| |
C © updated 08032008 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/rpr |
|
| |
BIODATA
Nama:
KH Idham Chalid
Lahir:
Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921
Agama:
Islam
Karir:
- Wakil Perdana Menteri II Kabinet Ali Sastroamidjojo II (24 Maret 1956
- 14 Maret 1957)
- Menteri Kesejahteraan
Rakyat dan Menteri Sosial pada era pemerintahan Soeharto
- Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
dan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), 1973-1978
- Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA), 1978-1983
Organisasi:
- Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU), 1955-1984
- Ketua Partai Masyumi
- Pendiri/Ketua Partai NU, 1952
- Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
Penghargaan:
- Doktor Honoris Causa dari Al-Azhar University, Kairo
Alamat Rumah:
Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan
|
|
| |
|
|
|
|
| IDHAM CHALID HOME |
|
|
 |
Idham Chalid, KH
Ulama & Politisi Pelaku Filosofi Air
KH Idham Chalid kelahiran Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921,
seorang ulama dan politikus pelaku filosofi air. Dia seorang tokoh Indonesia yang
pernah menjadi pucuk
pimpinan di lembaga eksekutif, legislatif dan ormas (Wakil Perdana Menteri, Ketua DPR/MPR,
dan Ketua Umum PB
Nahdlatul Ulama). Juga pernah memimpin pada tiga parpol
berbeda yaitu Masyumi, NU dan PPP.
Laksana air, peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Al-Azhar University, Kairo, ini seorang tokoh nasional,
yang mampu berperan ganda dalam
satu situasi, yakni sebagai ulama dan politisi. Sebagai ulama, ia bersikap fleksibel
dan akomodatif dengan tetap berpegang pada tradisi dan prinsip Islam yang diembannya.
Demikian pula sebagai politisi, ia mampu
melakukan gerakan strategis, kompromistis, bahkan pragmatis.
Dengan sikap dan peran ganda demikian, termasuk kemampuan mengubah warna kulit
politik dan kemampuan beradaptasi terhadap penguasa politik ketika
itu, ulama dari Madrasah Pondok Modern Gontor,
ini tidak kuatir mendapat kritikan dan stereotip negatif sebagai tokoh yang tidak mempunyai pendirian, bunglon
bahkan avonturir.
Peran ganda dan kemampuan beradaptasi dan mengakomodir itu kadang
kala membuat banyak orang
salah memahami dan mendepksripsi diri, pemikiran serta sikap-sikap socio-polticnya.
Namun jika disimak dengan seksama, sesungguhnya KH Idham Chalid yang
berlatarbelakang guru itu adalah seorang tokoh nasional (bangsa) yang
visi perjuangannya dalam berbagai peran selalu berorientasi pada
kebaikan serta manfaat bagi umat dan bangsa.
Dengan visi perjuangan seperti itu, pemimpin NU selama 28 tahun (1955-1984),
itu berpandangan tak harus kaku dalam
bersikap, sehingga umat selalu terjaga kesejahteraan fisik dan
spiritualnya. Apalagi situasi politik di masa demokrasi
terpimpin dan demokrasi Pancasila, tidak jarang adanya tekanan keras dari pihak penguasa serta
partai politik dan Ormas radikal.
Sebagaimana digambarkannya dalam buku biografi berjudul "Idham Chalid: Guru Politik Orang NU"
yang ditulis Ahmad Muhajir (Penerbit Pustaka Pesantren, Yogyakarta,
Cetakan Pertama, Juni 2007) bahwa seorang politisi yang
baik mestilah memahami filosofi air.
"Apabila air dimasukkan pada gelas
maka ia akan berbentuk gelas, bila dimasukkan ke dalam ember ia akan
berbentuk ember, apabila ia dibelah dengan benda tajam, ia akan terputus
sesaat dan cepat kembali ke bentuk aslinya. Dan, air selalu mengalir ke
temapat yang lebih rendah. Apabila disumbat dan dibendung ia bisa
bertahan, bergerak elastis mencari resapan. Bila dibuatkan kanal ia
mampu menghasilkan tenaga penggerak turbin listrik serta mampu mengairi
sawah dan tanaman sehingga berguna bagi kehidupan makhluk di dunia. (Hal
55)
Sebagai ulama dan politisi pelaku filosofi air,
Idham Chalid dapat berperan sebagai tokoh yang santun dan pembawa kesejukan.
Apresiasi ini sangat mengemuka pada acara peluncuran buku otobiografi: "Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid: Tanggung Jawab
Politik NU dalam Sejarah",
di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Kamis 6 Maret 2008.
Buku otobiografi Idham Chalid itu diterbitkan
Yayasan Forum Indonesia Satu (FIS) yang dipimpin Arief Mudatsir Mandan,
yang juga anggota Komisi I DPR dari PPP, juga selaku editor buku
tersebut.
Idham Chalid sendiri tengah terbaring sakit di rumahnya Jalan Fatmawati,
Jakarta Selatan.
“Saya kira tidak ada tokoh yang bisa seperti beliau. Ketokohannya sangat
menonjol, sehingga pernah memimpin partai politik pada tiga parpol
berbeda yaitu Masyumi, NU dan PPP,” kata Wapres Jusuf Kalla
mengapresiasi sosok
Idham Chalid, saat memberi sambutan pada acara peluncuran buku tersebut.
”Beliau itu moderat, bisa diterima di ’segala cuaca’, berada di tengah,
oleh sebab itu ia bisa diterima di mana-mana. Ia berada di tengah titik
ekstrem yang ada,” ujar Kalla dihadapan sejumlah undangan, antara lain Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Ketua DPR
Agung Laksono, Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi, dan sejumlah anggota
kabinet dan DPR.
Menurut Jusuf Kalla, sikapnya yang moderat hanya bisa dijalankan oleh orang yang santun.
"Hanya orang santunlah
yang bisa bersikap moderat,” puji Jusuf Kalla untuk menegaskan bahwa Idham Chalid merupakan sosok ulama dan politisi yang
moderat dan santun. Itulah sebabnya, ia bisa diterima di berbagai era politik dan kepemimpinan
bangsa.
Menurut Wapres, jika berada di titik yang sama ekstremnya, maka selain
demokrat, sosok politik orang yang menjalani itu sudah pasti santun.
”Karena itu, sikap yang santun bisa menjaga suasana kemoderatan,”
katanya.
Idham Chalid yang memulai karir politik dari anggota DPRD Kalsel,
seorang ulama karismatik, yang selama 28 tahun memimpin
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pernah menjadi Wakil
Perdana Menteri pada era pemerintahan Soekarno, Menteri Kesejahteraan
Rakyat dan Menteri Sosial pada era pemerintahan Soeharto dan mantan
Ketua DPR/MPR. Idham juga pernah menjadi Ketua Partai Masyumi, Pendiri/Ketua
Partai Nahdlatul Ulama dan Ketua Partai Persatuan Pembangunan
(PPP).
Sementara itu, editor buku, Arief Mudatsir Mandan, mengemukakan, Idham
Chalid satu-satunya Ketua Umum PBNU yang paling lama dan bukan ”berdarah
biru” NU. Menurutnya, selama kepemimpinan Idham, NU tidak pernah bergejolak.
Kendati ia sering
dinilai lemah, tetapi sebenarnya itulah strateginya sehingga bisa
diterima berbagai zaman,” ujar Arief Mudatsir Mandan. ►ti/mangatur l
paniroy
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|