasi tentang kemungkinan kembalinya TNI ke
dalam politik melewati cara-cara militer dan tentu saja tidak
konstitusional,” kata Indria. Menurutnya, setelah untuk sekian lama
tentara tidak lagi menjalankan politik praktis, sebagaimana dilakukannya
di masa Orde Baru, belakangan muncul kecurigaan bahwa naluri berkuasa
TNI akan muncul kembali ketika politisi sipil dianggap tidak mampu
mengemban peran sebagai penyelenggara Negara.
Indria Samego memaparkan hal itu hanyalah salah poin dari sejumlah
poin-poin yang berhasil diamatinya selama berlangsung tahun 2006, dan
memasuki tahun 2007. Indria juga menyebut, publik ternyata masih bisa
memberi kesempatan kepada Presiden SBY untuk lebih banyak jalan-jalan ke
luar negeri dibandingkan Presiden Indonesia terdahulu, apalagi Presiden
Suharto. Dalam dua tahun usia kepresidenannya, sudah hampir semua
wilayah dan Negara penting di dunia dikunjunginya SBY. “Bisa dihitung
berapa anggaran perjalanan internasional Presiden SBY, yang hasil
konkritnya belum terasa, kecuali citra positifnya itu,” kata Indria.
“Tidak mengherankan bila sudah dua doktor honoris causa dari universitas
Negara lain yang diberikan kepadanya. Namun, reaksi publik masih cukup
positif terhadap acara keliling dunianya Presiden SBY dibandingkan
dengan jalan-jalannya Presiden Gus Dur di masa lalu.”
Indria yang mantan Penasehat Presiden BJ Habibie ketika berkuasa
menyebut, Habibie selama menjabat sama sekali tak pernah melakukan satu
kalipun kunjungan ke luar negeri. Indira mengatakan kunjungan Presiden
SBY ke luar negeri tidak banyak mengundang reaksi negatif dari
masyaraikat, karena turut diajak sejumlah tokoh yang diduga mewakili
berbagai kelompok kepentingan di Indonesia, tidak seperti kunjungan
studi banding para anggota DPR ke Negara-negara lain.
Berikut paparan akhir tahun politik CIDES 2006 secara lengkap, yang
diberi judul:
“How Low Can You Go?”:
Upaya Pemerintah Dalam Mempertahankan Dukungan
Publik
Oleh: Indria Samego
Apa jadinya kalau dukungan publik terhadap penyelenggaraan Negara ini
hilang? Bisa jadi yang muncul adalah suasana kepercayaan (trust)
masyarakat terhadap pemerintah menipis, pembusukan politik (political
decay) lahir baik dari dalam maupun dari luar pemerintah,
ketidakstabilan politik muncul sebagai penggantinya, akhimya adalah
pergantian pemerintahan.
Berakhirkah setelah itu? Rasa-rasanya juga tidak ada jaminan yang pasti.
Selama politik -dalam arti kekuasaan- masih tetap menjadi “panglimanya”,
rangkaian permasalahan ini ibarat garis yang tak berujung. “Hilang satu
tumbuh seribu”. Kegagalan akan diikuti oleh kegagalan selanjutnya.
Karena kekuasaan dianggap segala-galanya, maka dukungan publik
dikesampingkan, dan pada akhirnya pemerintahan baru pun akan mengalami
nasib yang sama dengan yang digulingkan.
Nampaknya dinamika politik Indonesia mutakhir tidak sampai terjebak pada
“lingkaran setan” tersebut. Atau mungkin belum. Tapi yang pasti dalam
setahun terakhir ini, gonjang-ganjing politik belum mengkristal. Kendati
berbagai wacana yang ditujukan untuk mendelegitimasi pemerintah muncul
di sana-sini, toh pada akhirnya tetap tinggal wacana. Ibarat ide tanpa
kaki, semuanya bergulir secara bebas, tanpa hambatan, namun tidak
berubah bentuk menjadi sebuah gerakan kuat yang mampu membangunkan
“people power”. Walaupun bermacam kritik dan parodi penyelenggaraan
Negara ditampilkan oleh “Republik Mimpi”, tapi masyarakat masih lebih
percaya kepada Republik Indonesia. Sebagian besar dari kita masih
menganggap acara “Republik Mimpi” tidak lebih dari sekedar hiburan, atau
kritik social yang menghibur .
Bisa jadi, di sana pula kekuatan Pemerintah SBY-JK sekarang, yakni dalam
hal merespons berbagai kritik dan memperlakukan iklim kemajemukan social
politik (socio-political cleavages). Semuanya dibiarkan, tanpa ada
larangan berarti. Seolah menyadari bahwa kritik sosial adalah bagian
dari cita rasa bangsa yang sedang mengalami masa transisi ini, maka akan
counter-productive saja apabila ditanggapi secara negatif dan keras oleh
Pemerintah. Selama belum berubah menjadi collective mind dari seluruh
stake holder Negara ini, semuanya dibiarkan berkembang, dan mengalami
mati suri. Apalagi jika yang dikemukakan semata-mata hanya persoalan
tanpa jalan keluar, Pemerintah akan membiarkan begitu saja, atau
terkadang direspon dengan wacana pula. Oleh karena begitu banyaknya
persoalan sosial, sulit untuk menyimpulkan bahwa suara dan gerakan yang
muncul pada suatu saat sungguh-sungguh merefleksikan keperihatinan
masyarakat secara luas.
Ambil suatu contoh kasus adalah demonstrasi buruh di sekitar Hari Buruh
1 Mei 2006. Melihat sesaat begitu anarkisnya massa di depan DPR sampai
mampu merobohkan gerbang dan pagar pembatas yang baru dibangun,
dampaknya sama sekali tidak terasa pada hari-hari selanjutnya.
Pesan-pesan yang dikumandangkan dalam aksi para demonstran pembela
buruh, tidak berhasil dikonversi menjadi gerakan berkelanjutan yang
mengubah nasib buruh Indonesia. Sampai hari ini, posisi buruh tetap
lemah di hadapan penguasa dan majikan, tanpa ditemukan solusi baru yang
meyakinkan. Jadi apa sebenarnya makna pengerahan massa dari kalangan
buruh saat itu? Apakah sungguh- sungguh social pressure kepada
penyelenggara Negara atau peningkatan posisi tawar dari para tokoh buruh
dalam proses politik?
Hal yang tidak jauh berbeda adalah demonstrasi para Kepala Desa seluruh
Indonesia di Jakarta. Mungkin, baru kali inilah dalam sejarah politik
Indonesia, aparatur desa melakukan protes massal kepada Pemerintah
Pusat. Tokoh yang seharusnya memimpin dan menjadi teladan masyarakat di
desanya, ternyata harus dimobilisasi dan turun ke jalan di Ibukota
Republik ini. Sebuah pemandangan yang memilukan dan mengundang berbagai
spekulasi. Apa pesan yang hendak disampaikan oleh para pemimpin formal
desa itu murni dan mencerminkan aspirasi rakyatnya, ataukah hanya
semacam teater politik sesaat, yang dampaknya tidak akan berlangsung
lama.
Reaksi sebagian publik politik terhadap proses pembahasan Rancangan
Undang-Undang Anti Pomografi dan Pornoaksi (RUU APP). Untuk beberapa
waktu, kita disajikan dengan suara pro dan kontra atas masalah yang
memang sulit untuk dicarikan definisinya secara memuaskan. Masing-masing
pihak, baik pendukung maupun penentangnya memiliki argumentasi yang
sama-sama kuat dan rasional. Akibatnya, masing-masing pihak pun mampu
memobilisasi perbedaan dan penggalangan massa. Seluruh perhatian media
massa diarahkan untuk menjadikannya hot news dalam liputan mereka.
Namun, apa yang terjadi kemudian, sampai sekarang tetap menjadi wacana.
Enak didiskusikan, tapi sulit untuk merealisasikannya. Atas nama
demokrasi dan HAM, perbedaan itu harus tetap dihargai dan dilindungi.
Akhirnya, solusi pun kembali tidak ditemui, dan enerji untuk menolak
issu tersebut digantikan oleh masalah sosial yang lain.
Protes massa di ujung timur Indonesia terhadap perpanjangan kontrak
karya PT Freeport, menjadi salah satu persoalan sosial dan politik
berikutnya. Simpati dan dukung publik politik terhadap pikiran-pikiran
yang ingin mengkoreksi penyelenggara pemerintah atas pengelolaan
sumberdaya alam kita, memang memiliki dasar-dasar etis dan yuridis
konstitusional. Pasal-pasal mengenai Kesejahteraan Sosial yang tercantum
dalam UUD 1945 secara tegas menyatakan “kewajiban Negara untuk
menyelengarakan persoalan yang satu ini”. Artinya, Negara harus
melakukan pemihakan terhadap rakyat, pemilik kedaulatan, bukan justru
membela pikiran-pikiran Neo-Liberal, dengan memberi kemudahan kepada
para pemilik modal. Namun, melihat dari tayangan media televisi atas
resistensi masyarakat sebagaimana disuarakan para demonstran, reaksi
publik menjadi terbelah. Ada yang mendukung kritik tersebut, namun tidak
sedikit pula yang mempersoa1kan cara-caranya yang anarkis itu. Betapapun
kesalnya kita terhadap Negara, tapi perlakuan yang sadistis dari
sejumlah demonstran terhadap anggota polisi yang bertugas, menjadi
persoalan tersendiri. Sampai sekarang, persoalan dasar yang dituntut
para demonstran juga tidak pernah selesai. Yang tersisa adalah hilangnya
nyawa beberapa anggota Polri dengan cara-cara yang jauh dari makna
demokrasi.
Belakangan, publik politik disuguhkan dengan gonjang-ganjing politik di
seputar hubungan antara Presiden SBY dan Wakil Presiden JK. Bisa
dibayangkan, untuk sebuah Negara yang masih diwarnai oleh budaya politik
patrimonial, peran pemimpin menjadi teramat penting. Apa jadinya bila
kedua pemimpin itu berseteru. Wakil Presiden Bung Hatta, memilih mundur
dari kekuasaan, ketimbang harus bersama-sama dalam pemerintahan bersama
Bung Karno yang memiliki ambisi kekuasaan. Pada mulanya, kombinasi kedua
pemimpin bangsa kita di masa lalu itu sebagai sebuah Dwitunggal.
Mereka adalah Bapak bangsa dan Pemimpin Negara yang masing-masing
memiliki sifat yang saling mendukung, yakni Bung Kamo sebagai
“solidarity maker” dan Bung Hatta yang berwatak “Administrator”. Namun,
karena perjalanan sejarah, perpaduan keduanya tak bisa dipertahankan.
Seorang Hatta hanya memilih mundur, ketimbang membangun kekuatan dan
memobilisasinya untuk mendelegitimasi Presiden Sukamo. Sejajarkah
konflik SBY-JK dengan pertikaian Bung Kamo-Bung Hatta di masa la1u?
Nampaknya uncomparable. Yang pasti, akhirnya gonjang-ganjing antara
kedua pemimpin yang dipilih lewat pemilu itu mereda dengan sendirinya,
setelah Presiden SBY mau “mengalah”. Rapimnas Golkar, hanya melahirkan
sejumlah pemyataan politik standar, jauh berbeda dengan hangar-bingar
yang mengawalinya. Golkar tetap mendukung JK dan Presiden SBY, dan UKP3R
tetap dibentuk, meski sampai sekarang belum terdengar kiprahnya.
Jagad politik Indonesia baru-baru ini diwarnai oleh pro dan kontra
terhadap keinginan Presiden SBY untuk merevisi UU No. 1 Tahun 1974
tentang Perkawinan. Bermula dari berita mengenai perkawinan kedua da’i
kondang Abdullah Gymnastiar , yang lebih popular dengan Aa Gym itu. Pada
saat yang hampir bersamaan, beredar video mesum yang mempertontonkan
perilaku salah seorang anggota DPR RI dan Anggota Dewan Pengurus Pusat
Partai Golkar dengan seorang wanita yang juga aktif dalam kegiatan
partai berlambang pohon beringin tersebut.
Karena kedekatan hubungan pribadi antara Presiden SBY dengan Da’i dari
Geger Kalong tersebut, serta besarnya arti Golkar dalam kehidupan
politik formal di Indonesia, perhatian Presiden terhadap masalah pribadi
tersebut membawa pada inisiatifnya untuk mengusulkan perluasan pengaruh
pembatasan perkawinan, bukan hanya pada pegawai negeri saja, melainkan
juga kepada pejabat tinggi Negara, anggota legislatif dan tokoh
masyarakat. Yang muncul kemudian, reaksi publik, terutama sejumlah tokoh
organisasi massa dan ulama pesantren terkemuka yang menentang maksud
Presiden SBY tersebut. Akhirnya, pro dan kontra mengenai persoalan ini,
menyurut dengan sendirinya, setelah Presiden SBY menghimbau untuk lebih
memikirkan persoalan bangsa yangjauh lebih penting.
Publik politik pun pernah dibuat terkejut oleh perilaku Cabang
Legislatif RI yang cukup menyinggung rasa keadilan. Betapa tidak, dalam
situasi perekonomian Negara yang belum juga pulih, para wakil rakyat
kita tetap mempertontonkan kegiatan yang kontroversial. Alasan studi
banding ke luar negeri, dan peningkatan anggaran reses yang cukup
fantastis, telah mengundang reaksi publik beragam. Belum lagi kinerja
dewan sesuai dengan harapan rakyat, permintaan para wakil rakyat kepada
pemerintah sulit untuk tidak dipenuhi. Mereka beralasan, tidak
efektifnya masa reses untuk menjumpai konstituen, disebabkan oleh
minimnya dukungan anggaran untuk itu. Oleh karenanya, perlu ada anggaran
tersendiri bagi para angota DPR ketika mengunjungi konstituennya. Dan
Pemerintah mengabulkan. Tapi, apakah dana reses, dan voucher pendidikan
yang mereka terima cukup memiliki dampak terhadap proses pendidikan dan
komunikasi politik, masih perlu ditunggu hasilnya. Jika partai politik
sadar dengan masalah ini, tentu saja, mereka akan memanfaatkan dana
publik tersebut untuk memperbaiki kinerja dewan pada khususnya, dan
partai politik pada umumnya.
Tahun ketiga kepemimpinan SBJ-JK juga masih diwarnai oleh dinamika
persoalan hubungan sipil dan militer. Lebih tegasnya adalah, spekulasi
tentang kemungkinan kembalinya TNI ke dalam politik melewati cara-cara
militer dan tentu saja tidak konstitusional. Setelah untuk sekian lama
tentara tidak lagi menjalankan politik praktis, sebagaimana dilakukannya
di masa Orde Baru, belakangan muncul kecurigaan bahwa naluri berkuasa
TNI itu akan muncul kembali ketika politisi sipil dianggap tidak mampu
mengemban peran sebagai penyelenggara Negara.
Meninggalnya Brigjen Kusmayadi, ini merupakan peristiwa sosial biasa dan
alamiah sifatnya. Namun, ditemukannya 170-an pucuk senjata dari berbagai
tipe di rumahnya yang lain, menjadi sumber pembenar bagi spekulasi
politik tentara di atas. Apalagi disertai dengan reportase terbuka
mengenai proses temuan tersebut serta tanggapan pimpinan TNI terhadap
kasus ini, telah menggeser persoalan dari semata-mata Brigjen Kusmayadi
pribadi menjadi TNI, khususnya Angkatan Darat secara kelembagaan. Namun,
sampai detik ini, persitiwa tersebut hampir dilupakan orang, dan
digantikan dengan kasus-kasus baru yang lebih kontekstual.
Kasus politik lokal juga tidak sedikit yang mengundang dan mempengaruhi
dinamika politik nasional, bahkan ada pula dampak internasionalnya.
Pertama, peristiwa pemilihan kepala daerah secara langsung. Meski
sebagian besar proses pilkada ini dapat diselenggarakan secara damai dan
demokratis, namun ada pula yang melahirkan gerakan massa yang anarkis.
Pilkada di Gresik, yang memperpanjang kekuasaan bupati lama, diwarnai
oleh perusakan terhadap sejumlah kantor pemerintah dan milik pribadi
bupati terpilih. Hanya karena soal menang dan kalah saja, yang menjadi
sumber penyebabnya. Akhirnya, peristiwa itu juga hilang tanpa bekas.
Kedua, reaksi pro dan kontra terhadap sikap Pemerintah Australia yang
memberikan perlakuan khusus terhadap 42 pengungsi asal Papua. Sesaat
menjadi headline berita di surat-surat kabar, kemudian digantikan oleh
berita-berita yang lain. Ketiga, emosi publik juga pernah muncul ketika
berita-berita mengenai konflik Indonesia dan Malaysia dalam kasus Pulau
Ambalat. Suasana saat itu hampir mirip dengan peristiwa sekitar “Ganyang
Malaysia” era Bung Karno pada masa lalu. Seolah tidak ada pilihan lain,
kecuali perang melawan salah satu Negara penampung tenaga kerja
Indonesia di luar negeri itu.
Belajar dari kasus Sipadan-Ligitan yang akhirnya menjadi milik Malaysia,
publik diajarkan untuk tidak seperti keledai, yang terantuk pada “batu
yang sama” untuk kedua kalinya. Histeria massa saat itu mewarnai
dinamika politik di tanah air.Tapi, belakangan, tanpa jelas solusinya,
kita seolah lelah dengan protes, dan digantikan oleh masalah lain.
Keempat, kedatangan Presiden Bush yang hanya 6 jam di Jakarta dan Bogor,
juga telah mengundang emosi publik. Kritik terhadap Pemerintah SBJ-JK
yang seolah terlalu tunduk kepada AS, menjelang kedatangan Presiden
Bush, belakangan berlalu begitu saja, setelah Pemimpin Negara adikuasa
tersebut meninggalkan Indonesia.
Apa yang ingin diambil saripatinya dari semua peristiwa politik di atas.
Pertama, negeri ini memiliki begitu banyak persoalan, ada diantaranya
merupakan persoalan lama, namun tidak sedikit muncul masalah baru.
Datang silih berganti, dan tidak ada yang diselesaikan secara tuntas.
Karena begitu banyaknya masalah, sulit untuk dicari solusinya secara
berjangka panjang. Yang terjadi tidak lebih dari penyelesaian jangka
pendek, asal tidak mengganggu stabilitas nasional. Solusi permanen masih
membutuhkan waktu, yang ada menyingkirkannya, untuk memberi kesempatan
pada persoalan lain yang lebih aktual. Kedua, secara subyektif dan mikro
skalanya, solusi yang diambil adalah “menang-menang” (win-win solution).
Asal pihak terkait sudah mendapat “jatah”, direkayasa masalah baru, maka
seolah-olah kita telah mampu mengatasi persoalan terdahulu. Dalam hal
ini, tidak terlalu keliru bila dikatakan bahwa politik itu tidak lebih
dari “struggle for power” atau “the authoritative value of allocation of
resources”. Tatkala kekuasaan atau “jatah” sudah terbagi rata, maka,
hingar-bingar politik akan dengan sendirinya menyurut. Ketiga, rakyat
masih memberi dukungan politik kepada para pemimpin. Toleransi ini
disebabkan oleh karena begitu banyaknya persoalan yang dihadapi
pemimpin. Budaya politik semacam ini (patrimonial) bisa dijadikan modal
politik para tokoh untuk mendapatkan simpati publik. Apalagi bila
dikemas oleh media secara pas, sikap masyarakat ini akan memperkuat
dikembangkannya politik pencitraan (the politics of images) sebagaimana
berlaku selama ini.
Keempat, rakyat menyadari betapa sulit dan mahalnya proses mencari
pemimpin. Pemilihan presiden itu mahal harganya. Juga tidak ada jaminan
kalau itu dilakukal1 maka penggal1tinya akan lebih baik.
Boleh jadi karena keempat faktor di atas maka publik masih memberi
kesempatan kepada Presiden SBJ untuk lebih banyak jalan-jalan ke luar
negeri dibandingkan Presiden Indonesia terdahulu, apalagi Presiden
Suharto. Dalam dua tahun usia kepresidennannya, sudah hampir semua
wilayah dan Negara penting di dunia dikunjunginya. Bisa dihitung berapa
anggaran perjalanan internasional Presiden SBY, yang hasil konkritnya
belum terasa, kecuali citra positifnya itu. Tidak mengherankan bila
sudah dua doktor honoris causa dari universitas Negara lain yang
diberikan kepadanya. Namun, reaksi publik masih cukup positif terhadap
acara keliling dunianya Presiden SBY dibandingkan dengan jalan-jalannya
Presiden Gus Dur di masa lalu. Dengan mengajak sejumlah tokoh yang
diduga mewakili berbagai kelompok kepentingan di Indonesia, acara
lawatan resmi Presiden RI yang selama ini dilakukan, tidak banyak
mengundang reaksi negatif dari masyarakat, tidak seperti kunjungan studi
banding para anggota DPR ke Negara-negara lain.
Politik pencitraan Presiden SBY juga dibangun dengan mengunjungi rakyat
yang secara langsung terkena musibah. Kesan untuk dianggap sebagai
pemimpin yang dekat dengan rakyatnya, dibuktikan lewat berbagai
penampilan yang populis dan terlibat dengan masalah yang dihadapi
rakyatnya. Sebagai contoh, Presiden SBY membuat keputusan untuk
memindahkan kantornya dari Jakarta ke Yogyakarta, ketika gempa bumi
terjadi di DJY dan Jawa Tengah. Maksudnya, mungkin biar lebih dekat dan
merasakan penderitaan rakyatnya di daerah bencana. Kemudian, Presiden
juga bermain gitar sambil “bergadang” di lereng Merapi, untuk dapat
merasakan penderitaan penduduk di sekitar gul1ung yang masih sangat
aktif tersebut. Dari Jawa, Presiden terbang ke salah satu kabupaten baru
di puncak Jayawijaya, untuk memanen ubi. Sebuah kunjungam yang tak pemah
dilakukan oleh para pendahulunya. Kemudian, pada saat yang lain Presiden
SBY terlihat bersama petani di Pulau Buru untuk memanen raya tanaman
padi milik masyarakat di pulau bekas pembuangan tahanan PKI di masa
lalu.
Yang terakhir adalah reaksi Peresiden SBY yang mendukung proses pilkada
di Nanggroe Aceh Daussalam. Meski hasilnya berbeda dengan skenario
Pemerintah Pusat, namun Presiden berusaha menyembunyikan kekecewaaru1ya
dengan meminta publik untuk tidak terlalu mempersoalkan siapa pun yang
muncul sebagai pemenangnya. Kendati sudah terbukti bahwa Irwandi-Moh.
Nazar, yang berbasis GAM akan menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur
pertama pilihan rakyat di provinsi yang kerap bergolak itu, Presiden SBY
mencoba mengajak seluruh bangsa Indonesia untuk menghargai proses
demokrasi di sana. Yang perlu diperhatikan kemudian adalah seberapa jauh
pemimpin hasil pilihan rakyat ini mampu merealisasikan amanat rakyat dan
menjadikan dukungan publik sebagai sumberdaya po1itiknya.
Mungkin ada persamaan antara terpilihnya Presiden SBY-Wapres JK dengan
Calon Gubernur Irwandi dan calon Wakil Gubemur NAD Moh Nazar, yakni
sama-sama memiliki dukungan publik yang luas, tanpa melewati partai
politik. Berbeda dengan konvensi yang ada, lahimya kedua pasangan
pemimpin tersebut, sungguh-sungguh dari hasil pemilihan umum secara
jujur dan adil, langsung, umum, bebas dan rahasia. Peran partai tidak
lebih dari sekedar kendaraan politik sesaat saja. Selebihnya ditentukan
o]eh kepiawaian masing-masing tokoh di dalam mengembangkan political
marketing masing-masing, yakni dengan membangun citra. Tak ada suara
yang cukup kuat untuk menyangkal fenomena ini. Dari sanalah sumberdaya
politik dimulai, dan boleh jadi ini merupakan modal awa] yang perlu
dikapitalisasikan untuk kemudian menciptakan pemerintahan yang efektif,
relatif otonom, demokratis, dan bersih. Masalahnya, how low can you go?
Tanpa didukung oleh kesadaran untuk membangun sebuah pemerintahan yang
kredibel dan mendapat dukungan luas, maka agak sulit untuk melihat
kebijakannya berjalan (deliver). ► e-ti/ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|