| BERITA |
|
|
 |
Habibie, Bacharuddin Jusuf
Luncurkan Buku, Saya Tidak Mundur
Jakarta, Kompas 28/9/2006- Mantan Presiden BJ Habibie mengungkapkan bahwa dia
tidak pernah menyatakan mundur dari pencalonan presiden menjelang
Pemilihan Umum 1999. "Saya menyatakan tidak bersedia karena saya merasa
tidak memenuhi syarat," ujarnya kepada para wartawan di kantornya di
Kemang, Jakarta, Rabu (27/9).
Ia mengatakan, keputusan untuk tidak mendaftarkan diri atau mencalonkan
kembali menjadi presiden setelah melihat pengalamannya menjadi anggota
kabinet selama 20 tahun. Katanya, presiden ditugaskan melaksanakan
program yang ditetapkan MPR.
Untuk itu, lanjutnya, presiden membutuhkan anggaran yang harus disetujui
oleh DPR. Ia melihat anggota DPR beraneka ragam dan sulit diprediksi
karena bisa yang putih dikatakan hitam dan hitam dikatakan putih. "Maka
saya tidak mau, bukan karena untuk saya, tapi yang kasihan itu rakyat,"
ujarnya.
Itulah, antara lain, yang mendorong Habibie pada Rabu pagi, 20 Oktober
1999, di kediamannya di Kuningan, mengumumkan untuk tidak mau dicalonkan
menjadi presiden periode 1999-2004. Ia juga menunjukkan alasan yang
berkaitan dengan pemungutan suara dalam sidang MPR sehari sebelumnya.
"Saya berpendapat, putra dan putri terbaik di Indonesia pun baru bisa
pas-pasan menyelesaikan masalah di Indonesia, apalagi saya bukan yang
the best," ujarnya.
Dalam jumpa pers mengenai bukunya yang sangat laris, Detik- detik yang
Menentukan, ia juga menyatakan tidak 100 persen yang ia alami dituangkan
dalam buku itu, tetapi baru sekitar 70 persen. "Yang lain belum waktunya
dikeluarkan supaya tidak disalahartikan dan bisa menghalangi jalannya
demokratisasi di Indonesia," ujarnya.
Ia mengatakan, buku tersebut ditulis untuk catatan bagi generasi
penerus. "Supaya mereka akan lebih baik daripada Pak Habibie ini,"
ujarnya.
Tentang pendapat-pendapat yang menyanggah kebenaran beberapa kalimat
dalam buku itu, ia mengatakan, "Saya apa adanya, orang boleh berpendapat
beda."
Mengenai pendapat yang menyebutkan bahwa sebagian dari yang dituliskan
dalam buku itu hanya ilusi, Habibie hanya mengatakan, "Apakah mereka itu
hadir dalam peristiwa itu?"
Ia juga menyatakan penyesalannya karena pembangunan pabrik pesawat
terbang yang dirintisnya tidak jalan. (OSD/JUP)
***
Selasa, 26 September 2006
Buku Habibie dan Senyum Sintong
''Baca sajalah buku itu. Baca saja.'' Sintong Panjaitan terus berkelit
ketika dihujani pertanyaan mengenai peristiwa ''pertemuan panas'' antara
BJ Habibie dan Letjen Prabowo Subianto pada Jumat siang, 22 Mei 1998.
Telah lama, publik penasaran atas teka-teki isi pertemuan kedua tokoh
itu. Para jurnalis yang hadir pada peluncuran buku Detik-Detik yang
Menentukan karya BJ Habibie di Hotel Gran Melia, Jakarta, Kamis malam
(21/9), pun sibuk meminta keterangan Sintong perihal adanya pengepungan
pasukan Kostrad di sekitar Istana Negara.
''Pak Sintong, apa benar waktu itu suasana tegang sekali?'' tanya
wartawan kepada Sintong. Tapi, Sesdalopbang pada masa peralihan dari
Soeharto ke Habibie itu hanya menjawab dengan senyuman. ''Sudahlah, baca
saja. Di situ jelas kan,'' ujar Sintong seraya beranjak dari tempat
duduknya, kendati berbagai pertanyaan terus menghujani.
Di tengah resepsi yang dihadiri sekitar 2.000 orang itu, Sintong yang
menjadi ''orang dekat'' selama BJ Habibie menjabat presiden, memang
menjadi bintang. Apalagi dalam buku itu dia disebut-sebut sebagai salah
satu orang yang menjadi saksi pertemuan sesuai Habibie memecat Prabowo
dari jabatan Pangkostrad. Apalagi kabar yang beredar sudah keburu
menuduh bahwa Prabowo tidak terima atas keputusan itu. Dan, kebetulan
pada bukunya, Habibie dengan jelas-jelas menuliskan isi pertemuan itu.
Dalam buku yang dipersiapkan Habibie selama setahun itu, memang terasa
sekali suasana ketegangan yang melingkupi pertemuan Habibie-Prabowo.
Bahkan, dalam buku setebal 549 halaman, suasana mencekam itu gamblang
sekali dipaparkan oleh Habibie dengan memakan cukup banyak halaman.
Habibie memang mengaku bahwa niat Prabowo untuk melindunginya adalah
tulus, jujur, dan tepat. Namun, kebimbangan untuk menemui salah seorang
putra begawan ekonomi, Soemitro Djojohadikusumo, saat itu jelas sekali
menyergap perasaannya: Apakah perlu saya bertemu? Apa gunanya bertemu?
Letjen Prabowo adalah menantu Presiden Soeharto. Pak Harto baru 24 jam
meletakkan jabatannya. (hal 95)
Kegamangan Habibie berlanjut hingga menjelang acara pertemuan. Menurut
dia, siapa saja yang menghadap presiden tidak diperkenankan membawa
senjata: Tentunya itu berlaku pula untuk Panglima Kostrad. Namun,
bagaimana halnya dengan menantu Pak Harto? Apakah Prabowo akan juga
diperiksa? Apakah pengawal itu berani? (hal 95).
Adanya pernyataan ini memang sedikit menguak spekulasi yang berkembang
mengenai peristiwa itu. Bahkan, sempat disebut-sebut saat itu akan
terjadi kudeta segala. Nah, posisi Sintong dalam hal ini menjadi penting
karena dia adalah salah satu orang yang terlibat dalam pertemuan itu.
Habibie menulis, sebenarnya ia sangat dekat dengan Prabowo (alinea
keempat, hal 101). Bahkan, Prabowo mengidolakan dirinya. Ia pun mengaku
merasa jengah dengan desakan Prabowo yang ingin eksklusif menemuinya.
Sebab, sebelumnya Habibie sudah sepakat dengan Menhankam/Pangab Wiranto
bahwa setiap ada anggota ABRI yang ingin menemuinya, harus seizin atau
sepengetahuan Pangab. Dan, setelah Prabowo masuk ke ruangannya dan
melihatnya tanpa membawa senjata, Habibie pun merasa puas. ''Hal ini
berarti pemberian 'eksklusivitas' kepada Prabowo tidak dilaksanakan lagi,''
tulis Habibie di halaman 101.
Dialog antara keduanya pun segera terjadi dan dilakukan dalam bahasa
Inggris, hal (101-102): ''Ini penghinaan bagi keluarga saya dan keluarga
mertua saya Presiden Soeharto. Anda telah memecat saya sebagai
Pangkostrad.'' Habibie menjawab, ''Anda tidak dipecat, tapi jabatan Anda
diganti.'' Prabowo balik bertanya, ''Mengapa?''
Habibie kemudian menjelaskan bahwa ia menerima laporan dari Pangab bahwa
ada gerakan pasukan Kostrad menuju Jakarta, Kuningan, dan Istana Negara.
''Saya bermaksud mengamankan presiden,'' kata Prabowo.
''Itu adalah tugas Pasukan Pengamanan Presiden yang bertanggung jawab
langsung pada Pangab dan bukan tugas Anda,'' jawab Habibie. ''Presiden
apa Anda? Anda naif?'' jawab Prabowo dengan nada marah. ''Masa bodoh,
saya presiden dan harus membereskan keadaan bangsa dan negara yang
sangat memprihatinkan,'' jawab Habibie.
''Atas nama ayah saya, Prof Soemitro Djojohadikusumo dan ayah mertua
saya Presiden Soeharto, saya minta Anda memberikan saya tiga bulan untuk
tetap menguasai pasukan Kostrad,'' kata Prabowo.
Habibie menjawab dengan nada tegas, ''Tidak! Sampai matahari terbenam
Anda sudah harus menyerahkan semua pasukan kepada Pangkostrad yang baru.
Saya bersedia mengangkat Anda menjadi duta besar di mana saja!'' ''Yang
saya kehendaki adalah pasukan saya!'' jawab Prabowo. ''Ini tidak mungkin,
Prabowo,'' tegas Habibie.
Ketika perdebatan masih berlangsung seru, Habibie kemudian menuturkan
bawa Sintong masuk sembari menyatakan kepada Prabowo bahwa waktu
pertemuan sudah habis. ''Jenderal, Bapak Presiden tidak punya waktu
banyak dan harap segera meninggalkan ruangan.''
Menanggapi tulisan Habibie, ''orang dekat'' Prabowo, Fadli Zon,
mengatakan pernyataan Habibie di buku Detik-Detik yang Menentukan itu
banyak yang tidak akurat. Sebagian memang berisi fakta. Namun, sebagian
lagi berisi asumsi dan khayalannya saja.
''Saya kira banyak ngawurnya. Kalau saya lihat sebagian informasi itu
tepat, sebagian lainnya asumsi dan khayalan Habibie. Termasuk soal
pengepungan di Istana Negara yang dilakukan pasukan Kostrad. Itu sama
sekali tidak benar,'' kata Fadli Zon.
Mengapa demikian? Fadli mengatakan kalau Prabowo memang bermaksud
melakukan kudeta, maka baginya itu adalah sebuah hal yang mudah. ''Kalau
Prabowo mau melakukan kudeta, Habibie segera terguling. Dia tidak ada
apa-apanya. Justru Prabowo mendukung reformasi konstitusional. Bahwa,
kalau presiden berhenti, maka yang menggantikannya adalah wakil presiden.
Jadi isu kudeta adalah fitnah besar,'' tegas Fadli.
Adanya tulisan Habibie itu, lanjut Fadli, maka jelas dipastikan adanya
seorang yang melakukan kebohongan. Hal ini bisa dilakukan oleh Habibie
sendiri atau Wiranto. ''Yang jelas salah satu dari mereka ada yang
melakukan kebohongan. Ini fitnah besar. Buku ini dibuat dengan tidak
berpijak pada realitas,'' tandas Fadli. (muhammad subarkah ) ►TI
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|