| |
C © updated
04042004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama:
Abdurrahman Wahid
Lahir:
Denanyar, Jombang, Jawa Timur, 4 Agustus 1940.
Orang Tua:
Wahid Hasyim (ayah), Solechah (ibu).
Istri :
Sinta Nuriyah
Anak-anak :
Alisa Qotrunada Zannuba Arifah Anisa Hayatunufus Inayah Wulandari
Pendidikan :
• Pesantren Tambak Beras, Jombang (1959-1963)
• Departemen Studi Islam dan Arab Tingkat Tinggi, Universitas Al-Azhar,
Kairo, Mesir (1964-1966)
• Fakultas Surat-surat Universitas Bagdad (1966-1970)
Karir
• Pengajar Pesantren Pengajar dan Dekan Universitas Hasyim Ashari
Fakultas Ushuludin (sebuah cabang teologi menyangkut hukum dan filosofi)
• Ketua Balai Seni Jakarta (1983-1985)
• Penemu Pesantren Ciganjur (1984-sekarang)
• Ketua Umum Nahdatul Ulama (1984-1999)
• Ketua Forum Demokrasi (1990)
• Ketua Konferensi Agama dan Perdamaian Sedunia (1994)
• Anggota MPR (1999)
• Presiden Republik Indonesia (20 Oktober 1999-24 Juli 2001)
Penghargaan
• Penghargaan Magsaysay dari Pemerintah Filipina atas usahanya
mengembangkan hubungan antar-agama di Indonesia (1993)
• Penghargaan Dakwah Islam dari pemerintah Mesir (1991)
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI: 01 02 03 04 ==
KH Abdurrahman Wahid (02)
King Maker Pemilu Presiden
Mantan Presiden RI ke-4 (20 Oktober 1999-24 Juli 2001), ini diperkirakan
bakal menjadi King Maker Pemilihan Presiden Pemilu 2004. Kendati namanya
masih masuk dalam nominasi calon presiden Pemilu 2004 dan mendapat
dukungan dari beberapa kyai serta sebagai satu-satunya calon presiden dari
PKB, namun diperkirakan ia tidak akan dicalonkan atau mencalonkan diri
secara resmi.
Tokoh yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur, diperkirakan akan
sangat berpengaruh dalam menentukan koalisi pasangan calon presiden dan
wakil presiden yang akan ramai selepas Pemilu Legislatif 5 April 2004.
Apalagi Ketua Dewan Syuro Partai kebangkitan Bangsa (PKB), ini telah
diberi pula mandat untuk memilih siapa penggantinya jika ia tidak
mencalonkan diri oleh suatu sebab.
Pernyataan-pernyataannya selalu menarik dan sering kali mengundang
kontroversi. Hal ini pula yang menjadi kekuatan sekaligus kelemahan tokoh
yang dikenal pembela kebenaran ini.
Bahkan saat ia menjabat presiden, belum satu bulan, mantan Ketua Umum
Nahdlatul Ulama (1984-1999) ini sudah mencetuskan pendapat yang memerahkan
kuping sebagian besar anggota DPR. Di hadapan sidang lembaga legislatif,
yang anggotanya segaligus sebagai anggota MPR, yang baru saja memilihnya
itu, Gus Dur menyebut para anggota legislatif itu seperti anak Taman
Kanak-Kanak. Tak lama kemudian, ia pun menyatakan akan membuka hubungan
dagang dengan Israel, negara yang dibenci banyak orang di Indonesia.
Pernyataan ini mengundang reaksi keras dari beberapa komponen Islam.
Berselang beberapa waktu, ia pun memecat beberapa anggota Kabinet
Persatuannya, termasuk Hamzah Haz (Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan).
Tindakan penggantian menteri ini berpuncak pada penggantian Laksamana
Sukardi (PDIP-pemenang Pemilu 1999) dari Jabatan Meneg BUMN dan Jusuf
Kalla (Golkar-pemenang kedua Pemilu 1999) dari jabatan Menperindag, tanpa
sepengetahu-an Wapres Megawati dan Ketua DPP Golkar Akbar Tandjung.
Lalu terkuaklah kasus Buloggate dan Bruneigate. Gus Dur diduga terlibat.
Kasus ini membuahkan memorandum DPR. Setelah Memorandum II tak digubris
Gus Dur, akhirnya DPR meminta MPR agar menggelar Sidang Istimewa (SI)
untuk meminta pertanggungjawaban presiden. Gus Dur, akhirnya kehilangan
jabatannya sebagai presiden keempat setelah ia menolak memberikan
pertanggung-jawaban dalam SI MPR itu dan bahkan mengeluarkan dekrit,
antara lain berisi pembubaran MPR. Akhirnya MPR mengangkat Wapres Megawati
menjadi presiden pada 24 Juli 2001.
Gus Dur dilahirkan 4 Agustus 1940 di Denanyar, Jombang, Jawa Timur,
keluarga Muslim berpengaruh di Indonesia. Ayahnya, Wahid Hasyim, adalah
mantan Menteri Agama pada 1945. Kakeknya, Hasyim Ashari, adalah satu dari
pemimpin Muslim terbesar pada pergantian abad 2000 lalu. Gus Dur mengikuti
tradisi keluarga dengan belajar di banyak pesantren. Nama Gus Dur diambil
dari tradisi di daerahnya, dimana penduduk setempat menyebut seorang putra
dari keluarga elit dengan sebutan ‘Gus’.
Ia juga sempat mempelajari sastra dan ilmu sosial di Fakultas Sastra
Universitas Baghdad, Irak. Hari-hari kuliahnya bersamaan dengan timbulnya
kekuasaan partai Baath, partai sosialisnya Saddam Hussein, yang menarik
banyak pengikut. Dengan latar belakang ini, ia juga sempat digosipkan
sebagai ‘sosok berbau kiri’ pada masa Orba.
Dari Baghdad, ia kembali ke Indonesia 1974 dan mulai berkarir sebagai
‘cendekiawan’ dengan menulis sejumlah kolom di berbagai media massa
nasional. Pada akhir dasawarsa 70-an, suami dari Sinta Nuriyah, ini sudah
berhasil mengukuhkan diri sebagai satu dari banyak cendekiawan Indonesia
yang paling terkenal dan laris pula sebagai pembicara publik.
Nama Gus Dur makin mencuat setelah terpilih sebagai ketua umum PBNU, dalam
Muktamar NU di Situbondo tahun 1984. Saat itu hubungan NU dengan
pemerintah sedang mesra-mesranya. Kendati dalam perjalanan selanjutnya,
Gus Dur tak selalu berkompromi dengan pemerintah. Misalnya, ketika
pemerintah berencana mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di
Muria, Gus Dur menentangnya. Demikian pula ketika Habibie mendirikan ICMI,
Gus Dur mengadakan perlawanan dengan mendirikan Forum Demokrasi.
Salah satu kiprah Gus Dur yang paling menonjol saat memimpin NU, adalah
ketika ia membawa organisasi itu kembali ke khittahnya, keluar dari
politik praktis pada 1984. Setelah tidak lagi menjabat presiden, Gus Dur
kembali ke kehidupannya semula. Kendati sudah menjadi partisan, dalam
kapasitasnya sebagai deklarator dan Ketua Dewan Syuro PKB, ia berupaya
kembali muncul sebagai Bapak Bangsa. Seperti sosoknya sebelum menjabat
presiden.
Sebelumnya, Gus Dur adalah Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU), organisasi
Islam terbesar di Indonesia dengan anggota sekitar 38 juta orang. Namun ia
bukanlah orang yang sektarian. Ia seorang negarawan. Tak jarang ia
menentang siapa saja bahkan massa pendukungnya sendiri dalam menyatakan
suatu kebenaran. Ia seorang tokoh muslim yang berjiwa kebangsaan.
Gus Dur sering berbicara keras menentang politik keagamaan sektarian.
Pendiriannya sering menempatkannya pada posisi sulit, melawan pemimpin
Islam lainnya di Indonesia. Seperti saat didirikannya Ikatan Cendekiawan
Muslim Indonesia (ICMI), yang diketuai BJ Habibie, Gus Dur secara terbuka
menentang. Ia menyebut ICMI akan menimbulkan masalah bangsa di kemudian
hari, yang dalam tempo kurang dari sepuluh tahun ternyata pernyataannya
itu bisa dibuktikan benar atau tidak. Lalu, ia mendirikan Forum Demokrasi
sebagai penyeimbang ICMI.
Meski diakui ia besar antara lain karena NU, visi politiknya diyakini
rekan-rekan dekatnya, melebihi kepentingan organisasi tersebut, bahkan
kadang melampaui kepentingan Indonesia. Hal ini tercermin dari
kesediaannya menerima kedudukan di Shimon Peres Peace Center dan saat dia
mengusulkan membuka hubungan dengan Israel.
Di masa Orba, saat Soeharto berkuasa, Gus Dur dikenal sebagai salah
seorang tokoh yang licin untuk dikuasai. Bahkan ia dapat memanfaatkan
Keluarga Cendana dengan mengajak Mbak Tutut berkeliling pondok-pondok
pesantren. Gus Dur juga beberapa kali mengunjungi Pak Harto setelah
lengser. ►tsl - Majalah Tokoh Indonesia Volume 09
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|