A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  P E J A B A T
 ► Pejabat
 ► Presiden
 ► MA
 ► Bepeka
 ► MK
 ► Kabinet
 ► Departemen
 ► Badan-Lembaga
 ► Mabes TNI
 ► Mabes Polri
 ► Pemda
 ► BUMN
 ► Purnabakti
 ► Asosiasi
 ► Majalah TI
 ► Nusantara
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 29052008-22012004  
   
  ► e-ti/thc  
  Nama:
Prof. Dr.Ing. Dr. Sc.h.c. Bacharuddin Jusuf Habibie
Lahir:
Pare-Pare, 25 Juni 1936
Agama:
Islam
Jabatan :
Presiden RI Ketiga (1998-1999)
Pendiri dan Ketua Dewan Pembina The Habibie Center
Istri:
dr. Hasri Ainun Habibie (Menikah 12 Mei 1962)

 
     
 
BERITA

Habibie, Bacharuddin Jusuf

Luncurkan Buku, Saya Tidak Mundur


Jakarta, Kompas 28/9/2006- Mantan Presiden BJ Habibie mengungkapkan bahwa dia tidak pernah menyatakan mundur dari pencalonan presiden menjelang Pemilihan Umum 1999. "Saya menyatakan tidak bersedia karena saya merasa tidak memenuhi syarat," ujarnya kepada para wartawan di kantornya di Kemang, Jakarta, Rabu (27/9).


Ia mengatakan, keputusan untuk tidak mendaftarkan diri atau mencalonkan kembali menjadi presiden setelah melihat pengalamannya menjadi anggota kabinet selama 20 tahun. Katanya, presiden ditugaskan melaksanakan program yang ditetapkan MPR.


Untuk itu, lanjutnya, presiden membutuhkan anggaran yang harus disetujui oleh DPR. Ia melihat anggota DPR beraneka ragam dan sulit diprediksi karena bisa yang putih dikatakan hitam dan hitam dikatakan putih. "Maka saya tidak mau, bukan karena untuk saya, tapi yang kasihan itu rakyat," ujarnya.


Itulah, antara lain, yang mendorong Habibie pada Rabu pagi, 20 Oktober 1999, di kediamannya di Kuningan, mengumumkan untuk tidak mau dicalonkan menjadi presiden periode 1999-2004. Ia juga menunjukkan alasan yang berkaitan dengan pemungutan suara dalam sidang MPR sehari sebelumnya.


"Saya berpendapat, putra dan putri terbaik di Indonesia pun baru bisa pas-pasan menyelesaikan masalah di Indonesia, apalagi saya bukan yang the best," ujarnya.


Dalam jumpa pers mengenai bukunya yang sangat laris, Detik- detik yang Menentukan, ia juga menyatakan tidak 100 persen yang ia alami dituangkan dalam buku itu, tetapi baru sekitar 70 persen. "Yang lain belum waktunya dikeluarkan supaya tidak disalahartikan dan bisa menghalangi jalannya demokratisasi di Indonesia," ujarnya.


Ia mengatakan, buku tersebut ditulis untuk catatan bagi generasi penerus. "Supaya mereka akan lebih baik daripada Pak Habibie ini," ujarnya.


Tentang pendapat-pendapat yang menyanggah kebenaran beberapa kalimat dalam buku itu, ia mengatakan, "Saya apa adanya, orang boleh berpendapat beda."


Mengenai pendapat yang menyebutkan bahwa sebagian dari yang dituliskan dalam buku itu hanya ilusi, Habibie hanya mengatakan, "Apakah mereka itu hadir dalam peristiwa itu?"
Ia juga menyatakan penyesalannya karena pembangunan pabrik pesawat terbang yang dirintisnya tidak jalan. (OSD/JUP)

 

***

Selasa, 26 September 2006
Buku Habibie dan Senyum Sintong

''Baca sajalah buku itu. Baca saja.'' Sintong Panjaitan terus berkelit ketika dihujani pertanyaan mengenai peristiwa ''pertemuan panas'' antara BJ Habibie dan Letjen Prabowo Subianto pada Jumat siang, 22 Mei 1998.


Telah lama, publik penasaran atas teka-teki isi pertemuan kedua tokoh itu. Para jurnalis yang hadir pada peluncuran buku Detik-Detik yang Menentukan karya BJ Habibie di Hotel Gran Melia, Jakarta, Kamis malam (21/9), pun sibuk meminta keterangan Sintong perihal adanya pengepungan pasukan Kostrad di sekitar Istana Negara.


''Pak Sintong, apa benar waktu itu suasana tegang sekali?'' tanya wartawan kepada Sintong. Tapi, Sesdalopbang pada masa peralihan dari Soeharto ke Habibie itu hanya menjawab dengan senyuman. ''Sudahlah, baca saja. Di situ jelas kan,'' ujar Sintong seraya beranjak dari tempat duduknya, kendati berbagai pertanyaan terus menghujani.


Di tengah resepsi yang dihadiri sekitar 2.000 orang itu, Sintong yang menjadi ''orang dekat'' selama BJ Habibie menjabat presiden, memang menjadi bintang. Apalagi dalam buku itu dia disebut-sebut sebagai salah satu orang yang menjadi saksi pertemuan sesuai Habibie memecat Prabowo dari jabatan Pangkostrad. Apalagi kabar yang beredar sudah keburu menuduh bahwa Prabowo tidak terima atas keputusan itu. Dan, kebetulan pada bukunya, Habibie dengan jelas-jelas menuliskan isi pertemuan itu.


Dalam buku yang dipersiapkan Habibie selama setahun itu, memang terasa sekali suasana ketegangan yang melingkupi pertemuan Habibie-Prabowo. Bahkan, dalam buku setebal 549 halaman, suasana mencekam itu gamblang sekali dipaparkan oleh Habibie dengan memakan cukup banyak halaman.

 

Habibie memang mengaku bahwa niat Prabowo untuk melindunginya adalah tulus, jujur, dan tepat. Namun, kebimbangan untuk menemui salah seorang putra begawan ekonomi, Soemitro Djojohadikusumo, saat itu jelas sekali menyergap perasaannya: Apakah perlu saya bertemu? Apa gunanya bertemu? Letjen Prabowo adalah menantu Presiden Soeharto. Pak Harto baru 24 jam meletakkan jabatannya. (hal 95)


Kegamangan Habibie berlanjut hingga menjelang acara pertemuan. Menurut dia, siapa saja yang menghadap presiden tidak diperkenankan membawa senjata: Tentunya itu berlaku pula untuk Panglima Kostrad. Namun, bagaimana halnya dengan menantu Pak Harto? Apakah Prabowo akan juga diperiksa? Apakah pengawal itu berani? (hal 95).


Adanya pernyataan ini memang sedikit menguak spekulasi yang berkembang mengenai peristiwa itu. Bahkan, sempat disebut-sebut saat itu akan terjadi kudeta segala. Nah, posisi Sintong dalam hal ini menjadi penting karena dia adalah salah satu orang yang terlibat dalam pertemuan itu.


Habibie menulis, sebenarnya ia sangat dekat dengan Prabowo (alinea keempat, hal 101). Bahkan, Prabowo mengidolakan dirinya. Ia pun mengaku merasa jengah dengan desakan Prabowo yang ingin eksklusif menemuinya. Sebab, sebelumnya Habibie sudah sepakat dengan Menhankam/Pangab Wiranto bahwa setiap ada anggota ABRI yang ingin menemuinya, harus seizin atau sepengetahuan Pangab. Dan, setelah Prabowo masuk ke ruangannya dan melihatnya tanpa membawa senjata, Habibie pun merasa puas. ''Hal ini berarti pemberian 'eksklusivitas' kepada Prabowo tidak dilaksanakan lagi,'' tulis Habibie di halaman 101.


Dialog antara keduanya pun segera terjadi dan dilakukan dalam bahasa Inggris, hal (101-102): ''Ini penghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya Presiden Soeharto. Anda telah memecat saya sebagai Pangkostrad.'' Habibie menjawab, ''Anda tidak dipecat, tapi jabatan Anda diganti.'' Prabowo balik bertanya, ''Mengapa?''


Habibie kemudian menjelaskan bahwa ia menerima laporan dari Pangab bahwa ada gerakan pasukan Kostrad menuju Jakarta, Kuningan, dan Istana Negara. ''Saya bermaksud mengamankan presiden,'' kata Prabowo.


''Itu adalah tugas Pasukan Pengamanan Presiden yang bertanggung jawab langsung pada Pangab dan bukan tugas Anda,'' jawab Habibie. ''Presiden apa Anda? Anda naif?'' jawab Prabowo dengan nada marah. ''Masa bodoh, saya presiden dan harus membereskan keadaan bangsa dan negara yang sangat memprihatinkan,'' jawab Habibie.


''Atas nama ayah saya, Prof Soemitro Djojohadikusumo dan ayah mertua saya Presiden Soeharto, saya minta Anda memberikan saya tiga bulan untuk tetap menguasai pasukan Kostrad,'' kata Prabowo.


Habibie menjawab dengan nada tegas, ''Tidak! Sampai matahari terbenam Anda sudah harus menyerahkan semua pasukan kepada Pangkostrad yang baru. Saya bersedia mengangkat Anda menjadi duta besar di mana saja!'' ''Yang saya kehendaki adalah pasukan saya!'' jawab Prabowo. ''Ini tidak mungkin, Prabowo,'' tegas Habibie.


Ketika perdebatan masih berlangsung seru, Habibie kemudian menuturkan bawa Sintong masuk sembari menyatakan kepada Prabowo bahwa waktu pertemuan sudah habis. ''Jenderal, Bapak Presiden tidak punya waktu banyak dan harap segera meninggalkan ruangan.''


Menanggapi tulisan Habibie, ''orang dekat'' Prabowo, Fadli Zon, mengatakan pernyataan Habibie di buku Detik-Detik yang Menentukan itu banyak yang tidak akurat. Sebagian memang berisi fakta. Namun, sebagian lagi berisi asumsi dan khayalannya saja.


''Saya kira banyak ngawurnya. Kalau saya lihat sebagian informasi itu tepat, sebagian lainnya asumsi dan khayalan Habibie. Termasuk soal pengepungan di Istana Negara yang dilakukan pasukan Kostrad. Itu sama sekali tidak benar,'' kata Fadli Zon.


Mengapa demikian? Fadli mengatakan kalau Prabowo memang bermaksud melakukan kudeta, maka baginya itu adalah sebuah hal yang mudah. ''Kalau Prabowo mau melakukan kudeta, Habibie segera terguling. Dia tidak ada apa-apanya. Justru Prabowo mendukung reformasi konstitusional. Bahwa, kalau presiden berhenti, maka yang menggantikannya adalah wakil presiden. Jadi isu kudeta adalah fitnah besar,'' tegas Fadli.


Adanya tulisan Habibie itu, lanjut Fadli, maka jelas dipastikan adanya seorang yang melakukan kebohongan. Hal ini bisa dilakukan oleh Habibie sendiri atau Wiranto. ''Yang jelas salah satu dari mereka ada yang melakukan kebohongan. Ini fitnah besar. Buku ini dibuat dengan tidak berpijak pada realitas,'' tandas Fadli. (muhammad subarkah )  ►TI

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)