| |
C © updated 12032004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/kompas |
|
| |
Nama:
HIM Damsyik
Gelar Panggilan:
“Datuk Maringgih” dan “Datuk Dansa”
Lahir:
Teluk Betung, Lampung, 14 Maret 1929
Keluarga:
Lima anak dan 20-an cucu
Prestasi:
Juara I Lomba Dansa Ballroom di Jakarta
Peran Sinetron:
Sebagai Datuk Maringgih dalam film “Siti Nurbaya” dan Pak Wiryo
dalam “Wah… Cantiknya”, dan lain-lain film
Postur badan:
Tinggi 180 centimeter berat 55 kilogram
Pendidikan Dansa:
Selama empat tahun di Rellum Dancing School, Belanda
Milik Sekolah Dansa:
Damsyik School of Dance, Cinere, Jakarta Selatan
Jabatan:
1. Anggota Ikatan Mahasiswa Djakarta (Imada)
2.Ketua Ikatan Olahraga Dansa Indonesia (Anggota KONI), sejak 12 Juli 2002
Sumber:
Kompas, Sabtu, 29 Maret 2003, dan lain-lain
|
|
| |
|
|
|
|
HIM Damsyik
Datuk Dansa Berkelas Dunia
Dansa dan film adalah dua dunia yang berjalan linear dalam kehidupan HIM
Damsyik. Keterampilan berdansanya berkelas dunia. Kehebatannya memerankan
tokoh antagonis dalam sinetron “Siti Nurbaya” membuat namanya sangat lekat
dengan sebutan “Datuk Maringgih” dan kepiawiannya berdansa menjadikannya
memperoleh julukan “Datuk Dansa”. Dengan dansa dia meraih kesuksesan,
karier, kesehatan dan kebahagiaan. “Kalau mau bahagia dan sehat
berdansalah,” ujar lelaki ramping ini.
Piala Dunia Sepakbola tahun 1998 di Perancis membawa berkah tersendiri
buat “si Datuk Maringgih” HIM Damsyik. Lagu “La Copa de la Vida” lagu
resmi World Cup 1998 itu disenandungkan oleh Ricky Martin secara apik
dalam pakem tarian salsa yang atraktif. Lagu itu sangat populer dan
berhasil memancing minat masyarakat awam hingga elit kalangan atas pecinta
dansa untuk kembali turun ke lantai dansa sekadar bergoyang poco-poco atau
berdansa ballroom secara profesional.
Naiknya kembali popularitas dansa setelah sempat tenggelam sebab di tahun
1950-an pernah dicap sebagai produk gaya hidup imperialis oleh Partai
Komunis Indonesia (PKI) serta merta mengangkat pula kembali ke permukaan
keterampilan HIM Damsyik berdansa. Banyak orang mulai belajar serius
tentang dansa dan HIM Damsyik laku keras sebagai instruktur sebab dialah
salah satu di antarra sedikit instruktur dansa profesional berlisensi
internasioal lulusan Negeri Belanda.
Keterampilannya berdansa berkelas dunia pernah dia tampilkan pada
kesempatan kejuaraan Jakarta Open Dance Sport 2003 di The Grand Ballroom
Hotel Mulia, Jakarta, 28 Maret 2003. Damsyik di situ unjuk kebolehan
bersama 122 pasang pedansa-pedansa internasional dari berbagai penjuru
dunia yang mengikuti kejuaraan.
Lelaki ramping bertinggi badan 180 centimeter namun cukup sehat dengan
berat hanya 55 kilogram ini memang ulung sebagai jago dansa Indonesia.
Pemeran tokoh antagonis dalam sinetron “Siti Nurbaya” arahan sutradara
Irwinsyah yang disiarkan TVRI yang membuat namanya menjadi sangat lekat
dengan sebutan “Datuk Maringgih” harus mulai rela memperoleh julukan yang
lebih baru yakni “Datuk Dansa”.
Dansa dan film adalah dua dunia yang berjalan linear dalam kehidupan HIM
Damsyik. Ketika dansa mulai “mati suri” sejak tahun 1950-an akibat cap
sepihak kaum PKI sutradara tenar Wim Umboh yang biasa mengajak dia sebagai
koreografer untuk film-film menawarkannya untuk juga mencoba ikut bermain
film sebagai aktor. Jadilah ayah lima orang anak dan kakek 20-an orang
cucu ini hidup asyik. Dengan dansa dia bisa meraih kesuksesan, karier,
kesehatan, dan kebahagiaan. “Jadi, kalau mau bahagia dan sehat berdansalah,”
ujarnya dalam selera humor yang tinggi.
Lahir di Teluk Betung, Lampung, 14 Maret 1929 sejak masa kecil Damsyik
sudah banyak menghabiskan waktu dengan menari. Setiap kali ada perayaan
yang menyuruh anak-anak menari, dan suruhan menari itu biasanya pasti ada
di setiap pesta, maka Damsyik sering ikut ambil bagian. Dia akhirnya sadar
bahwa dirinya senang menari. Bersamaan itu orang yang pernah menyaksikan
ikut pula menilai bahwa Damsyik memang berbakat menari. Namun Damsyik
sendiri mengaku tidak tahu dari mana bakat menari itu berasal sebab
ayahnya yang bekerja sebagai kepala pegawai di perusahaan pelayaran
Belanda, KPM, tidak pernah menari atau berdansa.
Mahasiswa gemar dansa-dansi
Ketika hendak meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi dia hijrah ke
Jakarta namun nyatanya sambil kuliah dia masih harus bersentuhan kembali
dengan dansa. Dia mengenang di tahun 1950-an itu di Jakarta masih banyak
bermukim orang Belanda sehingga budaya dansa-dansi masih dominan sebagai
alat pergaulan termasuk di kalangan mahasiswa. Setiap malam minggu
mahasiswa pasti berkumpul dan gemar berdansa. “Di sanalah bakat berdansa
saya terasah,” ucap Damsyik yang ikut pula aktif semasa kuliah sebagai
anggota Ikatan Mahasiswa Djakarta (Imada).
Dia lantas semakin percaya diri akan bakat dansanya setelah berhasil
menyabet Juara I Lomba Dansa Ballroom di Jakarta. Ketika juara bukan hanya
merasa senang melainkan dia sendiri mengaku ikut terkejut atas
keberhasilannya. Sejak peristiwa itu dia lalu memutuskan pindah untuk
menekuni dansa secara profesional.
Keinginan menjadi pedansa profesional menuntutnya harus rela pergi belajar
lebih jauh lagi hingga ke negeri asing untuk mendalami dansa selama empat
tahun di Rellum Dancing School, Belanda. Damsyik adalah salah satu
diantara jumlah yang tidak banyak instruktur dansa Indonesia yang berhasil
mengantongi ijazah dansa berkelas internasional.
Yang pasti usai Ricky Martin berhasil mempopulerkan “La Copa de la Vida”
selain aktif bermain film sinetron jadwal HIM Damsyik menjadi semakin
padat setelah ditambah aktivitas dansa. Praktis tiada hari tanpa diisi
mengajar dansa di kelas-kelas dansa profesional yang tersebar di banyak
tempat di Jakarta. Jadwal itu belum termasuk mengajar peserta kursus yang
minta diajar secara privat, atau kesibukan lain menjadi juri di berbagai
lomba dansa yang marak diselenggarakan. Namun jadwal yang tetap adalah di
bilangan Cinere Jakarta Selatan tempat Damsyik membuka sendiri sekaligus
memimpin sebuah sekolah dansa bernama Damsyik School of Dance. Banyak
murid dansa yang dia latih kini kerapkali memenuhi kafe, club house, atau
hotel yang menyediakan tempat untuk berdansa
Damsyik menjelaskan secara umum dansa dibagi dua jenis modern ballroom dan
Latin American Dancing. Modern ballroom bisa dibagi menjadi lima kategori
yakni waltz, tango, blouse, quick step, dan slow foxfort. Sedangkan Latin
American Dancing terbagi menjadi rumba, falcaca, samba, paso doble, dan
jive.
Waltz sebenarnya masih terbagi dua yakni vienna waltz dan english waltz.
Perbedaannya vienna waltz gerakannya lebih cepat dan lincah namun tidak
begitu digemari oleh orang Inggris. Orang Infggris lebih senang yang
lembut dan tidak begitu melelahkan sehingga lahirlah yang namanya english
waltz.
Usia sudah berkepala tujuh kakek 20-an cucu pula namun dia tetap fit dan
lentur berdansa sekaligus gairah main film. Aktivitas dia sejak pagi hari
hingga larut malam dia jalani tanpa keluhan berarti. Pemeran Pak Wiryo
dalam sinetron “Wah… Cantiknya” bersama aktris Tamara Blezinsky dan
Anjasmara ini punya resep menerapkan pola hidup sehat. Hidup terasa sehat
tak membbuatnya lupa untuk selalu melakukan tes kesehatan enam bulan
sekali dan hasilnya selalu bagus.
Disebutkannya dansa bisa membentuk tubuh sehingga tulang-tulang terlatih
dengan baik dan membantunya untuk selalu tampil prima dalam setiap
kegiatan. Bahkan dia sanggup berdansa hingga berjam-jam sebab jika
tersedia kesempatan dia akan selalu berdansa. Karena masih kuat berdansa
tubuhnya yang kurus tidak pernah tampak kelelahan. Dansa membuat tubuh dia
selalu sehat tidak mudah sakit dan terutama perutnya belum pernah buncit.
Seabrek kegiatan harus dia lakoni tiap hari. Misalnya, pagi-pagi sekali
sudah harus ke Indosiar lalu siangnya mengajar dansa privat di Pondok
Indah. Setelah itu syuting sinetron. Dalam setiap kesempatan perjalanan ke
luar kota masih sering dia lakukan dengan menyetir sendiri. Bagi dia hari
Sabtu Minggu betul-betul dia manfaatkan beristirahat sebagai hari keluarga
berkumpul.
Tubuh boleh tampak amat kurus dan jangkung dengan postur tinggi 180 cm dan
berat hanya 55 kg namun dengan pola hidup sehat dan dibantu olahraga dansa
kesan rentan terhadap penyakit selalu tertepis. Dia mampu melindungi diri
dari penyakit yang biasa diidap manusia lanjut usia. Tidak mengherankan
jika sebuah perusahaan minuman suplemen kesehatan mempercayakan lelaki
kurus jangkung ini sebagai bintang iklan obat perkasa ala pria di televisi
dan media cetak.
Dia menyebutkan saat sarapan biasa menyantap susu dan sereal atau roti
berlapis keju ditambah buah-buahan dan air putih. Sesendok madu dan
vitamin penambah darah ikut pula dia konsumsi selalu. Dia tak punya
pantangan makanan apa pun kecuali sayur mayur sebuah kategori makanan
sehat namun kurang dia sukai. Sebagai gantinya Damsyik memperbanyak
konsumsi buah karena itu isterinya selalu membekali dia sebuah cool box
berisi buah-buahan segar dan sebotol air putih sebelum berangkat ke lokasi
syuting.
Sebagai tokoh dansa kontemporer Indonesia dia mulai merasa senang dan
bersyukur karena dua hal. Pertama dia merasa senang karena Piala Dunia
1998 telah memicu perkembangan dansa menjadi sangat pesat di Indonesia.
Dansa yang semula tidur nyenyak kembali bangun. Ketika di tahun 1950-an
kekuasaan PKI agak dominan dansa dianggap sebagai kebudayaan Barat yang
harus dilarang keras. Larangan itu sempat membuat Damsyik merasa takut
namun dia tetap tekun berlatih sendiri dan kalau ada kesempatan dia akan
selalu manfaatkan untuk berdansa.
Kedua dia bersyukur karena dansa yang menuntut seluruh tubuh bergerak itu
sama definisinya dengan olahraga. Karena itu dansa lantas diterima dan
diakui sebagai olahraga oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).
Ikatan Olahraga Dansa Indonesia kemudian dibentuk bernaung di bawah
keanggotaan KONI dan HIM Damsyik sejak 12 Juli 2002 adalah ketua umum
pertama yang dipercaya.
HIM Damsyik bertutur kekuatan dansa terletak pada fungsi sosial yang mampu
membuat lelaki maupun perempuan dari semua latar belakang dapat berbaur
bersosialisasi dan bergembira bersama. Dansa menjadi alat yang perlu untuk
menjalin pergaulan bahkan dipercaya sebagai alat diplomasi yang ampuh
sebagaimana pernah ditunjukkan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri yang
berdansa dengan (mantan) Presiden RRC Jiang Zemin tahun 2002 lalu.
Keduanya di Beijing ketika itu melakukan dansa jenis modern ballroom. ►ht, dari berbagai sumber
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|